Pemuda dan Prestasi Dunia


Penulis: Asrorun Niam Sholeh Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora - 13 July 2018, 01:45 WIB
img
thinkstock

KEBANGGAAN untuk Indonesia datang dari putra bangsa yang mengikuti Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia. Dia Lalu Muhammad Zohri, atlet asal NTB yang berhasil menyabet medali emas di nomor bergengsi 100 meter putra.

Catatan waktu yang dapat ditoreh ialah 10,18 detik saat ia menyentuh garis finis. Dia lebih cepat daripada dua pelari Amerika Serikat, Anthony Schwartz dan Eric Harrison, yang secara bersamaan mencatat waktu 10,22 detik. Perlu diketahui, torehan waktu 10,18 detik menjadi rekor terbaru Zohri untuk level junior nasional. Ketika melakukan test event di Asian Games, pria berusia 18 tahun ini mencatat waktu 10,25 detik.

Ini bukan pertama kalinya Zohri meraih emas. Dia juga merajai Kejuaraan Asia Atletik Junior di Jepang pada Juni lalu. Catatan waktu yang dapat ditorehkan ialah 10,27 detik untuk nomor 100 meter putra. Kemenangan di Tampere ini mengukuhkan Zohri sebagai atlet berprestasi di spesialis 100 meter putra.

Prestasi ini tentunya didapat melalui proses pelatihan yang panjang karena Zohri merupakan atlet Pelatnas Asian Games 2018 yang langsung ada di bawah binaan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Kemenpora secara khusus memberikan apresiasi luar biasa atas prestasi dunia dan dedikasinya yang telah mengharumkan nama bangsa.

Kemenpora menilai Zohri sebagai pemuda hebat yang mengharumkan bangsa dengan prestasi tersebut. Dia memiliki potensi luar biasa yang kemudian bisa mengelola potensi tersebut hingga akhirnya mampu mengukir prestasi.
Tugas utamanya ialah menjaga potensi itu agar terus bersinar karena dia akan melanjutkan ke Asian Games yang penyelenggaraannya tinggal menghitung hari.

Prestasi pemuda
Prestasi Zohri sejatinya menunjukkan pemuda Indonesia mampu bersaing secara internasional, khususnya di bidang olahraga. Hal itu tentunya membutuhkan pembinaan, pemberdayaan, dan pengembangan yang lebih intensif dan berkelanjutan. Kemenpora telah melakukan pembinaan atlet di level pemuda dengan membuka Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP). PPLP menjadi wadah pembinaan atlet pelajar yang sudah berlangsung sejak 1999.

PPLP tersebar di beberapa provinsi di Indonesia, dengan harapan potensi dari beberapa daerah yang memiliki atlet pelajar dapat tergali. Tujuan pelatihan ini ialah mengukur program latihan atlet pelajar dan meningkatkan mental bertanding di kejuaraan olahraga. Dari kejuaraan itu akan ada evaluasi program latihan untuk lebih meningkatkan prestasi.

Banyak atlet yang mengukir prestasi setelah mengikuti pelatihan di PPLP. Data di Kemenpora menunjukkan sepanjang 2017, kontingen PPLP dan eks PPLP berkontribusi menyumbang 63 atlet pada 12 cabang olahraga dengan perolehan medali 13 emas, 15 perak, dan 19 perunggu. Kontribusi partisipasi atlet eks PPLP pada kontingen Indonesia (539 atlet) sebesar 11,68%, sedangkan pada 12 cabang olahraga (cabor) yang sama (250 atlet) 25,2% di SEA Games 2017.

Sementara itu, di ajang PON, atlet PPLP/eks PPLP dan SKO/eks SKO Ragunan yang ikut PON Jabar 2016 ialah 855 atlet dengan mengikuti 24 cabang olahraga, di antaranya atletik, dayung, panahan, senam, pencak silat, loncat indah, taekwondo, gulat, sepak takraw, balap sepeda, renang, anggar, karate, angkat besi, tenis, tenis meja, tinju, bola basket, bola voli indoor, bola voli pasir, judo, sepak bola, wushu, bulu tangkis.

