Muhammad Rubby Emir Fahriza Jembatani Pekerja Disabilitas dan Perusahaan


Penulis: Ardi Teristi Hardi - 28 June 2018, 00:45 WIB
Ardi
Ardi

SULITNYA penyandang disabilitas mengakses pekerjaan formal memantik kegelisahan Muhammad Rubby Emir Fahriza. Ia ingin memberikan kesempatan yang sama bagi disabilitas bekerja di perusahaan formal. Ditambah lagi, pria yang akrab disapa Ruby ini kerap berinteraksi dengan disabilitas sehingga ia terinspirasi membantu mereka.

Saat ditemui Media Indonesia di kantornya, di Yogyakarta, Selasa (12/6), Ruby mengungkapkan bagaimana ia memulai membuat start-up kerjabilitas.com yang mulai beroperasi pada Maret 2015.

Awalnya Ruby ingin platform ini memberikan akses informasi lowongan pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Seiring perjalanan waktu, ia menemukan berbagai masalah yang dihadapi para penyandang disabilitas.

"Bukan hanya informasinya, melainkan pekerjaannya (difabel) masih terbatas. Mau tidak mau kita bergerak mengampanyekan supaya penyedia kerja, baik swasta, pemerintah, maupun UKM membuka kesempatan kerja yang setara buat penyandang difabel," ujar Ruby.
Di Indonesia, kata Ruby, pekerja difabel belum terjamin dan masih mengalami diskriminasi. Banyak perusahaan yang memiliki stigma penyandang disabilitas tidak mampu bekerja seperti mereka yang normal.

"Selain itu, perusahaan juga beralasan mereka khawatir kantornya tidak ramah bagi difabel," ucapnya.

Oleh karena itu, Ruby memberikan pelatihan bagi penyandang disabilitas, baik secara daring maupun pelatihan offline. Pelatihan daring yang mereka siapkan seperti cara membuat CV, konsultasi karier, atau mempersiapkan diri menghadapi wawancara. Sementara itu, pelatihan offline seperti kesiapan karier dan masuk kerja.

"Buat teman-teman difabel, bekerja (formal) itu jauh di atas langit. Bercita-cita bekerja pun mereka tak punya, karena sehari-hari mereka hidup dengan hambatannya. Itu memudarkan mimpi mereka untuk bisa bekerja. Jangankan bekerja, ada yang keluar rumah pun kadang tidak boleh orangtua karena dapat diskriminasi dari masyarakat. Kalaupun bekerja, pekerjaan mereka wirausaha karena itu yang paling dekat dengan mereka," ungkap Ruby.

Persuasif
Saat awal beroperasi, Ruby mengaku kesulitan untuk meyakinkan perusahaan membuka lowongan bagi difabel. Setiap hari, ia dan teman-temannya mengecek lowongan pekerjaan yang bereda dan menyaringnya yang bisa dikerjakan difabel. Setelah itu, ia menghubungi perusahaan tersebut untuk menyakinkan mereka bahwa difabel bisa bekerja dengan kriteria yang mereka inginkan.

"Kita kontak (perusahaan) dan kita dekati secara persuasif untuk meyakinkan bahwa difabel bisa bekerja dengan kriteria tidak berubah, ada yang lulusan S1, S2, bisa bahasa Inggris, dan keterampilan-keterampilan yang lain. Tinggal memastikan lingkungan kerjanya ramah difabel atau tidak. Jika semua mendukung, kerjabilitas  akan membantu untuk mempromosikan lowongan tersebut di kerjabilitas tanpa dipungut biaya," paparnya.

"Stigma bahwa difabel cacat. Kalau cacat berarti tidak bisa kerja, di rumah saja, menimbulkan diskriminasi. Padahal, sebagai warga negara difabel mempunyai hak yang sama untuk akses kepada kesempatan kerja," imbuhnya.
Ruby mengaku berbagai penolakan didapatkannya. Hanya 10% perusahaan yang mau membuka diri bagi difabel. Sebagian harus dilakukan negosiasi.

Ditambah lagi, banyak perusahaan yang tidak tahu bahwa pencari kerja disabilitas itu ada. "Terminologi disabilitas ternyata belum banyak dikenal di kalangan dunia usaha maupun penyedia kerja di Indonesia," ujarnya. Seraya mengungkapkan, kerjabilitas sudah bekerja sama dengan 1.500 perusahaan lokal, BUMN, dan multinasional dan telah mempekerjakan hampir 8.000 difabel.

