Natuna dan Senua Semua Jelita


Penulis: Iis Zatnika - 01 July 2018, 03:30 WIB
img
DOK. YULI SEPERI

SEBANYAK 20 pong-pong, kapal kayu yang lazim digunakan nelayan buat memancing tongkol dan aneka hasil laut lainnya, Minggu (30/6) pagi, hilir mudik antara Pelabuhan Ranai Pulau Natuna dan Pulau Senua. Setengah jam berlayar melewati lautan biru yang ombaknya tak terlampau besar, sebanyak 20 penumpang diantar dari Ranai menuju pulau tak berpenghuni itu.

Dari Senua, tanpa penumpang, pong-pong kembali membelah perairan di Laut China Selatan. Begitu terus hingga siang menjelang. Ketika matahari mulai tak terlalu garang, giliran pong-pong mengangkut para pelancong pulang dari Senua.

Ya, pesta itu berlangsung di salah satu dari pulau-pulau terluar Indonesia yang dimuat dalam Direktori Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Festival Pulau Senua yang berlangsung untuk kedua kalinya, menurut Bupati Natuna, Abdul Hamid Rizal, didatangi sedikitnya 15 ribu pelancong.

"Sebagian besar memang warga Natuna, karena tujuannya memang untuk membangkitkan sadar wisata, tapi tentu kita harapkan juga ada wisatawan dari luar. Bahkan, nantinya turis asing yang biasanya datang untuk menyelam atau snorkeling ke sini, juga akan memasukkan festival ini dalam agendanya," ujar Hamid.

Pesta rakyat

Senua yang berpasir putih, hari itu menjadi lokasi keriaan warga nan meriah. Di antara rindangnya pepohonan dan airnya yang sejuk, kontras dengan hangatnya udara, mereka menggelar tikar, bersantap, sesekali bermain air di pantainya yang tenang, dan berkumpul di muka panggung. Ada lomba berdayung di atas perahu kayu yang lazim disebut kolek, panjat pinang hingga memasak.

Saya takjub melihat semangat warga menikmati acara yang menurut Lihun, pengemudi yang mengantar saya selama menjelajah Natuna, diworo-woro melalui RRI, radio yang menjadi penghubung utama antarwarga. Sebagian sibuk berdagang dengan membawa serta kompor hingga es batu, tetapi yang lainnya menikmati betul hari itu. Sebagian besar datang bersama keluarga, tetapi ada pula pemuda dan pemudi yang datang berombongan dengan membawa tenda, seru!

Saya menjajal berenang di pantai berair bening itu, segar dan tak meninggalkan sensasi lengket di tubuh. Ya, karena Senua memang belum dilengkapi dengan fasilitas air bersih yang mencukupi sehingga acara berbilas harus ditunda hingga tiba di Ranai.

Snorkeling juga asyik, walau radius yang harus ditempuh dari pantai bisa mencapai belasan meter, tersedia hamparan karang merah, biru, dan kuning. Ikan-ikan hilir mudik, bintang laut bersantai di antara pasir dan arus pun terbilang bersahabat.

Asisten Deputi Pemasaran (Asdep) I Regional I Kementerian Pariwisata Masruroh, yang membuka acara itu berujar, Senua dan Natuna punya masa depan cerah buat memikat lebih banyak pelancong sehingga Lihun dan supir-supir sewaan yang lazim mengantar turis, akan semakin sibuk nantinya. Kepulauan Riau, provinsi yang menaungi Natuna, ialah penyumbang terbesar dalam industri pariwisata nasional, setelah Bali dan Jakarta.

Jelajah Natuna

Selain Senua yang harus ditempuh dengan berlayar, Natuna sendiri juga tak kalah keren buat dijelajahi. Tujuan utama yang paling sering direkomendasikan warga lokal ialah Alif Stone.

Lokasinya cuma belasan menit saja dari pusat kota. Wujudnya, area yang telah dipagari warga, yang menurut Hery, sang penjaga, semula bermukim di Jakarta, tetapi kini menetap di Natuna. Tak ada ongkos parkir dan tiket masuk yang dipungut, hanya ada sumbangan Rp5 ribu per orang yang dialokasikan buat pemeliharaan.

Alif Stone sendiri merujuk pada kawasan pantai dengan hamparan batu-batu granit menyerupai pemandangan di Belitung, dengan pasir putih di antaranya. Bedanya, di sini sebagian batu itu telah dirangkai sebagai bagian dari bangunan resort, pun dilengkapi semen yang membentuk tangga sehingga pengunjung bisa berpindah dari satu batu ke batu lainnya, memaksimalkan upaya mendapat latar foto terbaik. Heri menjamin, tak ada struktur batu yang dirusak, penambahan elemen lainnya dilakukan minimal sehingga tak mengubah struktur.

Dua batu paling istimewa di sini, batu alif yang disebut menyerupai huruf alif, karena memanjang ke atas, berbeda dengan batu di sekitarnya yang bulat.

Ada juga Asking Stone yang memiliki goresan putih menyerupai rangkaian huruf Arab berlafaz Allah.

Semua dari tongkol

Jika ingin menikmati kuliner lokal sekaligus menikmati pantai yang jadi favorit warga lokal, mampir saja ke Pantai Tanjung yang berpasir putih nan landai. Ada warung-warung lokal yang menyajikan bakso ikan dan kernas, dua-duanya dari ikan tuna. Kernas menyerupai nugget dengan bulatan-bulatan kecil sagu. Ada sambal cabai dengan sensasi pedas asam yang disediakan sebagai cocolan. Sedap!

Sementara itu, buat oleh-oleh, mampir saja ke sekitar kawasan Batu Kapal, batu-batu yang disebut paling besar di sekitar Natuna. Di permukiman nelayan inilah ikan tongkol dan gurita diasap hingga berhari-hari, bahkan bisa awet hingga bulanan. Pedagangnya pun sigap membungkus salai, begitu mereka menyebut hasil laut asap itu dalam kertas dengan lapisan plastik sehingga aman dibawa dalam bagasi pesawat.

Ah, Natuna memang jelita, seperti dikisahkan dalam film Sejuta Sejuba, kisah tentang para perempuan Natuna yang berkasih-kasihan dengan tentara penjaga perbatasan negara.

BERITA TERKAIT