Hidup bersama Difabel sejak Kecil


Penulis:  (AT/M-3) - 28 June 2018, 00:30 WIB
img
MI/Ardi

KETERLIBATAN Muhammad Rubby Emir Fahriza dalam dunia disabilitas ternyata diinspirasi sang adik. Adiknya merupakan penyandang disabilitas intelektual, kecerdasannya tidak tumbuh sesuai dengan usianya.
"Ia salah satu inspirasiku. Sebelum mengenal disabilitas yang lain, aku sudah hidup dengan adikku sejak dari kecil," kata dia.

Menurut dia, saat berada dalam lingkungan keluarga, penyandang disabilitas bisa jadi tidak menjadi masalah besar. Ia masih berada di dalam perlindungan keluarga. Namun, ketika menengok ke luar, dalam lingkungan masyarakat, penyandang disabilitas bisa menghadapi masalah yang besar karena lingkungan masyarakat yang belum ramah terhadap penyandang disabilitas.

"Siapa pun akan lebih baik hidupnya jika dia bisa hidup mandiri (termasuk penyandang disabilitas)," kata Ruby. Artinya, walaupun dia disabilitas, kalau dia bisa bekerja dan mencukupi kehidupannya sehari-hari, dia bisa hidup lebih bermartabat, tidak tergantung orang, tidak tergantung belas kasihan, ataupun tidak tergantung sedekah.

Pengalaman-pengalaman tersebut yang kemudian memotivasi Emir untuk terjun di dunia disabilitas. Ia mendirikan LSM Saujana, yang salah satu programnya ialah kerjabilitas.com.

Rubby menjelaskan, sebelumnya, ia banyak berkecimpung di dunia pendidikan. Ia pernah terlibat mengajar di Sokola Rimba dan wilayah pascabencana di Aceh.

Pengalamannya sebagai pendidik tersebut membantunya ketika terjun membantu penyandang disabilitas, yaitu memberdayakan teman-teman difabel dengan cara-cara partisipatif.

Teman-teman difabel, menurut dia, sama dengan manusia pada umumnya, kebutuhan mereka berbeda-beda dan berkembang di lingkungan yang berbeda-beda. Ada yang orangtuanya sangat mampu sehingga memandang tidak apa-apa jika anak mereka yang menyandang disabilitas tidak bekerja. Namun, lebih banyak penyandang disabilitas yang hidup dalam kemiskinan.

Seorang difabel rentan miskin karena akses pendidikan dan pekerjaan sangat terbatas. Hampir keseluruhan, teman-teman difabel yang dibutuhkan satu, yaitu diberi kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka mampu.

"Dalam hal pekerjaan, kata teman-teman difabel, mereka tidak minta dikasihani, tidak minta diistimewakan. Yang dibutuhkan, diberi kesempatan. Dari situ, nanti kita bisa buktikan," kata dia.

Ia pun berharap, masyarakat memberi kesempatan kepada penyandang disabilitas biar nanti mereka membuktikan. Jika membuka lowongan pekerjaan, beri juga kesempatan lowongan buat penyandang disabilitas dan biarkan mereka bersaing di situ. (AT/M-3)

 

BERITA TERKAIT