Tumbuh Melalui Erupsi, Status Anak Krakatau Tetap Waspada


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 12 July 2018, 12:56 WIB
img
Dok. BNPB

PUSAT Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG) melaporkan Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 56 kali dengan tinggi kolom mencapai 200-1000 meter di atas puncak kawah.

Letusan terjadi dalam kurun waktu 24jam dnegan amplitudo 25-53 mm, dan berdurasi 20-100 detik. Secara visual, pada malam hari teramati sinar api dan guguran lava pijar.

"Letusan disertai lontaran abu vulkanik, pasir, dan suara dentyman. Hembusan 1541 kejadian dengan durasi 20-172 detik. Masyarakat tetap tenang, yang penting patuh pda rekomendasi, tidak melakukan aktivitas dalam radius satu kilometer dari puncak kawah. Malah bisa menikmati fenomena erupsi drai tempat aman," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwonugroho, dalam keterangan resmi, Kamis(12/7).

Sebelumnya, Selasa (10/7/2018), Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 99 kali kejadian dengan amplitudo 18-54 mm dan durasi letusan 20-102 detik. Hembusan tercatat 197 kali dengan durasi 16-93 detik. Letusan disertai suara dentuman sebanyak 10 kali dan menyebabkan kaca pos pengamatan gunung bergetar.

Banyaknya letusan sudah berlangsung sejak tanggal 18 Juni 2018, saat Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Ada pergerakan magma ke luar permukaan sehingga terjadi letusan. Namun, tidak ada peningkatan status, tetap pada level 2 atau Waspada.

Aktivitas vulkanik yang normal dan letusan dapat terjadi kapanpun tidak akan membahayakan, selama masyarakat masyarakat tidak melakukan aktivitasnya di dalam radius 1 km. Pun letusan dengan lontaran abu vulkanik ini tidak membahayakan penerbangan. Jalur pelayaran Selat Sunda juga tetap aman, asalkan tetap pada perintah di luar radius 1 km dari puncak kawah.

"Ini hal biasa, Anak Krakatau akan terus tumbuh besar dan tinggi dengan melakukan erupsi. BPBD Provinsi Banten, BPBD Provinsi Lampung, PVBMG, dan BKSDA telah melakukan langkah antisipasi," pungkasnya.

Gunung Anak Krakatau baru muncul dari permukaan laut, pada tahun 1927. Rata-rata tambah tinggi empat hingga enam meter per tahun. Energi erupsi yang dikeluarkan juga tidak besar. Sangat kecil sekali peluang terjadi letusan besar seperti letusan Gunung Krakatau pada 1883. Beberapa ahli mengatakan tidak mungkin meletus dalam waktu dekat, sehingga tidak perlu dikhawatirkan.(OL-6)

BERITA TERKAIT