Salat Jumat Pertama di Pengungsian Gempa Lombok


Penulis: Haufan Hasyim Salengke - 10 August 2018, 18:45 WIB
MI/RAMDANI
MI/RAMDANI

DENGAN tertatih-tatih, seorang kakek berpakaian putih dan bersorban terus melangkah ke area tengah sebuah lapangan di Dusun Manggala, Pemenang Barat, Pemenang, Lombok Utara, Jumat (10/8). Kakinya cedera sehingga ia harus menggunakan tongkat untuk menopang tubuhnya.

Di lapangan, telah berkumpul laki-laki tua, muda, dan anak-anak yang duduk bersila di bawah teriknya sinar matahari untuk menunaikan ibadah salat Jumat. Ada juga yang memilih berdiri sembari menyimak khutbah Jumat yang disampaikan khatib hanya dalam waktu lima menit.

Hal itu tampaknya untuk menyesuaikan dengan kondisi pengungsi dan prosesi salat yang dilaksanakan tanpa naungan atap atau tenda

"Ini cobaan. Kita semua harus bersemangat dan bangkit," kata khatib salat Jumat.

Suasana itu menjadi gambaran salat Jumat pertama warga korban gempa Lombok di tempat pengungsian. Guncangan gempa berkekuatan 7 SR, Minggu (5/8) lalu, menghancurkan sedikitnya 22.721 rumah, sebagian besar di Lombok Utara.

Salah satu warga di pusat pengungsian, Gunawan, mengatakan kehidupan harus tetap berjalan meski sedang dalam ujian berat. Musibah, lanjut Gunawan, menjadi pengingat untuk introspeksi diri.

"Ya begini sudah keadaannya. Akan panjang masa pemulihannya, membangun kembali tidak mudah juga, jadi kita jalani saja yang kita alami dan instropeksi," tuturnya.

Dengan segala keterbatasan di lokasi pengungsian, Gunawan bersyukur karena bantuan dari masyarakat terus berdatangan. Termasuk masih bisa makan minimal dua kali sehari.

"Dari mana-mana, orang yang peduli. Soal makanan tidak ada keluhan, air minum juga terpenuhi. Untuk mandi bisa di kali," jelasnya.

Warga lainnya, Hamka, menunaikan salat Jumat di Dusun Karang Pangsor, Pemenang. Di sana, ada yang salat di aspal jalan. Isi khutbahnya tidak terkait tentang bencana atau musibah.

"Sebisa mungkin jangan membahas tentang gempa terus agar orang tidak trauma," kata Hamka.

Menurutnya, dalam masa tanggap darurat, warga pengungsi sangat membutuhkan tenda semipermanen yang bisa ditinggali dengan layak hingga beberapa bulan ke depan.

Gempa juga membawa trauma bagi warga di Ibu Kota Mataram. Banyak yang tidak berani tidur di dalam rumah, memilih bermalam di emperan atau halaman rumah mereka. Sementara itu, jejeran tenda berdiri di lapangan maupun area berkumpul di Ibu Kota Lombok.

"Goyangan gempa (terasa) besar juga di Mataram. Khawatir juga warga banyak yang memilih gelar tikar di depan rumah," ujar Hermansyah, 33.(OL-6)

BERITA TERKAIT