Tukang Kasur


Penulis: Adam Gottar Parra - 01 July 2018, 04:30 WIB

MAYAT Mak Samah ditemukan mengambang di Kali Suwung, tersangkut di rumpun enceng gondok. Dua warga yang tengah menjala ikan sapu-sapu, segera mengenali mayat berkutil sebesar biji salak di pipi kanan itu, juga baju sweater bergambar burung penguin yang biasa dikenakan Mak Samah, membuat kedua pria itu merasa yakin bahwa sosok mayat di depan mereka adalah Mak Samah, tetangga mereka yang dikabarkan hilang sejak tiga hari lalu. Kamto merogoh HP butut di saku celananya, menelepon Pak RT. Tak lama berselang terdengar lengkingan sirene mobil polisi dan ambulans bersipongang di udara meningkahi suara hiruk-pikuk kota besar.

"Dia tetangga kami, Pak...!" jelas Kamto, pada polisi yang baru datang dan berdiri di antara rumpun pisang di bantaran kali. Polisi itu memerintahkan supaya mayat perempuan itu dinaikkan ke bantaran kali, sementara menunggu mobil ambulans yang masih tertahan kemacetan lalu-lintas di prapatan. Setelah berkomat-kamit melafaskan surah Al-Fatihah, Kamto dan Suhin menyeret mayat Mak Samah ke pinggir. Untung mereka sudah terbiasa dengan bau sampah di sepanjang sungai, sehingga tak jijik dengan bau busuk yang meruap dari tubuh Mak Samah yang dirubungi lalat dan belatung.

Di leher dan punggung Mak Samah terdapat luka bekas tusukan benda tajam, sehingga polisi menyimpulkan, bahwa korban dibunuh dulu baru dibuang ke kali. Bukan mati tenggelam, seperti yang diduga Pak RT, karena letak rumah Mak Samah yang berada persis di pinggir kali yang tanahnya longsor.

"Oh ya, benar, ini mayat Mak Samah, warga kami." kata Ketua RT memastikan, setelah memperhatikan dua gigi depannya yang ompong dan kutil di pipi kanan Mak Samah, "Beliau memang punya kutil." ujarnya, lalu membantu meletakkan jasad Mak Samah di kantong mayat untuk digotong ke mobil ambulans yang sudah menunggu di ujung jembatan.

"Ya, benar ini Mak Samah." ujar seorang pria, yang merasa mengenal Mak Samah di masa muda, setelah melihat tatto "kupu-kupu" di punggungnya.

Di masa muda Mak Samah adalah seorang "primadona" di pinggir rel kereta api dekat stasiun Tanah Miring. Selain jadi wanita penghibur, Mak Samah juga terlibat dalam kegiatan mata-mata. Tapi itu dulu sebelum pecah Gestapu, yang membuat Mak Samah harus terdampar di hutan kecil di pinggir kali yang banyak biawaknya. Selama puluhan tahun bersembunyi di hutan pinggir kota itu, sudah tak terhitung jumlah biawak yang dimakan oleh Mak Samah. Hingga lambat-laun orang-orang mulai lupa dengan peristiwa berdarah itu, begitu juga warga yang sebagian adalah pendatang baru, termasuk Ketua RT, tak mengetahui latar belakang kehidupan Mak Samah.

***

Sehari-hari ia dikenal sebagai tukang kasur. Di rumahnya yang menempel dengan bantaran sungai, banyak sekali terdapat kasur bekas. Untuk mendapatkan bahan-bahan membuat kasur, Mak Samah akan menghadang kasur-kasur bekas yang hanyut dari hulu.

Seperti biasa kalau ada warga yang meninggal dunia, benda-benda milik mendiang, seperti pakaian, kasur, bantal, dan lain-lain, akan dibuang oleh keluarganya, dengan alasan supaya mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi alasan yang sesungguhnya adalah rasa takut pada orang mati. Orang-orang di kota kami sangat takut pada orang mati, hatta yang mati itu adalah orang yang sangat mereka cintai. Apalagi yang mati dengan tidak wajar seperti bunuh diri atau dibunuh, orang-orang amat ketakutan. Dari peristiwa kematian itu juga akan muncul berbagai cerita horror tentang hantu pocong yang gentayangan di malam hari, karena yang bersangkutan belum rela meninggalkan dunia ini. Kepercayaan berbau takhayul itu telah menginspirasi beberapa televisi swasta untuk menggarap tayangan bertema hantu, sehingga semakin sempurnalah kebodohan masyarakat yang tidak punya tradisi membaca ini. Mereka tumbuh menjadi masyarakat yang naif, yang takut pada perasaannya sendiri. Sehingga barang-barang milik mendiang seperti pakaian, kasur, bantal, dan lain-lain, akan dibuang ke sungai.