Kesempatan bekerja di perusahaan formal ternyata diatur di UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Berdasarkan pasal 53 UU tersebut, perusahaan wajib mempekerjakan difabel paling sedikit 1% dari jumlah pegawai, BUMN atau instansi pemerintah 2% dari jumlah pegawai.

"Di atas kertas, aturan kita sangat maju sehingga kalau diimplementasikan kerjabilitas kebanjiran lowongan pekerjaan," celetuknya.

Sayangnya, sosialiasi aturan masih belum merata. Termasuk memberikan insentif bagi perusahaan yang mematuhi aturan dan sanksi bagi yang tidak patuh. "Dengan insentif, mereka bisa mengakselerasi diri lagi. Kalau di Jepang, misalnya, mereka dapat potongan pajak atau menggunakan dana CSR untuk proses perekrutan," ujarnya.

Kualitas
Meski begitu, Ruby mengaku mereka masih menemui berbagai kendala. Termasuk dari kualitas difabel yang melamar. Pasalnya, jumlah sekolah dan penyandang disabilitas masih belum sebanding. Mereka yang tinggal di desa masih kesulitan mengakses pendidikan khusus. Ditambah lagi, kualitas pendidikannya pun berbeda dengan sekolah umum.

"Sistem pendidikan sekarang masih ada pemisahan, segregasi, antara difabel dan nondifabel. Memang sudah didorong adanya sekolah inklusi, yaitu siswa difabel yang masuk SMA didorong masuk ke sekolah umum, tetapi kesiapan sekolah umum dipertanyakan," ujarnya.
Perlu diingat, tiga bulan pertama bagi pekerja difabel merupakan saat yang krusial. Pasalnya, mereka harus adaptasi dengan lingkungan kerja dan tim kerjanya. "Masa di mana sering terjadi kegagalan, antara difabel dengan penyedia kerjanya," ucapnya.

Saat memulai kerjabilitas, Ruby berkesempatan belajar langsung di Google Campus, San Francisco, Amerika Serikat, melalui program google launchpad accelerator. Bersama founder start-up dari Brasil dan India, Ruby selama dua minggu belajar tentang product development, marketing, hingga teknologi.

"Intinya, pelatihan itu agar start-up kita benar-benar bisa maju. Yang memberi pelatihan mentor-mentor yang punya keahlian khusus, termasuk dari Indonesia. Kita diberi waktu bertatap muka 1-2 jam setiap mentor untuk mengupas tuntas start-up dan pengembangannya agar lebih baik lagi," ujarnya.

Sekembalinya ke Indonesia, peserta dibekali pendanaan US$50 ribu dan dimentor secara daring selama 6 bulan. Uang tersebut menjadi bekal mereka untuk memulai kerja.

Penghasilan mereka saat ini berasal dari paket berbayar dari perusahaan. Di paket ini perusahaan membayar untuk mencari pekerja difabel sesuai spesifikasi yang mereka mau. Termasuk konsultasi untuk lingkungan kerja ramah disabilitas.

"Kita juga bisa beri pelatihan kepada tim di kantor agar bisa berinteraksi dengan pekerja disabilitas ketika masuk kerja. Sudah ada yang beli paket-paket layanan kita, seperti Bank Mandiri, BNI, Facebook Indonesia, dan lain-lain," ujarnya.Kerjabilitas juga sempat memberikan program pelatihan di Jawa Timur selama setahun untuk melatih agar bisa siap kerja. Program itu menggunakan pendanaan dari USAID.

Meski melihat potensi bisnisnya besar, Ruby sadar perusahaan Indonesia masih belum terlalu siap. Perlu waktu sekitar 5 tahun untuk membuat perusahaan-perusahaan di Indonesia siap memperkerjakan difabel. Sampai waktu itu, kerjabilitas tetap menjadi jembatan bagi penyandang disabilitas.

"Harapannya tetap menjadi jembatan buat teman-teman difabel supaya bisa masuk dunia kerja formal dan buat perusahaan bisa membantu mencarikan pekerja disabilitas yang berkualitas. Kita tetap ingin ada sampai benar-benar Indonesia sudah inklusif banget," tutupnya. (M-3)

 

 

 

 

BERITA TERKAIT