Kriteria untuk Dapat Jalani Lasik


Penulis:  (*/H-2) - 04 July 2018, 05:45 WIB
THINKSTOCK
THINKSTOCK

Laser Assisted In Situ Keratomileusis (Lasik) merupakan salah satu teknologi bedah di bidang mata yang dapat diandalkan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita gangguan refraksi. Dengan lasik, penderita mata minus, plus, dan silindris dapat melihat jelas tanpa kacamata maupun softlens.

“Namun, tidak semua penderita gangguan refraksi bisa mendapat tindakan lasik. Ada kriterianya,” ujar Dokter Spesialis Mata, Sophia ­Pujiastuti, pada diskusi yang di­selenggarakan Silc Lasik di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, sebelum seseorang bisa menjalani lasik, perlu dilakukan beberapa pemeriksaan oleh dokter, yaitu pemeriksaan tajam penglihatan sebelum dan sesudah koreksi menggunakan kacamata, pemeriksaan bola mata, pemeriksaan tekanan bola mata, pemeriksaan topografi atau pemetaan kornea, pemeriksaan ketebalan kornea, pemeriksaan ukuran pupil, dan pemeriksaan air mata.

“Setelah itu semua dilakukan, akan ditentukan apakah seseorang memenuhi kriteria untuk dilakukan lasik atau tidak.”

Kriteria untuk dapat menjalani lasik, yakni penderita mata minus  (miopia) -1.00 D sampai -13.00 D, astigmatisme (silindris) -1.00 D sampai -5.00 D, dan hipermetropia (mata plus) +1.00 D sampai +4.00 D.

“Kondisi kelainan refraksi itu harus stabil selama 6-12 bulan. Misalkan, seseorang mengalami miopia -2.00 D, maka selama 6-12 bulan harus dicek apakah tetap sama atau tidak, jika tidak sama dan bertambah, maka lasik belum bisa dilakukan. Harus menunggu sampai kelainan refraksi stabil,” terang Sophia.  

Menurutnya, tindakan lasik baik­nya dilakukan di atas usia 18 tahun karena di bawah usia itu biasanya ukuran koreksi refraksi atau ukuran kacamatanya belum stabil sehingga dikhawatirkan akan muncul kelainan refraksi atau ukuran kacamata baru setelah lasik.

“Lasik juga sebaiknya tidak dilakukan ketika sedang hamil atau menyu­sui karena saat itu terjadi perubahan hormon yang tidak seimbang pada wanita sehingga lebih rentan terhadap infeksi. Hal ini merupakan kondisi yang kurang baik untuk dilakukan tindakan lasik. Selain itu, tidak dianjurkan juga jika memiliki gangguan mata lain, seperti ­katarak dan diabetik retinopati,” papar Sophia.

Ia menambahkan, tidak ada kondisi medis khusus yang membuat lasik harus dilakukan. Lasik, lanjutnya, hanya merupakan pilihan untuk mereka yang merasa tidak nyaman terus-terusan memakai kacamata maupun mereka yang memang butuh hidup yang lebih berkualitas tanpa kacamata demi mengejar cita-cita.

Contohnya Debby Debora. Dulu impiannya menjadi pramugari sempat pupus sebab matanya minus 13.

“Berkat lasik, saya dapat mengejar mimpi hingga saat ini bisa be­kerja sebagai pramugari.” (*/H-2)

BERITA TERKAIT