Medali yang diperoleh ialah 133 emas, 97 perak, dan 144 perunggu, sedangkan yang mendapatkan medali ialah 270 atlet atau 32%. Sementara itu, yang tidak dapat medali 585 atlet atau 68%. Ini menunjukkan prestasi yang harus kita hargai karena para atlet muda Indonesia telah menunjukkan semangat juang yang tidak mudah pudar. Di level regional pun demikian. Atlet PPLP dan SKO Ragunan mencatat prestasi pada cabang olahraga angkat besi di Kejuaraan Dunia Angkat U-17, 3-10 April 2017.

Masih ada lagi di cabang olahraga voli pasir, ketika atlet PPLP mengikuti Kejuaraan Dunia U-21 di Nanjing, Tiongkok. Tim putra atas nama Dimas Agung Wirachmat dan Ilham Akbar mampu menembus 8 besar dunia. Sementara itu, tim putri atas nama Maria Dwi Ningtyas dan Vitri Dwi Rahayu menempati peringkat ke-17 dunia.

Pada kejuaraan dayung Asia di Thailand yang diwakili atlet eks PPLP Sulawesi Tenggara atas nama Julianti dan Wa Ode Fitri Rahmanjani, mendapatkan prestasi emas di nomor empat putri. Kejuaraan ini berlangsung pada September 2017.
Ada pula tim sepak bola pelajar U-18 mengikuti kejuaraan Asia Sepak Bola dipertandingkan di Riau pada Juli 2017. Tim pelajar U-18 berhasil meraih juara 2 kejuaraan Asia Sepak Bola Iran. Kejuaraan Dunia Junior Panahan yang diselenggarakan di Rosario, Argentina, diikuti tim PPLP dengan mengirimkan 4 atlet yang berasal dari DI Yogyakarta.

Prestasi nonolahraga
Prestasi pemuda Indonesia di tingkat internasional tidak hanya di bidang olahraga, tetapi juga bidang lain. Pada tahun ini setidaknya ada tiga bidang yang membanggakan, yakni pertama, juara dunia sepak bola robot di Montreal, Kanada. Para pemuda dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya mengalahkan tim Iran 3-0 dalam gelar juara dunia Robo Cup 2018. Tim diberi nama Robot Soccer Ichiro menyabet empat kate­gori penghargaan sekaligus, yakni kategori teen size, techical challenge, drop in games, dan best humanoid robot soccer.

Kedua, juara pertama dalam kejuaraan debat 4th International Schools Arabic Debating Championship 2018 di Doha, Qatar. Ajang bergengsi tersebut dilaksanakan di Qatar National Convention Center Doha, serta diikuti 50 negara-negara dari kawasan Amerika, Eropa, Asia, Australia, dan Timur Tengah.

Prestasi itu menempatkan Indonesia sebagai juara untuk kategori nonnative di Qatar. Para pemuda ini juga menyabet juara best speaker pertama, kedua, dan ketiga untuk kate­gori nonnative speaker. Ketiga, prestasi di Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional di Mesir yang dapat direbut Lauhin Mahfudz dan Farhan Tsani. Kedua pemuda ini lolos ke babak final dan mendapatkan runner up MTQ cabang Syarhil Quran.

Dari sekian prestasi atlet muda kita, tentunya menjadi relevan bahwa negara tidak boleh abai dalam memenuhi hak-hak para atlet. Pemuda berhasil mendapatkan prestasi mengagumkan karena banyak aspek, di antaranya potensi yang dimilikinya, kepemimpinan yang memberikan ruang partisipasi dan tumbuh kembang potensi pemuda secara baik dan kehadiran negara yang memberikan fasilitas memadai, selain tentunya menunjukkan adanya kecerdasan berganda (multiple intelligence) yang dimiliki para pemuda dalam mendapatkan prestasi.

Dengan latar belakang pemuda yang berbeda-beda itu, tentunya pengarahan dan fasilitas yang diberikan juga menyesuaikan kebutuhan mereka. Hal ini sesuai dengan tujuan keolahragaan nasional, memelihara dan meningkatkan kesehatan, kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa.

BERITA TERKAIT