Menteri PPPA Kecam Polisi Pukuli Perempuan


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 14 July 2018, 07:15 WIB
ANTARA/Hafidz Mubarak A
ANTARA/Hafidz Mubarak A

KASUS kekerasan terhadap perempuan dan anak kembali terjadi, tepatnya di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Seorang polisi berinisial AKBP Y terbukti melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang perempuan berupa penendangan dan pemukulan. Video yang sudah viral di media sosial tersebut menimbulkan kecaman dari banyak pihak.

Dalam video tersebut terlihat seorang ibu yang sedang menangis saat mendapat tendangan dan pukulan dari seorang laki-laki. Pemukulan yang dilakukan oleh AKBP Y berawal dari dugaan kasus pencurian yang dilakukan ibu dan anak dalam video tersebut.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise sangat menyesalkan kejadian tersebut,

“Pelaku tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak harus dihukum. Pencurian itu memang salah. Namun, penyelesaian tindak kriminal tidak boleh dilakukan dengan main hakim sendiri. Apalagi ada keterlibatan anak dalam kasus tersebut yang menjadi korban dari ajakan orangtuanya," ujar Yohana, melalui keterangan resmi, Jumat (13/7).

Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terdapat tiga macam pasal penganiayaan yang dapat menjerat pelaku penganiayaan antara lain, penganiayaan biasa (pasal 351 KUHP), penganiayaan ringan (pasal 352 KUHP), dan penganiayaan berat (pasal 354 KUHP) yang sanksinya akan di tentukan dari hasil visum.

Adapun sanksi pidana penjara untuk pelaku pencurian yang paling lama 5 (lima) tahun sesuai yang tercantum dalam pasal 362 KUHP.

Menindaklanjuti kasus tersebut, Yohana sangat mengapresiasi tindakan Kepolisian yang telah mencopot jabatan dari AKBP Y dalam rangka pemeriksaan.

Aparat penegak hukum, dalam hal Ini, Kepolisian Republik Indonesia, selama ini bergandengan tangan menjadi mitra kami dalam melindungi perempuan dan anak di Indonesia, sesuai dengan salah satu tugas fungsi Polri sebagai pelindung dan pengayoman masyarakat.

Kejadian seperti ini harus menjadi perhatian bersama, karena masih ada saja oknum-oknum yang belum mempunyai kesadaran bahwa kekerasan bukanlah penyelesaian dari tindak kriminal.

“Saya berharap pelaku kekerasan tersebut segera diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Demikian juga dengan Ibu pelaku pencurian yang telah melibatkan anaknya dalam perbuatan kriminal,” tutup Yohana. (OL-2)

BERITA TERKAIT