Lebih Adil dengan Sistem Baru


Penulis: Syarief Oebaidillah - 04 July 2018, 07:45 WIB
ANTARA
ANTARA

SEBANYAK 165.831 calon mahasiswa lolos jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018. Jumlah tersebut merupakan hasil seleksi dari 860.001 peserta pendaftar yang telah mengikuti ujian tulis berbasis cetak (UTBC), maupun ujian tulis berbasis komputer (UTBK) yang digelar secara nasional pada 8 Mei 2018, dan ujian keterampilan pada 11 Mei 2018.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) M Nasir mengucapkan selamat kepada mereka yang lolos masuk PTN pilihan. Bagi yang tidak diterima, Nasir berpesan tidak berkecil hati karena masih banyak kesempatan menempuh jalur seleksi mandiri, atau beralih ke perguruan tinggi swasta (PTS).

"Kita punya 4.000 lebih PTS yang tercatat di laman Pangkalan Data Pendidikan Tinggi atau PDPT. Tolong dicek apa perguruan tinggi itu aktif atau tidak. Semoga yang aktif jadi pilihan anak Indonesia,” ujar Nasir dalam jumpa pers Jakarta, kemarin.

Nasir didampingi Ketua Panitia SBMTPN 2018 Ravik Karsidi, Ketua Majelis Rektor PTN Indonesia (MRPTNI) Kadarsyah, Sekjen Kemenristek-Dikti Ainun Naim, serta Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek-Dikti Intan Ahmad. Dalam kesempatan itu, Sekretaris Panitia Pusat SBMPTN Joni Hermana mengatakan sistem penilaian baru pada seleksi nasional tersebut lebih adil dan mencerminkan kompetensi pendaftar.

“Dengan sistem penilaian yang baru ini, sistem sudah menyeleksi pendaftar sedemikian rupa sehingga nanti yang diterima merupakan pendaftar yang memang berminat dan memiliki kompetensi pada program studi tersebut,” ujar Joni.

Pada tahun ini SBMPTN memang berganti sistem penilaian dengan tidak lagi menerapkan poin minus untuk setiap jawaban yang salah. Sistem baru memanfaatkan pendekatan teori respons butir, yaitu panitia akan memberikan poin untuk setiap jawaban yang benar, sedangkan jawaban yang salah atau tidak dijawab berpoin nol.

Joni menjelaskan, jika sistem penilaian lama, semua soal nilainya dihitung sama. Berbeda dengan sistem penilaian baru karena soal memiliki tingkat kesulitan yang berbeda pula.

“Kasihan anaknya jika masih menggunakan penilaian lama, begitu lolos ternyata tidak bisa mengikuti. Berbeda dengan penilaian saat ini yang mana yang diterima benar-benar yang kompeten di bidang itu,” papar dia.

Tahun ini, terdapat peningkatan keikutsertaan SBMPTN sebesar 8% dari keikutsertaan tahun lalu yang berjumlah 797.217 peserta. Kenaikan tersebut terjadi lantaran ada penambahan peserta dari PTN dan adanya program studi baru. Universitas pilihan SBMPTN 2018 mencakup 85 PTN. Sejumlah 74 PTN dari Kemenristek-Dikti dan 11 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) ada di bawah Kementerian Agama.


Favorit

Terkait dengan program studi (prodi) favorit, Ketua Panitia SBMPTN 2018 Ravik Karsidi mengatakan, itu tidak jauh   berbeda dari tahun sebelumnya. Untuk sains dan teknologi, prodi yang paling banyak diminati ilmu kedokteran, farmasi, dan teknik informatika. Sementara itu, prodi sosial humaniora yang paling banyak diminati ialah manajemen, akuntansi, dan ilmu komunikasi.
“Sementara untuk prodi baru yaitu aktuaria dan ilmu komputer yang sesuai dengan tuntutan perkembangan terakhir atau era revolusi Industri 4.0,” kata Ravik yang juga Rektor Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) itu.

Ia pun bersyukur pelaksanaan SBMPTN 2018 relatif lancar dan bebas dari perjokian. “Secara keseluruhan proses SBMPTN sejak diluncurkan pada Januari lalu hingga pengumuman hasil seleksi berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti dan seusai dengan proses yang sudah direncanakan,” kata Ravik dalam kesempatan terpisah.

Lebih lanjut, tahun ini panitia melakukan terobosan dengan memanfaatkan teknologi informasi, yaitu pelaksanaan ujian dengan menggunakan sistem operasi Android. Joni Permana mengemukakan, proses pelaksanaan sesuai dengan harapan.

Namun, ia mengakui masih perlu perbaikan di waktu mendatang. Umpama, soal ujian yang masih merupakan konversi dari versi cetak sehingga tampilannya di layar ponsel Android relatif kecil dan menyulitkan peserta. Ada pula aspek keamanan yang masih harus ditingkatkan karena menggunakan wi-fi yang rawan diretas. (Gnr/Ant/S-2)

BERITA TERKAIT