Dengan modal rakit bambu dan galah pengait, Mak Samah akan menjemput setiap kasur bekas yang hanyut di sungai, lalu menyeretnya ke pinggir. Sehari ia bisa mendapatkan 3 atau 4 kasur bekas, tergantung jumlah orang yang meninggal. Semakin banyak orang yang meninggal dunia akan semakin banyak ia mendapatkan kasur bekas. Ketika musim krismon tempo hari, Mak Samah bisa mendapatkan 6 sampai 10 kasur bekas sehari, karena banyak sekali warga yang meninggal akibat kurang gizi atau busung lapar. Sehingga saat-saat krisis seperti itu akan selalu ditunggu-tunggu oleh Mak Samah. Kalau pada hari-hari biasa pemasukan Mak Samah rata-rata Rp 150-250 ribu perhari, tapi di musim krisis, ketika warga menjerit-jerit untuk memenuhi kebutuhan dapurnya, Mak Samah justru sebaliknya, pendapatannya meningkat tiga kali lipat, sehingga ia bisa membangun sebuah rumah batu di kampung, yang kini ditempati keluarganya.

Setelah dibongkar dan dijemur sampai kering, onggokan-onggokan busa dan kapas itu akan dimasukkan ke dalam kain kasur yang baru. Sambil menjahit kasur baru, sebentar-sebentar mata Mak Samah akan memandang ke sungai. Begitu tampak onggokan kasur, Mak Samah akan langsung meraih galah pengait, lalu melompat ke atas rakit, dan mendayungnya ke tengah, untuk menjemput kasur bekas itu. Begitulah aktifitas Mak Samah sehari-hari.

Namun tak banyak yang tahu, kecuali satu dua orang, di mana Mak Samah mendapatkan bahan-bahan untuk membuat kasur. Mereka hanya tahu Mak Samah adalah tukang kasur, yang menitipkan kasur-kasur buatannya pada sebuah toko mebel sederhana di Dukuh Bawah. Jarang sekali dari mereka yang pernah turun ke gubuk Mak Samah yang tertutup pohon-pohon di pinggir kali. Mereka hanya bertemu Mak Samah saat berpapasan di los pasar. Selebihnya mereka tak banyak mengetahui tentang wanita gemuk yang selalu mengenakan sweater bergambar burung penguin itu.

***

Entah siapa yang menyebar SMS, bahwa kasur buatan Mak Samah bahan-bahannya berasal dari kasur bekas milik orang mati. SMS itu masuk ke ponsel Marni saat dia dan suaminya beranjak ke kamar pengantin seusai acara akad nikah.

"Bang, kasur ini dibeli di mana?" tanya Marni pada suaminya, dengan wajah panik, sambil menunjuk ke tempat tidur bertabur bunga melati itu.

Ditanya seperti itu, wajah Gufron tampak bingung. "Kok bertanya seperti itu? Memang ada apa?"

"Jawab! Dibeli di mana? Kok balik nanya?" kata Marni, ketus, tanpa menunjukkan SMS gelap itu. Karena kalau SMS itu ditunjukkan, Gufron tentu akan merubah jawabannya.

Karena tidak dijawab, Marni mendesak lagi, "Tolong dijawab! Dibeli di mana?"

"Siapa pun tahu, bahwa semua kasur yang dipakai oleh warga Kampung Muara dibeli di Dukuh Bawah." jawab Gufron.

"Kasur Mak Samah?" mata Marni terbelalak.

"Ya. Kenapa?" tanya Gufron.

"Aku tidak mau tidur di kasur bekas orang mati!" kata Marni, menunjukkan SMS itu pada Gufron. Setelah itu, tanpa permisi pada suami dan mertuanya, Marni langsung kabur, pulang ke rumah orangtuanya dengan naik taksi. Maklum perempuan masih hijau, baru tamat SMK, belum bisa membedakan baik-buruk.

Seketika terjadi kehebohan di rumah itu. Padahal baru saja ditinggalkan oleh tamu-tamu yang menghadiri acara akad-nikah. Sikap Marni yang kekanak-kanakan membuat keluarga Gufron sangat tersinggung. Merasa terhina.

"Pokoknya ceraikan! Kalau tidak, kamu pergi dari rumah ini!" ancam Ayahnya.

"Ya, almarhum kakekmu itu Lurah. Masak keluarga Lurah dihina oleh anak tukang odong-odong." timpal pamannya, memanas-manasi.

"Pokoknya ceraikan! Tidak bisa ditawar-tawar lagi!" ulang Ayahnya, tersinggung.

Gufron tidak berkutik. Ditekan kiri-kanan, ia hanya tertunduk menahan marah. Di dadanya seolah ada bom molotov yang siap meledak. Ia berdiri dan berjalan ke arah dapur, melewati tumpukan kado yang terserak di karpet. Di dapur Gufron mengambil pisau, lalu keluar lewat pintu belakang dan menghilang dalam gelap.

***

Pagi ini warga menemukan mayat Mak Samah mengambang di Kali Suwung, tersangkut di rumpun enceng gondok. (*)

Mataram, 2017

Sejumlah cerpen Adam Gottar Parra telah diterbitkan di media massa.

BERITA TERKAIT