Seri Banun


Penulis: Aravayana - 08 July 2018, 05:40 WIB
img
MI/Caksono

Dari setiap penjuru angin laut kembali menampar. Menggigil dan gemeletuk giginya mengiringi suara ningnong klenongan dari kuningan yang sudah tua usia. Ia masih mengusir sisa-sisa pasir yang lekat di telapak kakinya saat orang-orang mulai balik. Mata Seri Banun menampak mereka menjinjing ember penuh nyale*. Meski hari belum terlalu terang, ia tahu beberapa laki-laki yang sama-sama berbagi malam dengannya mengerling ke arah mukanya yang tak lagi ditempeli riasan. Kantuknya yang mulai meradang bertimpa-timpa dengan penat yang mulai terasa menyiksa. Tapi laki-laki itu belum juga nampak.

Anak kecil itu terdengar merengek. Terasa sedikit hangat waktu ia mencoba menyentuh sikutnya sendiri sebelum mendekatkan tangan kanannya ke badan si kecil. Kelewat hangat. Pasti ada yang tak beres. Mungkin setan-setan yang mendiami pantai sempat mengelus-elus helai rambutnya dan mengalirkan hawa jahat menyusupi badannya. Mungkin juga mereka menitipnya lewat rintik hujan yang menimpali tarian jangger-nya malam tadi yang sudah ia putuskan sebagai kali terakhir. Itu kesepakatannya dengan sang suami.

Seri mulai jengkel. Hari berangsur terang tapi lelaki itu belum juga muncul. Si buah hati kian gelisah dalam gendongannya, orang-orang sudah mulai beranjak pulang, tapi yang dinanti belum juga datang. Dieratkannya dekapannya sambil mengguncang-guncang kakinya yang kembali gatal.

Laki-laki yang dinantikan tak juga tiba. Seri Banun menunggunya muncul keluar dari belokan jalan setapak yang membelah garis pantai di sana. Seperti dulu.

***

Sangat diharapkannya ia muncul. Lelaki itu menjanjikannya satu ember nyale tangkapannya. Dan ia memang muncul dengan langkah gagahnya yang menjejak kerumunan pasir, menyorongkan ember penuh itu untuk dilihat.

"Untuk penari pujaanku seorang. Kalau bisa berikan kesempatan aku merasai masakanmu nanti malam. Aku berdoa-doa ada sedikit berkah untukku," katanya berbunga-bunga manis berguna-guna.

Seri menunduk, kemudian mengangkat mukanya yang memerah, memperlihatkan senyum kecilnya ketika mengintip pelan dari balik pundaknya dan bergegas menjauhi pantai.

Dia muncul dengan sapuq-nya yang rapi, mungkin habis digilas setrika arang. Sang Ibu tak berkomentar banyak di atas tikar waktu si gagah menyalaminya. Dia tersenyum tak kentara hingga lebih nampak sekedar untuk memenuhi syarat saja, dan kemudian seperti tak ambil pusing. Si lelaki pun seperti tak merasai sesuatu lantas mengambil tempat di sekitarnya.

"Tadi sempat tiyang menjangkau sirih di pasar," ucapnya sambil mengeluarkan bawaannya. Bungkusan itu berpindah tempat. Perempuan itu melihat ke arahnya tak sampai sekejap dan ketenangan yang disusunnya sedari tadi mulai terancam. Selalu seperti itu bila ia di depannya. Perempuan tua itu selalu berhasil mengganggu ketenangannya.

Untunglah Seri sudah keluar lagi membawa cerek berbahan kuningan yang biasanya dipakai menyuguhkan air putih. Ditolehnya sekilas sambil mengedipkan sebelah mata. Dibalas sedikit senyum. Hatinya bersorak tapi masih tetap hati-hati, kuatir ada gerakannya tertangkap mata perempuan tua di sebelahnya.

Nyale memang membawa berkah dan keberuntungan baginya. Ia, pemuda miskin tak punya kerja penopang hidup hari ini bisa bertemu Seri Banun dan makan bersama dengan Inaq-nya yang sudah kesohor paling cepat berubah kasar kalau ada laki-laki yang mencoba mendekati putrinya.

Seri Banun si bunga kampung Gerupuk. Sepanjang pantai siapa tak kenal akan ia yang membuat gadis-gadis pesisir merasa iri dan diam-diam mengagumi kemolekannya. Ia baru lima belas tahun dan punya bulu halus di sepanjang betisnya yang seperti mentimun. Kulit langsatnya seperti ditakdirkan menjadi teman setia pasir-pasir putih yang terhampar sepanjang pantai. Dia memang baru lima belas, tapi sesuatu yang membayang di balik baju lambung-nya yang ketat sudah bercerita banyak. Ia seperti pesisir yang menunggu perahu pelaut singgah menghabiskan mimpi. Terlebih kalau tubuhnya sedang mengayun mengikuti suara tetabuhan jangger.

Pemuda itu berniat ambil ancang-ancang pulang waktu perempuan itu mengeluarkan suaranya yang terdengar parau. "Jangan pulang dulu Bah, temani Seri sebentar. Inaq mau ke bawah."

Bah merasakan ada yang bergerak-gerak dalam dadanya. Mungkin ini jawaban doanya sedari malam sampai pagi sambil menangguk nyale di pesisir. Seri Banun menghampirinya dan mereka berpandang-pandangan. Seperti ada badai bergulung-gulung mengalir dari matanya. Bah tahu, gadis itu sedang belajar menaksir-naksir kedewasaan.

