Laku Manusia Luka Lautan


Penulis: MI - 01 July 2018, 12:30 WIB
DOK. MULLER MULYADI
DOK. MULLER MULYADI

MEDIUM mayor menyambut mata saat memasuki Balai Budaya Jakarta, Jakarta Pusat, Sabtu (23/6) lalu. Terlihat moncong panjang ikan marlin yang terengah-engah menembus rombengan jejak manusiawi menempel di tubuhnya.

Sementara itu, separuh tubuh hingga ekornya tertinggal dari kerumunan 'laku manusia'. Botol minuman, gabus, sandal, bertumpuk dengan dedaunan pohon salise (ketapang).

Karya berdimensi 100 cm x 360 cm dalam empat panel tersebut menjadi etalase mata kita untuk menerobos lebih banyak karya-karya ciptaan John Semuel, lelaki pulau yang datang ke belantara metropolitan bersama salah satu rekannya, Fadjar Sahante. Keduanya memamerkan karya terbaru mereka dalam pameran seni rupa bertajuk #2 Minahasa Menembus Batas di Balai Budaya Jakarta, hingga 28 Juni 2018.

Dalam lukisan bermateri akrilik yang bertajuk Menuju Kemenangan, John ingin memberi pesan betapa perih upaya si ikan Tindalung (marlin) itu dalam menerobos timbunan sampah lautan, menuju laut yang terbebas dari serak keruh manusia.

Dalam karyanya kali ini, John mengeksplorasi biota bawah laut Talise, daerah di Minahasa Utara, melalui medium ikan. Kita bisa saja menjumpai keindahan ikan yang menari-nari, warna gemerlap bak akuarium hiasan. Sayang, ada jejak-jejak yang melukainya.

Bila John lebih menyorot perilaku manusiawi yang mengacaukan keseimbangan alamnya. Fadjar Sahante mengambil ruang kecil lewat karakter yang juga teramat kecil, kuda laut. Dari beberapa karyanya yang dipamerkan, jarang Fadjar menyapukan kuas merah darah. Ia lebih banyak berbicara perihal kebersamaan, kebersahajaan, dan ketenangan.

Kuda laut yang tampak mungil di mata manusia, seolah jadi refleksi akan sejauh mana manusia menghidupi kasih terhadap sesamanya. Salah satunya, melalui Un Happy Ending, Fadjar menjejerkan enam kuda laut berpasangan. Sementara itu, satu di sudut panel menyendiri, dalam tujuh panel yang ia beri warna latar cerah. Fadjar seolah ingin memberi hipotesis pada kita, bagaimana laku kasih sayang manusia, pada mulanya, hingga pada akhirnya kita menjadi penyendiri. Apa yang tersisa dari kasih sayang itu, apakah sebatas material?

Sementara itu, pada karya Terjebak, Fadjar Sahante lebih banyak menyuguhkan harmonisasi lewat wujud mungil kuda laut. Ikan dengan warna keemasan itu, memonyongkan mulutnya pada jerat bubu (perangkap bambu), dan dalam sapuan kuas Fadjar, muncratlah darah dalam arus laut itu.

Dalam kanvas 125 cm x 400 cm itu, Fadjar tak cukup merupakan satu tragis. Di sudut kanan bawah, ia mengusap semburat darah dari balik gerombolan ikan-ikan kuning berukuran lebih kecil dari vocal point karya.

Orkestrasi laut biru dan jutaan ikan talise harus terdistraksi dengan kehadiran muncratan laku manusia yang mengakibatkan luka alamnya. Masih juga ditemui dalam karya John, yang menyorot tragis bawah laut, dengan rupa ikan yang kenampakannya mirip lele, mulut bagian atasnya tersangkut kail pancing. Sementara itu, mulut bawah terjerat perangkap yang telah terpancang di dasar. Atau lebih ironinya, John menghadirkan laku manusia lewat bom yang ditebar untuk mendapatkan ikan.

Jadi refleksi

Manusia memang tak pernah terbebas dari laku bersih. Kehadiran kita, seolah sudah menjadi pertanda pengacau harmonisasi alam, dengan atribut laku kehidupan keseharian, bila tak ingin disebut sebagai penyeimbang. Itu pula yang ingin John utarakan lewat karya-karyanya. Mantan Kuntua (Kepala Desa) ini, seolah ingin menjadikan kanvasnya sebagai cermin pengakuan dosa.

"Saya merasa banyak masalah, persoalan hidup. Saya ingin menawarkan suatu permenungan. Kita bisa melihat diri sendirilah, enggak ada orang mengaku secara jujur masalah dan perilaku kita. Di satu sisi, fakta alam, bahwa di laut orang tidak menyadari membuang sampah seenaknya," papar John.

"Dalam proses kreatifnya belakangan ini, ia melakukan perjalanan ulang-alik, antara melihat keluar dan ke dalam diri. Karya-karyanya merupakan solilokui tentang dirinya sendiri dan rahasia hidupnya," ungkap Yusuf Susilo Hartono, kurator pameran.

Cerminan karya Fadjar juga menjadi refleksi bagi dirinya, yang merupakan Pentua (pelayan Gereja) di Pulau Bangka, tempatnya ia bermukim. Harmoni kasih sayang tentu lekat dengan sosok ini.

Apa yang kita tinggali untuk alam ini? Seonggok plastik, semburat darah demi urusan perut, atau pelukan hangat sebagai wujud harmoni kasih manusia pada alamnya? Agar laku kita tak menjadi luka bagi sesama.

BERITA TERKAIT