Polisi Cek Kesesuaian Anggaran dengan Bangunan Fisik kasus Korupsi Rehab Sekolah


Penulis: Akmal Fauzi - 14 July 2018, 16:10 WIB
img
Ilustrasi

DIREKTORAT Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya masih menyelidiki kasus dugaan korupsi proyek rehabilitasi 119 sekolah di Jakarta. Polisi akan melihat kesesuaian antara anggaran dengan bangunan fisik dalam rencana kerja rehab sekolah.

Proyek senilai Rp191 miliar itu diduga di mark up dalam pelaksanaannya. Indikasi itu ditemukan Inspektorat Pemprov DKI Jakarta dan dilaporkan kepada polisi.

"Nanti kami lihat fisiknya. Apakah fisiknya sesuai dengan rencana kerja, konsultan pengawasnya bekerja atau tidak. Kemudian dari pekerjaan konstruksi,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Adi Deriyan Jayamarta, Sabtu (14/7)

Sejauh ini, kata Adi, ia belum dapat menghitung potensi kerugian dari korupsi tersebut.

“Itu nanti ahli yang akan menghitung bahwa bener konstruksinya,” kata Adi

Adi menjelaskan untuk mendalami indikasi korupsi, penyidik juga akan melihat pelaksanaan pengawasan terhadap proyek yang dianggarkan pada APBD 2017 itu.

Untuk itu, pihaknya akan meminta keterangan berbagai pihak baik dari Dinas Pendidikan, kepala sekolah hingga pelaksana proyek sebagai pemenang lelang.

“Karena kan gini usulan itu dimasukan, biaya rehab itu pasti melalui unit kerja, unit kerja ini adalah unit kerja di masing-masing sudin. Itu dimasukkan dalam usulan kerja kemudian ditindaklanjti proses di dalam RAPBD. Kemudian diuji oleh tim anggaran. Kebutuhannya diperlukan, kemudian dimasukkan ke dalam mata anggaran,” jelas Adi.

Proyek rehabilitasi berat 119 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA bermasalah dan diduga terjadi tindak pidana korupsi. Rehab berat yang dimaksud yakni perbaikan sekolah pada bagian pagar, plafon, kusen, dan lainnya. Rehab tersebut dianggarkan di setiap masing-masing Suku Dinas Pendidikan.

Selain kepolisian, pihak Inpektorat DKI Jakarta juga tengah menyelidiki kasus ini. Inspektorat DKI saat ini tengah melaksanakan audit menyeluruh terhadap proyek tersebut.

Bahkan, berdasarkan audit ditemukan kejanggalan seperti pada proses pengadaan dan pembangunan. 

“Dari hasil audit terkait kasus dugaan korupsi pada sekolah yang direhabilitasi, ditemukan adanya kejanggalan,” ujar Kepala Inspektorat DKI Jakarta Michael Rolandi.

Michael mengungkapkan, hasil pekerjaan rehab itu ada yang berbeda dengan kontrak. Adapun temuan tersebut didapat jajarannya di 36 sekolah yang diaudit Inspektorat DKI selama beberapa hari terakhir

"Ada yang belum cocok, ada yang belum sesuai," ungkapnya. 

Ia enggan membeberkan detil ihwal ketidaksesuaian yang dimaksud sebelum audit menyeluruh selesai. (OL-3)

BERITA TERKAIT