Arrington de Dyoniso, Menciptakan 'Kekacauan' dengan Instrumen Musik Indonesia


Penulis: Fathurrozak - 09 August 2018, 17:25 WIB
MI/ Fathurrozak
MI/ Fathurrozak

BUNYI dari instrumen berbentuk panjang melengkung itu meriung-riung di antara genderam drum, dan tetabuhan perkusi. Sesekali, ada pula hentak ritmik nada yang muncul dari rangkaian cangkang Keluwak.

Arrington de Dyoniso meniup instrumen panjang tadi sambil mengelilingi penonton. Terlihat bahwa instrumen itu dibuat dari rangkaian paralon. De Dyoniso mengaku membuatnya sendiri dan dinamainya klarinet pipa. Bersamanya tampil pula pemain perkusi Kaunang Jiva dan penggebuk drum-penabuh kendang Dzulfikri Putra Malawi. Dalam penampilan di Paviliun 28, Rabu (8/8/2018) malam itu mereka berkolaborasi membawakan dua lagu.

Nama Arrington de Dyoniso mungkin asing bagi masyarakat awam, namun tidak bagi pecinta musik eksperimental. Pria asal Washington, Amerika Serikat ini sudah menekuni musik art punk dan eksperimental sejak era 90-an. Sementara soal eksplorasinya di musik Indonesia, de Dyoniso telah menghasilkan tiga album berbahasa Indonesia.

Terkait penampilan malam itu de Dyoniso mengungkapkan jika mereka menonjolkan improvisasi langsung. Tidak ada latihan sebelumnya.

De Dyoniso yang juga akan tampil di Malang, Banyuwangi, Surabaya, dan Makassar mengaku mengenal instrumen musik tradisional Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Ia pertama berkenalan dengan seruling asal Sulawesi dan kemudian ketika kuliah belajar memainkan gamelan.

"Saya besar dengan punk culture, juga musik mainstream barat. Saya ingin keluar dari situ. Musik barat ya hanya untuk barat skalanya, seperti nada, intonasinya. Jadi ketika saya ingin keluar dari situ, saya bisa menciptakan suatu kekacauan, atau semacam sesuatu yang baru dalam bermusik saya. Seperti misal di Indonesia, ada pelog, slendro. Ketika belajar intonasi yang berbeda, maka saya penasaran dan harus mencoba banyak instrumen," lanjut mantan punggawa band Old Time Relijun ini.

De Dyoniso merasa tidak ada pesan spesifik dalam bermusiknya. Baginya, kolaborasi dengan kedua musisi di Jakarta ini merupakan respons dari konsep yang ia percayai, bahwa musik merupakan obat bagi manusia yang sedang terluka.

"Pada masanya dulu, zaman purbakala, musik itu sebagai healing. Saya merasa dunia, society kita ini sedang sakit, dan musik bisa menyembuhkannya" pungkas pria yang menutup pentas musiknya dengan memainkan Karinding besi dari Siberia. (M-2)

BERITA TERKAIT