Moda Produksi dalam Era Pascamanusia


Penulis: Irwansyah Ketua Panitia Indonesia-International Graduate Conference on Communication Universitas Indonesia - 12 July 2018, 01:45 WIB
img
thinkstock

TULISAN kedua ini mendiskusikan moda produksi dalam elaborasi teknologi dan manusia di era pascamanusia (posthuman). Tulisan ini juga menjadi dasar dalam rangkaian untuk mengurai tema Konferensi Pascasarjana Internasional Indonesia (Indo-IGCC) Kedua pada 11-12 Juli 2018 di Kampus UI, Depok.
    
Pemahaman moda produksi mengacu pada sentral pemikiran yang menjelaskan cara masyarakat dalam memproduksi barang dan jasa. Moda produksi memiliki dua aspek utama, yaitu kekuatan produksi dan relasi produksi. Kekuatan produksi melibatkan adanya kebersamaan setiap elemen mulai dari tanah, bahan mentah, bahan bakar, keterampilan manusia, tenaga kerja untuk mesin, peralatan, dan pabrik, sedangkan relasi produksi meliputi hubungan antarmanusia dan hubungan manusia dan kekuatan produksi melalui keputusan yang dibuat tentang apa yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil.
    
Dengan demikian, dalam era pascamanusia, kekuatan produksi memperlihatkan teknologi adalah panglima dalam menciptakan ketergantungan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Sementara itu, relasi produksi memperlihatkan hubungan antarmanusia diintermediasi teknologi sehingga dalam kondisi tertentu teknologi memainkan peran mediatisasi dalam hubungan antarmanusia dan hubungan manusia dengan teknologi yang lainnya.
    
Hal inilah yang memperkuat dominasi pandangan deterministik teknologi dalam integrasi teknologi dan manusia mengubah moda produksi dalam tatanan masyarakat saat ini. Proses penghapusan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi tidak lagi dilakukan secara paksa.    
   
Alat-alat produksi tidak lagi dimiliki pihak-pihak yang memproduksi, tetapi alat-alat produksi diciptakan sebagai wadah untuk bekerja bersama. Penggunaan komputasi awan (cloud computing), software as a service (SAAS), platform as a service (PAAS), infrastructure as a service (IAAS), atau kolaborasi kerja di awan (collaborative work in cloud) memperlihatkan sistem produksi kerja yang mengalami desentralisasi dan berjaringan.
    
Kemudian dengan adanya integrasi teknologi terkini dan manusia, maka semua bentuk privasi diberikan secara sukarela. Apalagi untuk masuk ke zaman yang sudah terkoneksi dengan berbagai aspek di dunia, maka hal-hal yang privat dapat ditambang dari jejak digital yang diberikan setiap saat. Dengan pengumpulan data yang semakin banyak terkumpul, manusia tidak lagi semata-mata menjadikan teknologi sebagai alat bantu. Teknologi menjadi semakin cerdas dan semakin memahami keinginan dari pengguna teknologi.
    
Dilihat dari sisi produksi, maka alat-alat yang diciptakan dengan melekat pada tubuh manusia semakin meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Indikatornya ialah tenaga kerja semakin murah dengan kemampuan multi dalam bekerja (multitasking). Ekonomi berbasis cakupan terbatas semakin meningkat dengan menawarkan kustomisasi yang beragam.
    
Waktu pencarian bahan dasar dan pengerjaan produk semakin singkat dengan mengandalkan algoritma yang telah diambil berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Produksi barang dan jasa tidak semata-mata hanya demi kepentingan pasar, tetapi juga mulai mementingkan kualitas dan nilai dalam cita rasa yang lahir dari gagasan atau ide kreatif.
    
Sistem distribusi dapat dilakukan dengan kapasitas jaringan internet pita yang semakin lebar. Industri berkembang dari produksi yang berbasis masalah, tidak lagi hanya bersifat komputasi, tetapi menjadi sistem cerdas yang terintegrasi. Institusi produksi juga dapat merangkap menjadi industri distribusi. Malah tidak jarang, sistem distribusi merupakan moda produksi dengan inovasi yang berkesinambungan.
   
Namun, di sisi lain, terdapat kritik terhadap teknologi yang terintegrasi dengan manusia. Teknologi juga dianggap sebagai salah satu produk kapitalis. Merekatkan teknologi kepada manusia berarti memperlihatkan ketergantungan produksi terhadap modal yang kuat dari kapitalis. Pada sisi ini dibutuhkan kesadaran untuk tidak semata-mata mengubah moda produksi hanya karena tren yang malah menjerumuskan pada pembengkakan biaya produksi.
     
Pola produksi yang mengalami transformasi karena hibridisasi teknologi dan manusia juga mengubah pembagian kerja masyarakat. Dalam pandangan pembagian kerja masyarakat, gabungan kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan manusia mengubah bentuk solidaritas masyarakat yang pernah diajukan Emile Durkheim. Teknologi saat ini mempertegas proses transformasi dari masyarakat prakelas yang membangun solidaritas mekanik menjadi mayarakat yang membangun kelas solidaritas organik.
    
Oleh karena itu, perlu dibangun diskursus untuk memberikan kesadaran bahwa terbentuknya kelas sosial tidak semata-mata karena tren kecerdasan teknologi. Karena manusia, baik secara individu maupun dalam kelas sosialnya, mampu menginterpretasikan secara fleksibel yang dinamis. Kekuatan kelas atau kelompok relevan pada dasarnya dapat menentukan pilihan terhadap kehadiran teknologi.
    
Belum lagi bahwa teknologi dan perkembangannya tidak pernah selesai (halfway technology) sehingga pengendalian terhadap teknologi dapat dilakukan kelas-kelas sosial yang mengatur atau diberi peluang mewakili masyarakat yang telah menaruh harapan dan kepercayaan untuk membangun kehidupan menjadi lebih baik.

 

BERITA TERKAIT