Akhir Pilu dari Generasi Emas Belgia


Penulis:  Agus Triwibowo Laporan dari moscow - 12 July 2018, 02:45 WIB
img
AFP PHOTO / GABRIEL BOUYS

GENERASI EMAS the Red Devils, julukan timnas Belgia, harus menerima kenyataan. Capaian menyamai prestasi terbaik dengan tampil di semifinal Piala Dunia 1986 tidak berlanjut hingga ke laga pamungkas di Piala Dunia 2018 Rusia tahun ini.

Kesempatan menjadi tim pertama Belgia yang lolos ke final terhenti setelah takluk 0-1 dari Prancis di Stadion St Petersburg, dini hari WIB kemarin. Gol tunggal Samuel Umtiti di menit ke-51 mengakhiri laju skuat asuhan Roberto Martinez yang disorot punya kapasitas sebagai kampiun di Rusia.

Kekalahan Eden Hazard dan kawan-kawan diratapi seluruh penjuru Belgia. Kendati memiliki bintang-bintang lapangan hijau, skuat 'Setan Merah' tidak mampu menembus ke final di ajang sepak bola akbar sejagat empat tahunan itu. Ini juga melanjutkan catatan Belgia yang terhenti di delapan besar pada Piala Dunia 2014 Brasil, serta perempat final di Piala Eropa 2016 Prancis.

Pelatih Roberto Martinez yang menetapkan strategi jitu untuk meredam Brasil dan menang 2-1 di perempat final, kali ini gagal membuat Prancis takluk. Setelah sebelumnya mampu meredam kebintangan Neymar di tim 'Samba', kali ini Belgia tidak juga mampu membongkar pertahanan rapat Prancis.

Absenya bek kanan Thomas Meunier akibat akumulasi kartu membuat Martinez memilih menurunkan gelandang Mousa Dembele. Akan tetapi, keputusan itu membuat serangan dari sayap kanan Belgia menjadi berkurang. Apalagi beberapa kesempatan emas tendangan ke arah gawang Prancis selalu membentur benteng solid, yang ditambah penampilan prima kapten sekaligus kiper Les Bleus, Hugo Lloris.

Di kubu Prancis, Blaise Matuidi yang kembali tampil setelah lepas dari skors bisa membedung serbuan serangan yang dilakukan Hazard dan Kevin de Bruyne. Apalagi Matuidi tidak bekerja sendiri karena pemain jangkar dengan pergerakan luas, N’Golo Kante, benar-benar menjadi pemain pertama yang membendung setiap serbuan ke sektor pertahanan Prancis.

Di sektor pertahanan, Prancis juga mampu mendudukkan Raphael Varane sebagai tembok kukuh. Romelu Lukaku sebagai juru gedor Belgia dibuat tidak banyak memiliki peluang melepaskan tendangan ke arah gawang.

Di sisi lain, Prancis yang mengandalkan serangan balik cepat benar-benar membuat Belgia frustrasi. "Prancis sama sekali tidak bermain. Mereka bertahan total di area 40 meter dari gawang mereka," ujar kiper Thibaut Courtois.

Kiper klub Inggris, Chelsea, itu menyatakan Prancis memainkan gaya serangan balik dengan mengandalkan Kylian Mbappe yang memiliki pergerakan sangat cepat. "Kami kecewa karena kalah dari tim yang tidak lebih baik daripada kami, tetapi dari tim yang menolak bermain, hanya bertahan."

Generasi baru
Kekecewaan yang sangat pantas karena saat ini merupakan waktu paling tepat bagi Belgia menorehkan prestasi gemilang yakni meraih gelar internasional pertama dengan jajaran pemain bintang.

Kini, Belgia masih bisa berharap pada pemain seperti Eden Hazard, Kevin de Bruyne, Romelu Lukaku, dan kiper Thibaut Courtois. Jajaran pemain terbaik di posisi masing-masing itu masih akan berusia di bawah 30 tahun dua tahun lagi. Artinya, Belgia bisa berharap di Piala Eropa 2020 mendatang.

Namun, Martinez masih belum bersedia membahas hal itu. "Saya pikir terlalu cepat untuk mengukur kekuatan bagi turnamen (Piala Eropa) itu," tegas pelatih asal Spanyol yang kontraknya diperpanjang hingga 2020 itu beberapa saat sebelum gelaran Piala Dunia Rusia.
"Kami membutuhkan generasi yang lebih muda, tetapi kami memiliki arah serta ambisi," jelas Martinez.

"Sepak bola Belgia memiliki banyak bakat muda yang datang. Saya punya peran sebagai pelatih dan saya memandang gelaran Piala Eropa 2020 mendatang. Namun, saat ini saya tidak ingin membuat penilaian," tandas Martinez. (R-2)

 

BERITA TERKAIT