Benci Jadi Rindu


Penulis: Adang Iskandar Redaktur Bahasa Media Indonesia - 09 July 2018, 00:00 WIB
img
Dok Pribadi

HINGGA memasuki babak semifinal Piala Dunia 2018, kalau saja ada lembaga survei yang melakukan jajak pendapat mengenai negara mana yang dijagokan menjadi juara, saya mungkin akan menjadi responden yang termasuk kategori yang belum menentukan pilihan (undecided voters). Terus terang saya tidak pernah menjadi pendukung fanatik tim sepak bola sebuah negara yang tampil di putaran final pesta akbar sepak bola dunia empat tahunan ini.

Kalaupun memberikan dukungan, saya lebih memprioritaskan kedekatan aspek geografis, dalam hal ini kepada tim dari negara Asia, karena Indonesia merupakan bagian dari Benua Asia. Misalnya, di Piala Dunia 2018 ini saya memberikan dukungan sekadarnya kepada tim Jepang.

Pertimbangan yang sangat menentukan dukungan saya dalam Piala Dunia kali ini ialah faktor fair flay sebuah tim dan/atau pemainnya. Salah satu variabel dalam penilaian fair play sebuah tim ialah jumlah kartu kuning dan merah yang didapatkan tim tersebut. Di Piala Dunia 2018 Rusia, baru terjadi di sepanjang sejarah perhelatan Piala Dunia, berkah fair play didapatkan tim 'Samurai Biru' saat dinyatakan sebagai tim yang berhak lolos ke babak 16 besar meski mendapatkan poin dan selisih gol yang sama dengan Senegal.    
      
Masih terkait dengan fair play, saya secara subjektif ingin menyempitkan maknanya pada aspek 'kejujuran' seorang pemain saat tampil di lapangan. Saya menempatkan 'kejujuran' sebagai aspek yang utama.

Memang, setiap tim sepak bola pasti mengincar kemenangan. Untuk merengkuh hasil positif tersebut, setiap tim pasti mengerahkan seluruh daya dan upaya. Sayangnya, cara-cara curang masih dilakukan beberapa pemain demi kemenangan tim. Karena itu, saya menjadikan perilaku atau sifat dan karakter sang pemain di lapangan sebagai pijakan saya untuk mendukung sebuah tim.

Setelah Uruguay dan Brasil tersingkir, praktis dalam catatan saya tidak ada lagi nama yang menjadi sorotan bagi saya karena ulah lancung, antara lain dengan melakukan aksi diving di lapangan demi mendapatkan tendangan bebas, hadiah penalti, ataupun membuat pemain lawan diganjar kartu kuning atau bahkan kartu merah. Mereka ialah Luis Suarez (Uruguay) dan Neymar Jr (Brasil).

Namun, kali ini saya ingin memberikan catatan sedikit tentang Neymar. Mantan pemain Barcelona itu memang gemar 'menyelam' atau melakukan aksi tipu-tipu di lapangan hijau. Tak bisa dimungkiri, dalam hal kemampuan mengolah si kulit bundar, Neymar bisa dibilang sangat mumpuni dan masuk jajaran pemain terbaik dunia. Sayang, kepiawaian itu tak diimbangi dengan sikap atau mentalnya saat berlaga.  

Ternyata, tak hanya saya yang sering jengkel dengan ulah pemain yang sering disebut 'layak masuk nominasi Oscar' karena aktingnya itu. Baru-baru ini kiper legendaris Denmark, Peter Schmeichel, menyebut Neymar sebagai pemain lebai. "Sungguh menjengkelkan untuk dilihat cara dia mencoba membuat pemain lain mendapat kartu," kata Schmeichel.

Sebelumnya, legenda sepak bola Prancis Eric Cantona menyindir Neymar dengan lebih 'kejam' dalam sebuah video. "Neymar, kamu pemain hebat dan aktor hebat. Namun, hati-hati dengan kesalahan yang terjadi secara terus-menerus. Jika dipukul di bahu kanan, Anda tidak bisa menangis kesakitan memegang pipi kiri Anda!" sindir Cantona di video itu sambil berpura-pura menangis.

Rupanya sindiran, ejekan, dan bahkan umpatan itu didengar Neymar. Dalam laga perempat final antara Brasil dan Belgia, Neymar berusaha 'menebus dosa-dosanya' selama ini. Pertobatan itu ia buktikan dengan permainannya selama 2 × 45 menit. Neymar bermain sangat 'jujur'.

Hampir tidak pernah dia berguling-berguling atau berpura-pura mengerang kesakitan ketika dilanggar pemain Belgia. Emosinya pun tampak terjaga, tidak meluap-luap. Bahkan, sesekali ia tersenyum. Ketenangan dan kejujuran saat bermain itulah yang membuatnya beberapa kali melahirkan peluang emas meski dewi fortuna belum berpihak kepadanya dan tim Brasil.

Saya pun berharap pertobatan Neymar itu benar-benar merupakan 'tobat nasuhah', sungguh-sungguh, tak hanya di ajang Piala Dunia, tapi juga setelah itu di laga-laga lainnya baik saat membela klub maupun negara.

Nubuat saya, kalau itu benar-benar ia lakukan, Ballon d'Or pun akan menghampirinya. Saya juga bisa berharap dan bahkan merindukannya untuk bergabung bersama rekan sekompatriotnya, Marcelo dan Casemiro, di Real Madrid. (R-1)

 

BERITA TERKAIT