Kemenkes Minta Calon Jamaah Haji Antisipasi Serangan Panas di Tanah Suci


Penulis: Indriyani Astuti - 14 July 2018, 16:20 WIB
img
ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

PENYAKIT yang paling dikhawatirkan pada pelaksanaan haji 2018 ialah heatstroke (serangan panas). Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Eka Jusup Singka menuturkan penyakit tersebut kemungkinan terjadi pada jamaah haji karena suhu yang tinggi di Arab Saudi.

“Prediksi yang kita khawatirkan adalah heatstroke. Stroke akibat panas. Cuaca panas tahun lalu 53 derajat Celsius. Tahun ini kemungkinan sama,” kata Eka melalui siaran pers, Jumat (13/7).

Selain itu, penyakit yang paling banyak pada pelaksanaan haji tahun lalu ialah batuk-batuk, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), flu dengan pasien rawat jalan.

"Ada pula pasien rawat inap dengan kebanyakan penyakit gangguan pernapasan seperti pneumonia. Sementara untuk penyakit penyebab kematian adalah jantung dan ISPA," tuturnya.

Eka mengatakan, tim Kemenkes akan mewaspadai penyakit-penyakit tersebut. Pihaknya menyediakan 70 ton obat.

“Kemenkes bawa 70 ton semua obat-obatan yang dibutuhkan oleh jemaah haji. Semua penyakit-penyakit kita bawa obatnya, kita punya,” katanya.

Dari 70 ton obat itu, yang paling banyak adalah obat-obat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), obat batuk, flu, jantung, hipertensi, termasuk obat-obat untuk pengganti cairan karena suhu di sana panas.

Tenaga kesehatan seperti  dokter umum, dokter spesialis, dan tim kesehatan juga berjaga selama penyelenggaraan ibadah haji. Ada lima orang dokter jantung, enam orang dokter jiwa, enam orang dokter paru, satu dokter spesialis penerbangan, dua orang dokter bedah, dua orang anestesi, dan dokter umum, ditambah tim promotif, preventif, dan tim gerak cepat.

Penyakit lain yang diwaspadai yaitu Mers-CoV yang penularannya melalui unta. Bagi jemaah haji yang sakit, Kemenkes telah mengaturnya melalui kerja sama antara ketua regu, dan ketua rombongan. Satu regu terdiri dari 10 orang. Ketua regu, tambah Eka, dimanfaatkan menjadi agen kesehatan supaya bisa menasehati jemaah agar menjaga kesehetan dan memahami kondisi tubuhnya masing-masing.

Eka menjelaskan Kemenkes hanya bisa melakukan upaya-upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Diharapkan ketika pelaksanaannya di sana tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Terlebih saat ini jemaah haji kebanyakan manula berusia 50 tahun ke atas, lebih dari 70%, mereka diharapkan dapat mengenali sendiri kondisinya.

“Kita sama-sama bekerja keras bagaimana melayani dengan baik. Jadi (kepada jemah haji) jangan melakukan kegiatan yang tidak penting jadi fokus saja ibadah,” tegas Eka. (OL-3)

BERITA TERKAIT