Humas Harus Berperan Tangkal Hoaks


Penulis: Insi Nantika Jelita - 14 July 2018, 09:30 WIB
img
ANTARA/Rahmad

SUASANA menjelang Pilpres sudah semakin memanas. Media turut berperan memberitakan berbagai macam isu mengenai Pilpres dan isu lain.

Informasi hoaks pun bertebaran di media sosial. Peran humas sangat penting untuk mengantisipasi penyebaran hoaks yang dibuat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Karo Muliltimedia Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rikwanto  mengungkapkan semua humas memiliki motif komunikasi begitu juga dengan tokoh-tokoh politik dan mereka yang menyebarkan hoax.

Di era media sosial, komunikasi mengarah pada motif propaganda dan hoak menjadi salah satu alat propaganda politik. Penyebar hoaks ada bermacam-macam, ada yang agresif dan juga soft. Hoaks didesain untuk sebuah kepentingan atau menyebar kebencian.

"Humas perlu kode etik profesi untuk menghadapi tahun politik ini agar tidak banyak praktisi kehumasan yang menjadi spin doctor atau tukang pelintir isu yang dapat berpotensi menciptakan fake news atau hoaks," ungkap Rikwanto dalam pertemuan Perhumas di Gedung CIMB Niaga Sudirman, Jakarta, Jumat (13/7).

Dalam kesempatan yang sama, Managing Director of Nexus Risk Mitigation and Strategic Communications Firsan Nova mengungkapkan posisi humas dalam isu politik berada di posisi sentral. Sementara itu, etika Humas dan realitas biasanya saling tumpang tindih. Menjalani kerja atas kepentingan atau mengutamakan etika profesi selalu menjadi perdebatan dalam hati nurani.

"Pada tahun politik, banyak yang menjadi tukang stempel atau menyerang dengan label negatif. Fokus pada publik interest menjadi kunci keberhasilan dalam menangani isu." ujarnya

Intinya, imbuh Firsan, Humas harus memegang teguh kejujuran dan saling berkolaborasi dengan semua pihak serta menjaga netralitas dalam bekerja demi kebaikan bangsa Indonesia. (OL-2)

BERITA TERKAIT