Injury Time


Penulis: Gaudensius Suhardi Wartawan Media Indonesia - 11 July 2018, 00:45 WIB
img
MI

ADA perbedaan makna injury time dalam sepak bola dan politik. Akan tetapi, keduanya selalu menghadirkan drama dan kejutan.  Injury time dalam sepak bola dimaknai sebagai perpanjangan waktu. Perpanjangan waktu dilakukan sebagai pengganti waktu yang hilang akibat tertundanya permainan berupa pelanggaran-pelanggaran atau peristiwa lain yang mengganggu pertandingan.

Tambahan waktu setelah 90 menit itu selalu menghadirkan air mata. Ada air mata pemenang dan ada pula air mata pecundang. Menang dan kalah sering ditentukan dalam perpanjangan waktu setelah dalam waktu normal tidak ada gol yang tercipta. Di situlah letak drama dan kejutannya.

Setidaknya ada dua drama injury time dalam Piala Dunia 2018 di Rusia. Pertama, pertandingan Brasil vs Kosta Rika pada Jumat (22/6). Brasil harus siap-siap angkat koper karena tak sebiji gol pun dilesatkan ke gawang Kosta Rika dalam waktu normal 90 menit.

Wasit memberi tambahan waktu enam menit. Selang semenit kemudian gol tercipta berawal dari tandukkan Roberto Firmino yang diterima Gabriel Jesus, Phillipe Coutinho yang berada di posisi tepat langsung menyambar bola di depan gawang Keylor Navas. Pada menit ketujuh, tusukan Douglas Costa begitu cepat dan ia langsung mengirim bola empuk ke Neymar. Tanpa ampun, gol, 2-0 untuk Brasil.

Itulah drama yang menghidupkan lagi asa Brasil sampai kemudian menjadi juara grup untuk menapak ke 16 besar. Sayangnya, keberuntungan injury time Brasil ternyata tidak berlanjut dalam babak 16 besar setelah kalah 1-2 dari Belgia pada Sabtu (7/7).

Drama kedua menyangkut Jerman, juara Piala Dunia 2014. Juara empat kali di Piala Dunia itu bernasib tragis di injury time saat dikalahkan Korea Selatan pada Rabu (27/6). Dua gol Korea Selatan di perpanjangan waktu membenamkan Jerman di dasar klasemen dan gagal melangkah ke fase gugur.

Untung dan buntung hadir dalam injury time. Akan tetapi tidak satu pun pelatih, sehebat apa pun dia, menjadikan injury time sebagai bagian dari strategi kemenangan. Di situlah letak perbedaannya dengan politik. Dalam politik, injury time bagian dari strategi kemenangan.

Injury time dalam politik bukanlah bermakna waktu tambahan. Politik injury time ialah keputusan yang diambil menjelang akhir batas waktu yang telah ditetapkan. Politik last minute, itulah istilah yang tepat dalam pemilihan kepala daerah maupun presiden.

Pada pilkada serentak 2018, misalnya, meski masa pendaftaran pasangan calon tinggal hitungan hari, yakni mulai 8 hingga 10 Januari, masih banyak partai politik yang belum memutuskan siapa pasangan calon yang hendak diusung. Hanya calon independen yang sudah diketahui jauh hari sebelumnya.

Bagaimana dengan Pilpres 2019? Pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden dilaksanakan pada 4-10 Agustus. Akan tetapi, dalam kurun waktu kurang satu bulan itu, belum satu pun pasangan calon yang ditetapkan.

Sebanyak 14 partai politik peserta pemilu masih pasang kuda-kuda. Disebut pasang kuda-kuda karena tidak satu pun partai yang berhak mengajukan calon sendiri. Sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, ambang batas pencalonan presiden yaitu sebesar 20% kursi DPR atau 25% suara sah nasional. Dengan demikian, partai politik harus berkoalisi.

Lima parpol sudah menyatakan mengusung Jokowi pada Pemilu 2019. Kelima parpol itu ialah PDI-P, Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, NasDem, dan Partai Hati Nurani Rakyat. Lima partai itu punya 290 dari 560 kursi parlemen atau 51,78% kursi parlemen. Sampai kini pendamping Jokowi belum ditentukan.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto disebut-sebut sebagai calon kuat penantang Jokowi. Partai Gerindra masih mengintensifkan komunikasi dengan empat partai lain yang belum menyatakan mendukung Jokowi di Pilpres 2019. Keempat partai itu ialah Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Amanat Nasional.

Unsur drama dan kejutan pada Pilpres 2019 terletak pada siapa calon pendamping Jokowi, apakah kader partai atau nonpartai. Begitu juga calon penantangnya, apakah Prabowo atau ada poros ketiga.

Kejelasan soal kontestan dalam Pilpres 2019 baru diketahui publik saat injury time. Saat ini, setiap kubu masih menunggu kepastian lawan tanding. Dengan demikian, injury time dalam politik ialah bagian dari strategi untuk melumpuhkan lawan.

Di belahan lain bumi ini, capres dan cawapres dipersiapkan jauh-jauh hari bahkan setahun sebelum pemilu. Hal ini bertujuan agar rakyat dapat mempelajari rekam jejak capres dan cawapres.

Sebaliknya di negeri ini, hanya calon independen dalam pilkada yang sudah ketahuan jauh-jauh hari. Mungkin inilah saat yang tepat untuk mempertimbangkan perlunya calon independen presiden sehingga calon pemimpin tidak muncul saat injury time. (R-2)

 

BERITA TERKAIT