SMRC: Hasil Exit Poll Selaras dengan Hitung Cepat


Penulis: Antara - 03 July 2018, 18:19 WIB
img
Ist

HASIL survei opini publik yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melalui exit poll pada hari pemungutan suara pemilihan kepala daerah di enam provinsi menunjukkan adanya konsistensi dengan hitung cepat atau quick count.

"Pasangan calon yang memenangkan pilkada dari hasil quick count juga unggul dalam exit poll," kata Direktur Riset SMRC Deni Irvani saat menyajikan hasil penelitian SMRC tentang exit poll pemilihan gubernur di enam provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan, di Jakarta, Selasa.

Menurut Deni, temuan ini perlu ditekankan untuk menjawab keraguan sejumlah pihak terhadap manfaat survei opini publik mengingat adanya selisih besar antara hasil survei yang dilakukan Mei lalu dengan hasil quick count di sejumlah pilkada, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara.

Temuan di exit poll SMRC ini menunjukkan perolehan suara masing-masing kandidat tidak berbeda secara signifikan dengan perolehan suara quick count.

"Kalaupun ada perbedaan kecil, itu bisa terjadi karena alasan teknis, seperti di exit poll tetap ada responden yang tidak mau menjawab, sementara di quick count tidak ada kategori tidak menjawab," kata Deni.

Hasil exit poll, kata dia, mendekati hasil quick count. Di Pilkada Jawa Barat, misalnya, data exit poll menunjukkan pasangan Ridwan-Uu memperoleh dukungan suara 32 persen. Sementara pasangan Hasanuddin-Anton 9,1 persen, Sudrajat-Syaikhu 25,1 persen, Deddy-Dedi 21 persen, dan tidak tahu/tidak menjawab 12,3 persen.

Hal serupa terlihat di Pilkada Jawa Tengah. Pasangan Ganjar-Taj Yasin memperoleh dukungan suara 59,2 persen dan Sudirman-Ida 30 persen. Tidak tahu/tidak menjawab 10,8 persen.

Menurut Deni, kalau ada perubahan antara hasil survei Mei lalu dengan hasil quick count, itu bukan terjadi karena kesalahan penelitian, melainkan karena adanya perubahan sikap para pemilih.

Adapun soal perubahan sikap pemilih pada calon yang ditunjukkan dari hasil exit poll, menurut Deni perubahan itu bisa terjadi karena kampanye dan sosialisasi calon yang satu lebih kuat dari yang lain.

Data exit poll juga menunjukkan ada hubungan kuat antara pilihan pada partai pengusung atau pendukung dengan pilihan pada calon gubernur terkait, tapi hubungan tersebut jauh dari sempurna.

Ia mencontohkan kasus Jawa Barat, jumlah pendukung partai-partai yang mendukung Ridwan-Uu jauh lebih sedikit dibanding partai-partai pendukung/pengusung Sudrajat-Syaikhu dan Deddy-Dedi. Namun, Ridwan-Uu mendapat suara lebih besar. Demikian juga untuk kasus Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. (OL-4)

BERITA TERKAIT