***

Bah berdiri melepas pandang ke seluruh penjuru angin. Pantai, laut, ombak yang menyanyi, burung camar, gundukan-bukitan tanah, dan pohon-pohon kelapa yang menjulang. Ia berdiri di atas tanah yang telah turun-temurun menopang hidup keluarga besar kakeknya.

Bagi penghuni pesisir pantai ini, laut itu adalah rahmat Tuhan yang memberikan berkah. Disanalah mereka bergantung saat angin tenang. Jika angin sedang tak tenang dan menampar apa saja yang dijumpainya, pohon-pohon kelapa dan tanaman-tanaman satu musim itulah yang memberi peluang untuk tetap dapat hidup.

Ia mendengar desas-desus yang semakin jelas itu. Minggu lalu penduduk dikumpulkan di kantor desa untuk membubuhkan tanda tangan dan cap jempol pada lembaran kertas kosong. Berita cepat menyebar, lahan pinggir pantai berpasir putih sebesar merica itu akan diambil pemerintah untuk lokasi pariwisata.

Ia tahu kegundahannya sendiri seperti halnya ia mengerti pentingnya tanah itu untuk keluarganya dan keturunannya nanti. Cuma ini yang ada, lain-lain tak ada, tidak boleh sampai tak ada lagi. Kami mau apa nanti?

Siapa yang bisa menjanjikan anak-anakku nanti masih bisa bertahan hidup disini. Kami sudah bertahun-tahun di sini menjaring ikan dan menyiapkan kerbau menjejak tanah ini. Apa yang akan kami lakukan besok-lusa. Adakah jaminan ini bukan kesia-siaan dan harapan indah yang kosong?

Bah mendengar beberapa orang mau juga menyerahkan tanahnya. Memang bayarannya cukup menjanjikan, bisa bangun rumah yang lebih bagus, bisa dipakai beli macam-macam. Sebagian lagi meski merasa terpaksa, namun mau apa lagi, di situ banyak bapak-bapak yang berseragam itu.

Tapi ia lebih kuatir pada bayang-bayang kehidupan suram yang dirasanya mulai mengurung kampungnya secara perlahan. Mungkin saja mereka bisa membangun rumah yang lebih bagus hari ini, mungkin bisa membeli macam-macam atau naik haji. Tapi bagaimana seterusnya nanti? Ia tidak tahu apa yang akan mereka kerjakan bila angin mulai tak bersahabat sementara tanah mereka telah berpindahtangan.

Ketakutannya beralasan. Dua hari lalu, salak senapan menembus pagi yang beranjak siang. Beberapa petani yang pulang awal mengatakan, itu dialami mereka yang menolak menyerahkan tanahnya. Kalau hari ini ia tambah gundah, tidak lain karena di ujung petak tanah peninggalan bapaknya terpancang sebuah tanda. Di sana ada tulisan aneh yang sehari lalu belum pernah dilihatnya: "Milik PT". Ia merasa wajar untuk merasakan gundah. Gundah untuk esok.

***

Hotel berdiri menghalangi pandang ke pantai. Kios-kios souvenir dan kafe berdiri menghias jalur jalan yang dibangun pemerintah di Kuta. Beberapa orang bule nampak kongkow-kongkow sembari mencicip kentang. Pemiliknya, seorang pribumi yang entah kapan mulai menjejakkan kakinya di tanah-tanah berpasir itu.

Kampung itu sepi. Matahari mulai berangkat meninggi. Beberapa orang perempuan menunggu suaminya pulang. Sebagian besar penghuni dusun telah berangkat sejak pagi ke ibukota provinsi. Setelah tanah mereka hilang, menanam rumput laut sepanjang pantai juga dilarang. Mereka ke sana, berharap ada orang-orang yang punya hati manusia dan mengerti penderitaan orang lain.

Suasana sepi itu terkoyak teriakan panjang seorang perempuan. Kemuraman terasa datang begitu saja tanpa bisa ditolak. Mereka tahu, ia Seri Banun penari jangger pada masanya yang beruntung mendapatkan si gagah Bah. Mereka ingat penolakan Bah untuk menjual tanahnya. Mereka yang menunggu suami mereka pulang juga tahu Seri Banun telah menunggu Bah lama sekali.

Seri Banun masih menunggunya membawakannya nyale. Dilihatnya orang-orang berjalan pulang menjinjing ember penuh nyale. Meski orang-orang bercerita suaminya telah hilang ditelan ombak, Seri Banun masih menunggu di situ bersama anaknya.

Dan seperti yang dikira Seri Banun, anaknya memang masih bersamanya di pinggir pantai. Cuma, ia tak lagi dalam gendongannya. Ia telah menjelma seorang dara dan parasnya mirip benar dengan ibunya. Sayangnya, belum pernah seorangpun pemuda membawakan nyale untuknya. Mereka terlanjur takut melihat ibu sang dara. Ibunya, seorang perempuan yang saban hari setia menemani pasir dengan tatapan kosong ke ujung laut.

Lombok, 2018

Aravayana asal Bima bekerja sebagai konsultan lepas dan menulis cerpen. Aktif di Sanggar Fitra, sebuah komunitas kekerabatan budaya beralamat di Mataram, Lombok.

Catatan:

* Nyale ialah sejenis cacing laut yang hanya muncul pada akhir musim penghujan dan dirayakan sebagai festival rakyat di Lombok bagian selatan.

* Sapuq ialah ikat kepala laki-laki di Lombok, semacam Udeng di Bali.

* Tiyang artinya saya,

* Inaq panggilan untuk ibu.

* Jangger ialah sejenis tarian di Lombok,

* Baju Lambung ialah baju adat perempuan Sasak-Lombok, biasa digunakan dalam acara adat atau kegiatan-kegiatan budaya.

BERITA TERKAIT