Ketegangan dari Si Pria Ramping


Penulis: Ardi Teristi Hardi - 10 August 2018, 18:30 WIB
Ist
Ist


DUNIA daring tidak selamanya berpengaruh positif. Terkadang membawa efek negatif. Seperti yang dialami empat remaja di desa kecil di Massachusetts, Amerika Serikat. Wren (Joey King), Hallie (Julia Goldani Telles), Katie (Annalise Basso), and Chloe (Jaz Sinclair) tergoda untuk mencoba permainan Slender Man di melalui internet.

Empat gadis SMA itu melakukan ritual untuk membuktikan mitos dari Slender man. Setelah salah satu gadis di antara mereka hilang, ketiganya mulai curiga keberadaan makhluk ini adalah nyata. Setelah itu, adegan-adegan misterius pun bermunculan.

Tidak ada yang luar biasa tentang mereka yang membuat film ini menarik, sehingga sulit untuk berempati dengan mereka ketika semua isi neraka keluar. Tidak seperti The Losers' Club dari Stephen Kings's IT atau gang dari Stranger Things, yang tidak mudah dilupakan.

Selain itu ada masalah tentang komentar Slender Man dari masyarakat yang tidak pernah dipahami. Pasalnya mahluk tituler ini manifesto dari internet, orang akan berpikir film ini menawarkan wawasan tentang bagaimana media sosial mampu menciptakan mahluk mengerikan itu. Tapi ceritanya tidak pernah ke arah sana.

Ada saat ketika para gadis itu berada di chat room dan ada pesan bagaimana cara mengalahkannya. Tapi semua tidak autentik dan ketinggalan zaman. Situs yang mereka kerap lihat seperti film The Net (1995) yang diperankan Sandra Bullock, dibandingkan desain modern seperti Facebook, Twitter, atau Instagram.

Film yang dilabeli 13+ ini masuk dalam genre horor. Bila dibandingkan dengan film horor Indonesia pada umumnya, film barat memang terasa berbeda, terutama dalam Slender Man. Terlebih Slender Man adalah horor kekinian, yang juga memanfaatkan media internet dan gawai.

Perbedaan pertama, jika film horor Indonesia pada umumnya yang sering memasukkan unsur religi, di film Slanderman tidak ada unsur religi untuk mengungkap misteri yang terjadi. Bahkan, salah satu tokoh mencoba mengungkap fenomena yang terjadi dari sisi saintifik.


"Dia masuk ke kepalamu..., seperti virus," kata Wren yang mencoba melogiskan misteri Slender Man, seperti terdapat dalam cuplikan film tersebut di youtube.


Selain itu, perwujudan sosok horor dalam Slender Man berbeda dengan sosok horor dalam film-film horor Indonesia. Jika di film-film horor di Indonesia sosok horornya selalu digambarkan buruk rupa dan berpenampilan lusuh, Slender Man digambarkan tidak berwajah, berbadan kurus, mengenakan jas, dan memiliki bagian tubuh yang seperti tentakel.
Di balik plus dan minus film ini, alur cerita dan ketegangan-ketegangan yang dihadirkan Slander Man cukup bisa dinikmati. (M-3)

BERITA TERKAIT