Parkir Bus


Penulis: Anton Kustedja Wartawan Media Indonesia - 14 July 2018, 07:59 WIB
img
Dok Pribadi

JIKA bicara soal bus, saya jadi teringat masa-masa menggunakan moda transportasi massal itu di Kota Metropolitan pada awal 1990-an. Dulu naik bus masih terasa mengasyikkan meski kita tak kebagian tempat duduk. Jalanan yang belum semacet sekarang membuat jarak tempuh dari Terminal Kampung Melayu menuju Slipi dengan naik P213 pun terasa lebih cepat daripada kita naik bus reguler zaman now.

Walau bukan rahasia lagi banyak kawanan pencopet bergentayangan yang menyaru menjadi penumpang dan sering kali mereka turun dari bus itu di kawasan Benhil, saya pun tak cemas. Selain berhati-hati mengantisipasi keadaan sekitar, saya selalu ingat pesan kawan untuk menaruh dompet di kantong bagian depan celana atau memutar posisi dompet agar tak mudah dirogoh dari saku belakang.

Di era 1990-an, bagi saya, naik bus juga terasa menantang. Dulu, karena lalu lintas tak begitu padat seperti sekarang--kalau tak mau dibilang matot alias macet total--turun dari bus pun sampai-sampai harus diarahkan kernet atau kondektur agar kita mendahulukan kaki kiri. Pasalnya, jarang sekali bus kota yang benar-benar mau berhenti untuk menurunkan penumpang.

Itu pula yang kerap saya jadikan ajang taruhan dengan teman-teman sekolah, siapa berani turun dari bus dengan kaki kanan lebih dulu menyentuh aspal. Ujung-ujungnya, yang menang taruhan tetap saja menjadi bahan tertawaan karena terpelanting di pinggir jalan. Itu dulu. Sekarang saya malas naik bus meski sudah ada yang menggunakan jalur khusus.

Pendapat saya, bus reguler sudah pasti lelet dan telat sampai tujuan kalau kita mengejar waktu. Bus khusus yang telah menjanjikan kenyamanan juga tak benar-benar steril karena jalurnya dirampas banyak pengguna jalan raya yang kurang wawasan dan minim kesadaran. Belum lagi, aksi pejabat arogan yang tak jarang berlagak seperti koboi.

Lantas, bus kini malah diseret-seret dalam dunia sepak bola. Parkir bus jadi istilah yang sering kita dengar beberapa tahun belakangan. Istilah itu sepertinya diperuntukkan kesebelasan yang bermain dengan strategi negatif alias bertahan. Padahal, tim itu tidak menahan serangan lawan dengan benar-benar membuat formasi berbentuk bus, apalagi menaruh bus tingkat, di depan gawang mereka. Lalu, apa salahnya bus? Kenapa pula memakai kata bus?

Seingat saya, Jose Mourinho ialah orang pertama yang melahirkan istilah itu menjadi populer hingga sekarang. Pelatih asal Portugal tersebut membuat kosakata baru setelah timnya, Chelsea, ditahan imbang 0-0 oleh Tottenham Hotspur di Stamford Bridge, 19 September 2004.

"Apa saya bilang. Mereka (Spurs) membawa bus dan meninggalkan bus tersebut di depan gawang," katanya. Mourinho menganalogikan strategi Tottenham itu layaknya bus yang parkir atau ngetem di pinggir jalan.

"Jika saya suporter yang membayar 50 pound (sekitar Rp953 ribu kalau dikonversikan ke rupiah saat ini), tentu saya sangat kecewa menyaksikan pertandingan karena Spurs datang hanya untuk bertahan. Saya sangat frustrasi karena hanya ada satu tim yang mengincar kemenangan dan mereka datang hanya untuk tidak kebobolan. Jelas tak adil buat sepak bola."

Sejak itu istilah parkir bus kerap digunakan untuk menyindir kesebelasan yang memilih bertahan secara berlebihan atau ultradefensive.

Ucapan Mourinho juga terasa ironis karena dialah pelatih yang sangat identik dengan label parkir bus sesungguhnya. Bukankah dia juga yang akhirnya membuat para pemain Barcelona putus asa menembus pertahanan Inter Milan pada semifinal Liga Champions 2009/2010?

Uniknya, dalam sepak bola, bertahan memang menjadi salah satu cara untuk meraih hasil positif. Dalam sistem home and away seperti di fase gugur sebuah turnamen, sebuah tim bisa saja bermain negatif agar lolos.

Pilihan bertahan juga didukung sejumlah alasan lantaran lawan lebih kuat secara individu atau beberapa pemain inti tim tersebut cedera.

Menurut saya, kesalahan Jepang saat disingkirkan Belgia 2-3 di perdelapan final, pasukan Samurai Biru tidak cepat-cepat 'memarkir bus' setelah unggul dua gol. Kalau saja itu dilakukan, bisa jadi mereka satu-satunya wakil Asia yang masih bertahan.

Masalahnya, strategi bertahan juga harus ditopang keahlian, tidak bisa sembarangan. Tim itu harus kompak menutup celah pertahanan, punya kekuatan atau daya tahan, serta kesabaran yang tinggi untuk tidak buru-buru menyerang. Terakhir, mereka punya mental untuk siap-siap dirundung, seperti Mourinho.

Strategi itu sama seperti memarkirkan bus yang juga butuh skill tinggi. Coba saja sekali-kali Anda iseng bertanya kepada sopir bus patas (masih ada cepat terbatas?) jurusan Pasar Senen-Bekasi. Jawabnya, sulit bukan main parkir di terminal setelah mereka susah payah menembus kemacetan di Tol Jakarta-Cikampek.

Naik bus/bis kota membuat orang tak punya semakin menderita saja, seperti nyanyian Ahmad Albar, vokalis God Bless. (R-2)

BERITA TERKAIT