Kemenangan Kolektif Kolegial


Penulis: Abdul Kohar Wartawan Media Indonesia - 12 July 2018, 03:00 WIB

DALAM dua pekan terakhir bermunculan meme olok-olok tentang para bintang sepak bola. Mulanya pemain timnas Mesir Mohamed Salah, diikuti Mesut Oezil (Jerman), lalu mencapai puncaknya untuk Leonel Messi (Argentina), Christiano Ronaldo (Portugal), dan Neymar Jr (Brasil).

Di meme itu digambarkan Messi tengah memegang kendali setir sepeda motor, dengan Oezil, Iniesta, Ramos, Ronaldo, dan Salah membonceng di belakangnya. Para bintang itu hendak 'mudik bareng' ke kampung masing-masing setelah timnas negara mereka tersungkur di fase grup maupun babak 16 besar Piala Dunia. Di tengah jalan, Neymar pun akhirnya bergabung untuk pulang kampung setelah tim 'Samba' takluk dari Belgia 1-2 di babak delapan besar.

Maka, tak ada lagi nama Messi, Ronaldo, Neymar, juga Mohamed Salah dan Ahmed Musa di babak akhir Piala Dunia Rusia 2018. Sinar bintang-bintang itu benar-benar redup bahkan di babak-babak awal perhelatan 24 negara tersebut.

Bagi saya pemuja sepak bola indah, termasuk penikmat skill individu, cepatnya para bintang itu berkemas dari 'panggung megah' di Rusia nyaris menghilangkan selera menonton Piala Dunia 2018. Apalagi, para pemilik 'sihir' itu belum sempat menunjukkan sentuhan emas mereka.

Akan tetapi, peristiwa itu serupa hukuman. Ia mengingatkan pada khitah utama sepak bola; permainan kerja sama tim, cara bekerja kolektif kolegial.

Leonel Messi, Ronaldo, bahkan Neymar sekalipun bak tentara tua yang terlalu berat untuk memimpin pasukan. Neymar dan Salah bahkan sudah seperti lokomotif tua penarik gerbong berkarat tanpa pelumas roda.

Mereka seperti terkena 'disrupsi' oleh era sepak bola kolektif kolegial yang kian mendapatkan tempat. Mereka kalah pamor atas sepak bola cepat dan efektif dengan satu-dua sentuhan yang diperagakan anak asuh Southgate, misalnya.

Kita tinggal menunggu, apakah Inggris tetap konsisten memperagakan sepak bola cepat, yang sebagian orang meyakini sebenarnya bukan karena mereka ingin melakukannya, melainkan ada faktor lain yang membuat mereka harus bermain seperti itu. Pada kasus ini, faktor cuacalah yang membuat Inggris sering menampilkan sepak bola cepat atau yang lebih dikenal dengan sebutan kick n' rush.

"Ini semua karena iklim," ujar Fabio Capello, pelatih asal Italia yang pernah membesut timnas Inggris.

"Saya pernah berbicara banyak tentang hal ini bersama Andy Roxbrough (manajer asal Skotlandia). Saya melatih usia muda Skotlandia dan ingin mengajarkan hal yang sama dengan apa yang saya ajarkan di Italia. Kemudian saya menyadari angin, hujan, dan cuaca dingin di sana tidak memungkinkan untuk melakukannya (metode Italia). Bagi saya, ini sudah menjadi alasan jelas mengapa Brasil bermain lebih berteknik daripada Eropa," tambah Capello.

Memang ada sebuah stereotip yang mengatakan bahwa pemain yang berasal dari iklim lebih hangat secara alami akan lebih unggul dari segi teknik. Itu karena mereka bisa menghabiskan waktu latihan lebih lama di lapangan, lebih lama latihan menggunakan bola.

Gianluca Vialli dalam buku The Italian Job mengungkapkan dirinya penasaran dengan anggapan tersebut. Menurutnya, rata-rata temperatur di tiga kota Inggris ialah 10 derajat celsius, sedangkan di kota Italia rata-rata 13,7 derajat celsius.

Selain itu, lanjut Vialli, kecepatan anginlah yang membuat Inggris lebih dingin daripada Italia.

Rata-rata kecepatan angin per bulan di Inggris ialah 15,3 kilometer per jam, sedangkan di Italia 10,3 kilometer per jam. Angka itulah yang kemudian menjawab semua pertanyaan Vialli. Fakta tersebut membuktikan bahwa angin yang bertiup di Inggris 50% lebih kencang daripada di Italia.

Berdasarkan penemuannya itu, ia kemudian menyimpulkan bahwa iklim bisa memengaruhi perkembangan pesepak bola. Walaupun terdengar sepele, menurutnya, iklim benar-benar memiliki peran yang sangat besar terhadap pemilihan metode latihan yang nantinya berdampak pada gaya bermain tim tersebut.

Arsene Wenger, mantan pelatih Arsenal pun sependapat dengan anggapan Vialli ini. "Ketika pertama kali saya datang ke Inggris, hal yang membuat saya harus menyesuaikan diri ialah cuaca. Angin di sini mengacaukan. Ini memaksa saya hanya melakukan satu metode latihan. Angin membuat saya harus melatih kecepatan dan pergerakan agar pemain tetap dalam kondisi terbaiknya. Sangat jarang seorang pemain mendapatkan kesempatan untuk bermain tenang dan menunjukkan teknik ataupun menerapkan taktik. Saya harus membuat pemain saya bisa konsisten terus bergerak agar pemain saya tidak kedinginan."

Cuaca dingin mengakibatkan para pemain Inggris dituntut untuk bermain lebih aktif dalam bergerak, berlari, mencari ruang, dan segala hal yang tidak membuat pemain tersebut bermain santai. Jika tidak, angin akan membekukan otot para pemain sehingga pemain tersebut akan bermain tak maksimal.

Kini, di Rusia, cuaca sudah menghangat. Angin pun tak terlalu kencang. Namun, kebiasaan bermain cepat tim Inggris dengan cara kerja kolektif kolegial tetap konsisten dijalankan.

Jangan-jangan, merekalah yang akan 'menghukum' tim Prancis di final, apalagi bila Mbappe, Griezmann, atau Dembelle berani coba-coba memperagakan sepak bola akrobatik individual. (R-2)

 

 

 

 

BERITA TERKAIT