Orange Group Undang Investor RI Bisnis di Nigeria


Penulis: Micom - 02 July 2018, 08:00 WIB
img
Ernest Ezenna ----MI/Adam Dwi

SEBAGAI sesama negara berkembang, Indonesia dan Nigeria punya banyak kesamaan. Mulai gaya hidup masyarakatnya, demografi, iklim, makanan, hingga sama-sama bergantung pada sumber daya alam (SDA). Situasi politik di kedua negara yang masih berjibaku dengan para koruptor pun punya kemiripan.

Meski demikian, Ernest Ezenna, Direktur Pengembangan Bisnis Orange Group Nigeria, mengatakan perbedaan keduanya ialah Indonesia sedikit lebih ‘maju’ daripada Nigeria. Ia melihat Indonesia seperti 10-15 tahun lebih maju daripada Nigeria.

“Karena itu saya senang berada di Indonesia karena saya punya kesempatan untuk melihat bagaimana Nigeria 10-15 tahun ke depan. Itu membantu saya untuk memprediksi ke arah mana Nigeria akan melaju dan juga menyusun struktur perusahaan yang saya pimpin,” kata Ezenna di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Karena melihat kemajuan Indonesia, Orange Group, perusahaan yang fokus pada barang konsumsi (consumer goods) di bidang farmasi, makanan-minuman, personal care, dan pencahayaan itu pun ingin mengajak perusahaan Indonesia untuk bekerja sama mengembangkan Nigeria.

Hal itu setidaknya setelah keberhasilan kerja sama Orange Group dengan sejumlah perusahaan farmasi dan dunia kesehatan Indonesia yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Di antaranya PT Kalbe Farma (lebih dari 30 tahun), PT Tempo Scan Pacific (lebih dari 20 tahun), PT Dexa Medica (lebih dari 20 tahun), dan PT Mensa Group (lebih dari 10 tahun).

Kini setidaknya ada dua sektor usaha yang dilirik Orange Group di Indonesia, yaitu kepala sawit dan retail. Kelapa sawit, menurut Ezenna, merupakan sektor usaha prospektif di Nigeria karena masih banyak lahan yang belum tergarap di negara yang berada di kawasan Afrika Barat tersebut.

Bagi Orange Group, kelapa sawit menjadi bahan baku penting bagi salah satu unit usahanya, yaitu produksi sabun. “Kami sedang mencari beberapa potensi mitra yang ada di sini. Sejumlah nama besar dalam bidang kelapa sawit pun sedang kami jajaki karena kelapa sawit bukanlah investasi jangka pendek sehingga kami pun mencari mitra yang punya kemampuan teknis untuk itu,” ujarnya.

Terkait dengan retail, adanya dua gerai retail ternama yang banyak tersebar di Indonesia juga menarik perhatian Orange Group. Ezenna bahkan menyebutkan, kompetisi retail di Indonesia sangat menarik karena banyak yang dibangun dalam jarak yang berdekatan di area strategis dijangkau masyarakat.

“Di negara saya, toko retail seperti itu hanya bisa ditemui di area SPBU, di sini sangat menarik. Terlebih, pola konsumsi warga Nigeria dan Indonesia cenderung sama, yaitu lebih sering membeli dalam jumlah yang kecil sehingga cocok dengan toko retail,” tandasnya.

Terkait dua lini usaha tersebut, Orange Group pun kini gencar mencari mitra di Indonesia yang punya kemampuan teknis yang bisa dikembangkan di Nigeria. Ezenna menyadari, investasi, khususnya kelapa sawit merupakan instrumen investasi jangka panjang.

Namun, besarnya jumlah lahan yang bisa digarap di Nigeria untuk perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu modal penting. Nigeria yang pada 1960-an menjadikan kelapa sawit sebagai komoditas ekspor terbesarnya, kini berada dalam 5 besar produsen kelapa sawit di dunia.

Lihat sisi positif
Meski demikian, Ezenna mengakui, masih ada stereotipe negatif yang melekat pada Nigeria. Wilayah Afrika Barat sendiri, menurutnya, belum banyak dilirik sebagai tempat berinvestasi.

Stereotipe negatif yang sering muncul meliputi faktor keamanan, stabilitas politik, dan kemiskinan. Namun, Ezenna menegaskan, saat ini Nigeria menjadi salah satu negara dengan tingkat keamanan terstabil di benua Afrika.

Ia pun merujuk terhadap mitra Orange Group dari Indonesia di bidang farmasi yang mampu bertahan di Nigeria. Dengan kesamaan kultur, perusahaan asing, khususnya dari Indonesia perlu melihat Nigeria secara utuh dan melihat langsung potensi yang ada di sana.

“Itu jadi tantangan terberat untuk meyakinkan mereka soal Nigeria yang punya potensi pasar yang besar. Cara termudah memang dengan menerbangkan mereka ke Nigeria dan membawa mereka mengelilingi Nigeria,” tutur Ezenna.

Berdasarkan studi yang dilakukan Bank Dunia pada 2016, Nigeria yang memiliki populasi 186 juta jiwa, memiliki pendapatan domestik bruto (PDB) sebesar US$405 miliar dengan pendapatan per kapita sebesar US$2.170. Potensi ekonomi lainnya dari Nigeria ialah 60% dari total populasi merupakan anak muda dengan usia di bawah 30 tahun.

Ezenna menegaskan, pihaknya punya riwayat panjang dalam melindungi mitra kerjanya dari negara lain. Buktinya ialah sejumlah penghargaan yang diraih Orange Group. Antara lain menjadi pabrik manufaktur terbesar ketiga dengan adanya Kalbe Farma dalam investasi internasional, dan menjadi pasar ekspor terbesar bagi Tempo Scan Pacific, Dexa Medica, dan Mensa Group. Orange Group juga meraih gelar Manufacturer of the Year pada harian SUN.

“Saat ini Orange Group sudah memiliki 12 depot dan retail di seluruh Nigeria, kemudian dua depot di Ghana. Kami saat ini memiliki sekitar 400 staf dan dua fasilitas manufaktur,” tandas Ezenna.

Selain Indonesia, sejumlah perusahaam dari negara lain pun banyak yang berinvestasi di Nigeria. Salah satu sektor yang banyak diincar ialah di bidang energi (Gnr/S1-25)

 

BERITA TERKAIT