Memetieskan Duet Modric-Rakitic


Penulis: Agus Triwibowo dari Rusia - 11 July 2018, 02:45 WIB
AFP PHOTO / GABRIEL BOUYS
AFP PHOTO / GABRIEL BOUYS

KERINDUAN publik Inggris agar tim nasional mereka kembali merengkuh trofi Piala Dunia begitu menggebu. Sudah 52 tahun keberhasilan Bobby Charlton dan kawan-kawan kala berjaya pada 1966 menjadi kenangan dan inilah saat terbaik bagi the Three Lions mengulang kegemilangan.

Harapan Inggris merebut gelar juara dunia kembali menyala tahun ini. Skuat Gareth Southgate sukses menembus babak semifinal Piala Dunia 2018, atau yang pertama sejak 1990 silam. Mereka akan mencoba melewati tantangan Kroasia di Stadion Luzhniki, dini hari nanti, untuk melaju ke partai pamungkas.  

Peluang 'Tiga Singa' untuk menapaki partai final jelas terbuka. Namun, pekerjaan rumah terberat mereka ialah memetieskan kreativitas Kroasia yang diisi duet gelandang kelas dunia, Luka Modric dan Ivan Rakitic.

Arsitek Zlatko Dalic telah menemukan ramuan pas untuk mengombinasikan keduanya. Formasi 4-2-3-1 dipilih dengan Modric sebagai playmaker, sedangkan Rakitic menjadi gelandang penyeimbang bersama Marcelo Brozovic.

Baik Modric maupun Rakitic merupakan pemain yang paling banyak menguasai bola saat tim mereka menyingkirkan tuan rumah Rusia di perempat final. Modric melakukan 140 sentuhan dengan akurasi umpan mencapai 88%, sementara Rakitic 112 kali. Dengan bermodal itu, Dalic pun mengklaim timnya bukanlah 'kuda hitam' di babak semifinal.

"Kami senang telah mencapai prestasi sejauh ini. Kami salah satu dari empat tim terbaik di dunia. Saya menghormati tim lain seperti Inggris, Belgia, dan Prancis, tapi tak satu pun dari mereka lebih baik daripada kami," tutur pelatih 51 tahun itu.

Demi menghadapi duo kreator Kroasia tersebut, Inggris mungkin akan mempertahankan skema lima gelandang sejajar dengan Jordan Henderson sebagai kunci. Akan tetapi, kapten Liverpool itu belum dipastikan dapat merumput karena bermasalah di otot lututnya.

Apabila ia absen, Inggris bisa dalam bahaya. Henderson merupakan gelandang terbaik yang dimiliki Gareth Southgate saat ini. Dia sangat matang dalam mengatasi tekanan dan lebih berpengalaman jika dibandingkan dengan pemain lain di posisi yang sama, Eric Dier.

"Kami akan melakukan pemeriksaan kepada semua pemain. Hendo sapaan Henderson menjadi satu yang merasakan masalah di lututnya, itulah mengapa kami melakukan pergantian pemain. Semua pemain mengalami akumulasi kelelahan di turnamen ini," kata Southgate.

Meski begitu, eks pelatih Middlesbrough itu memiliki keyakinan timnya akan melaju ke partai puncak Piala Dunia apa pun kondisinya. Ia bahkan menilai skuat yang dimiliki saat ini lebih potensial ketimbang timnas Inggris di era 1966.

Komposisi skuat 'Tiga Singa'--julukan Inggris--saat ini terbilang sangat merata. Bahkan, pos penjaga gawang yang sempat disebut sebagai titik terlemah justru unjuk bukti sebagai sentra keunggulan tim dengan cemerlangnya kiper Jordan Pickford.

Ajang pembuktian
Penjaga gawang Inggris kala juara Piala Dunia 1966 Gordon Banks berharap Harry Kane dan kawan-kawan sukses membawa pulang trofi Piala Dunia. Dengan demikian, apresiasi yang diberikan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) bahwa mereka lebih baik ketimbang generasinya tak sia-sia.

"Saya berharap anak-anak ini sukses. Mereka harus melakukan itu. Mereka akan berhak mendapatkan (apresiasi) itu. FA tidak melakukan apa-apa buat kami," ucap legenda berusia 81 tahun tersebut.

Mantan arsitek Kroasia Slaven Bilic menilai kekuatan Kroasia saat ini sangat menjanjikan. Namun, ia mengingatkan bahwa Inggris berbeda dengan tim-tim yang telah mereka tundukkan seperti Denmark, Rusia, atau bahkan Argentina.

"Mereka benar-benar cepat, seperti Belgia, dan punya beberapa penyerang berbahaya. Namun, Kroasia juga bisa menjadi masalah buat Inggris," tukas Bilic yang pernah menukangi klub Inggris, West Ham. (Sat/AFP/The Daily Mail/X-8)

 

BERITA TERKAIT