Anemia Sering tidak Disadari


Penulis: (*/H-2) - 04 July 2018, 06:00 WIB
img

FUNGSI sel darah merah sangat penting dalam tubuh manusia, yakni mengikat oksigen dan meng­angkutnya ke sel-sel tubuh untuk proses pembentukan energi. Oleh Karena itu, kecukupan jumlah sel darah merah harus dipenuhi.

Kekurangan sel darah merah disebut anemia. Secara statistik, 1 dari 5 orang di Indonesia menderita anemia dengan perempuan lebih berisiko ketimbang pria. Prevalensi yang besar ini masih menjadi sebuah tantangan di masyarakat karena rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap anemia.

“Terlebih, penyakit ini berlangsung pelan. Jadi, sering penderita tidak menyadari dirinya menderita anemia,” ujar Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia, Prof Endang L Achadi, dalam ­diskusi ­kesehatan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, anemia dapat disebabkan banyak hal, seperti kehilangan darah dalam jumlah banyak saat kecelakaan ataupun menstruasi, penyakit cacingan, talasemia, dan kekurangan zat besi.

“Setengah dari kasus anemia di dunia disebabkan oleh anemia defisiensi besi,” kata Endang.

Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan sebuah kondisi ketika seseorang kekurangan sel darah merah yang disebabkan karena minimnya zat besi dalam tubuh. Zat besi ialah bahan yang diperlukan tubuh untuk membentuk komponen sel darah merah yang dinamakan hemoglobin (HB). ­Hemoblogin adalah substansi yang berperan dalam mengikat oksigen untuk dibawa ke dalam sel-sel tubuh.

“Gejala ADB yang paling umum ialah lemah, lunglai, lemas, lesu, dan letih (5L). Gejala lainnya yang bisa muncul adalah pusing yang berkunang-kunang, kulit yang pucat, dingin, kekuningan, mata ke­ring, napas pendek, nyeri dada, dan jantung yang berdebar-debar.”
Secara medis, seseorang dapat dikatakan anemia didasarkan pada kadar HB-nya. Seorang laki-laki dikatakan menderita anemia jika memiliki kadar HB kurang dari 13 gr%. Pada seorang perempuan yang tidak hamil dikatakan menderita anemia jika memiliki kadar HB kurang dari 12 gr%. Pada perempuan hamil HB kurang dari 11 gr%.

Sumber pangan hewani
Untuk menghindari anemia defisiensi besi, Endang menganjurkan untuk setiap orang harus rutin mengonsumsi makanan yang tinggi zat besi, seperti hati ayam, hati sapi, daging merah, dan ikan. Zat besi juga dapat diperoleh dari kacang-kacang, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Namun, Endang lebih menyarankan konsumsi zat besi dari produk hewani.

“Sebenarnya dari produk nonhewani bisa, seperti buah, sayur, kacang-kacangan, tapi konsumsinya harus dalam jumlah yang banyak untuk memenuhi kebutuhan zat besi. Lebih baik konsumsi dari produk hewani.”

Selain itu, Endang juga menganjurkan setiap orang untuk mengonsumsi tablet penambah darah satu minggu sekali. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan karena dewasa ini pola makan masyarakat cenderung belum sesuai dengan konsep gizi seimbang.
“Tidak usah takut, kalau nantinya (zat besi) dari makanan kebutuhannya sudah mencukupi, kelebihan yang didapat dari tablet penambah darah akan dibuang oleh tubuh,” tutur Endang.

Endang pun kembali mengingatkan agar masyarakat menerapkan pola makan gizi seimbang, yakni seperempat piring karbohidrat, seperempat piring daging atau ikan, dan selebihnya sayur-sayuran serta buah. Kandungan vitamin C dalam buah-buahan terbukti membantu penyerapan zat besi.

“Dengan membiasakan pola makan yang seperti ini dapat menghindari seseorang dari terkena anemia defisiensi besi.”

Selain itu, Endang mengajak agar masyarakat tidak mengonsumsi kopi, teh, dan susu sesaat setelah makan. Penelitian membuktikan hal itu dapat mengurangi penyerapan zat besi bagi tubuh. (*/H-2)

BERITA TERKAIT