Desakan Edy Rahmayadi Mundur dari Ketum PSSI Menguat


Penulis:  Micom - 12 July 2018, 18:40 WIB
Ist
Ist

DESAKAN agar Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Edy Rahmayadi mundur terus membesar bak bola salju. Bila sebelumnya datang dari Presiden Madura United Achsanul Qosasi, kali ini desakan tersebut datang dari  tokoh nasional Suhendra Hadi Kuntono.

“Tanya Edy, Indonesia dan Kroasia itu lebih maju mana? Kok Indonesia tak mampu berlaga di Piala Dunia, sedangkan Koasia bisa bahkan sanggup mengalahkan Inggris dan maju ke final Piala Dunia 2018? Jangankan di tingkat dunia (FIFA), di tingkat Asia (AFC) saja Indonesia tak mampu jadi juara,” ungkap Suhendra dalam keterangannya, Kamis (12/7).

Timnas Kroasia menang 2-1 atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, Rabu (11/7) malam waktu setempat atau Kamis dini hari WIB. Dengan kemenangan itu, Kroasia akan melawan Prancis pada final yang digelar Minggu (15/7) mendatang.

Ini juga menjadi final pertama Kroasia dalam Piala Dunia sepanjang sejarah.

Kemenangan Kroasia yang dianggap 'anak bawang' atas Inggris yang terbilang 'raksasa sepak bola', dinilai Suhendra, sebagai tamparan keras bagi PSSI.

“Padahal, dari sisi apa pun, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, Indonesia jauh lebih besar dan maju daripada Kroasia. Ini sangat ironis dan menjadi tamparan keras bagi PSSI,” jelas Suhendra, yang juga Ketua Umum Putra-Putri Jawa Kelahiran Sumatra, Sulawesi, dan Maluku (Pujakessuma) Nusantara dan Dewan Pembina Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI).  

Menurut dia, sejak terpilih menjadi Ketum PSSI, pada 10 November 2016 hingga kini, Edy tidak mampu menunjukkan prestasi apa pun. Apalagi baru saja terpilih menjadi Gubernur Sumatra Utara pada Pemilihan Kepala Daerah serentak lalu.

“Gubernur dan Ketum PSSI bukan jabatan main-main. Kedua jabatan itu tak bisa dirangkap. Kalau dirangkap, semua akan keteteran, baik kinerjanya di PSSI maupun di pemerintah daerah. Semua pihak akan dirugikan, terutama persepakbolaan nasional dan rakyat Sumut," tukas pria kelahiran Medan, Sumut, 50 tahun silam ini.

Sebab itu, menurut Suhendra, terpilihnya Edy menjadi Gubernur Sumut pada Pilkada 2018 serta kemenangan Kroasia atas Inggris dan Korea Selatan atas Jerman pada Piala Dunia 2018 merupakan momentum tepat bagi mantan Pangkostrad itu untuk mundur dari jabatan Ketum PSSI.
“Mundur lebih terhormat daripada dimundurkan,” tegasnya terkait sikap kukuh Edy yang hendak mempertahankan jabatannya hingga 2020 kendati terpilih menjadi gubernur.

Pada masa kampanye Pilkada 2018, Edy selaku Ketum PSSI mengajukan cuti pada 16 Februari-30 Juni 2018. Namun, berbagai pihak, termasuk Kementerian Pemuda dan Olahraga, menyarankan Edy lebih baik mundur daripada cuti. Namun, saran itu tak pernah digubris.

Selain soal prestasi, desakan Suhendra agar Edy mundur dari jabatan Ketum PSSI terkait undang-undang (UU). Ia lalu merujuk ketentuan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional yang menyatakan pengurus komite olahraga nasional, komite olahraga provinsi, dan komite olahraga kabupaten/kota bersifat mandiri dan tidak terikat dengan kegiatan jabatan struktural dan jabatan publik.

Begitu pula Surat Edaran (SE) Mendagri No 800/148/sj 2012 yang menyatakan kepala daerah tingkat I dan II, pejabat publik, wakil rakyat, hingga Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilarang merangkap jabatan dalam organisasi olahraga seperti KONI dan PSSI, serta kepengurusan klub sepak bola profesional maupun amatir.

“Statuta FIFA juga melarang eksekutif rangkap jabatan di organisasi sepak bola. Jadi, desakan agar Edy mundur ini konstitusional dan rasional, bukan emosional,” papar Suhendra.

Jika Edy tak mundur dalam waktu dekat, Suhendra mengancam akan membentuk Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) seperti pernah terbentuk pada 28 Desember 2011 untuk menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI dengan agenda tunggal mengganti Ketum PSSI.

Sebelumnya, Achsanul Qosasi, yang juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan, merilis surat terbuka yang ditujukan kepada Edy Rahmayadi agar meletakkan jabatan Ketum PSSI. Ia menyangsikan Edy mampu merangkap jabatan Ketum PSSI sekaligus Gubernur Sumut. Pasalnya, Indonesia kini dihadapkan pada berbagai ajang besar yang amat butuh banyak perhatian.

"Sebentar lagi Bapak akan disibukkan oleh pemenuhan janji-janji politik di Sumatera Utara, sementara dalam 100 hari ke depan (2018) ada 4 even besar yang membawa harga diri bangsa, Asian Games, Piala AFF-U19, AFF Cup (senior), dan Piala Asia U-19 yang tentunya membutuhan atensi dari Ketua Umum PSSI. Dibutuhkan keseriusan dan waktu yang banyak untuk mengurusnya," tulis Achsanul di akun Instagram-nya. (RO/OL-1)

BERITA TERKAIT