Prancis tidak Ingin Kepalang Tanggung


Penulis: Agus Triwibowo Laporan dari Rusia - 12 July 2018, 07:15 WIB
img
AFP/LUCAS BARIOULET

PRANCIS bertekad menebus kegagalan di final Piala Eropa dua tahun lalu saat menjadi tuan rumah setelah mereka memastikan tiket laga pamungkas Piala Dunia 2018. Tak mau kepalang tanggung, Les Bleus siap menuntaskannya dengan gelar juara.

Bagi Prancis, ini final ketiga di Piala Dunia. Pada 1998 kala menjadi penyelenggara, mereka berhasil juara, tetapi di laga pamungkas kedua pada 2006 di Jerman takluk lewat adu penalti dari Italia.

Bagi Didier Deschamps, sang pelatih yang menjadi kapten saat berjaya pada 20 tahun lalu, kiprah Prancis di Rusia kali ini juga punya arti tersendiri.

Jika skuatnya menjadi kampiun, ia menyamai capaian legenda Jerman Franz Beckenbauer dan legenda Brasil Mario Zagallo yang menjuarai Piala Dunia saat menjadi pemain dan pelatih.

Ketika tampil di Stadion St Petersburg, kemarin, Les Bleus menang berkat gol bek Samuel Umtiti lewat sundulan menyambut sepak pojok di menit ke-51.

Kiper sekaligus kapten Hugo Lloris juga berjasa besar dengan membuat sembilan penyelamatan.

Belgia memang dominan dalam penguasaan bola, 60% berbanding 40%, tetapi Prancis lebih efektif. "Itu luar biasa," kata Deschamps selepas laga.

"Kami menunjukkan karakter dan mentalitas yang tepat. Kami bekerja keras bertahan."

"Kami harus memanfaatkan sedikit kesempatan dalam serangan balik. Saya merasa sangat bangga pada seluruh tim," ujar Deschamps lagi.

Setelah Prancis kalah 0-1 dari Portugal di final Euro dua tahun silam, tepatnya 11 Juli 2016, desakan agar Deschamps mundur dari jabatan pelatih mengemuka. Namun, kini dia menjawab segala kritik dengan hasil apik.

Pahlawan Prancis, Umtiti, mengatakan kemenangan atas Belgia buah kerja tim. "Kami bekerja keras. Saya mencetak gol, tetapi saya sangat bangga dengan seluruh anggota tim," tuturnya.

Bek Barcelona itu menambahkan, "Kami tidak menang di final Piala Eropa (2016) dan itulah kenapa penting bagi saya mencapai final Piala Dunia. Saya berharap hasilnya berbeda dan kami membawa trofi kembali ke Prancis."

Di kubu Belgia, pelatih Roberto Martinez juga bangga pada pasukannya meski kalah. "Sayangnya, bola mati menjadi penentu. Pertandingan sangat ketat dan itu akan diputuskan sedikit keberuntungan di depan gawang," ucapnya. (X-8)

BERITA TERKAIT