Waspadai Kecanduan Gim pada Anak


Penulis: Indriyani Astuti - 27 June 2018, 02:00 WIB
MI/ BARY FATHAHILAH
MI/ BARY FATHAHILAH

KECANDUAN bermain gim merupakan salah satu gangguan mental yang disebut sebagai gaming disorder. Masuknya kecanduan gim sebagai gangguan mental akan ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam draf International Statistical Classification of Diseases (ICD) edisi ke-11 yang dipublikasikan, WHO menyatakan gaming disorder merupakan pola perilaku bermain gim (gim digital atau gim video) yang terus-menerus atau berulang, (baik secara) online maupun offline.
Menurut dr Kristiana Siste Kurniasanti SpKJ(K), psikiater adiksi yang juga merupakan Kepala Departemen Medik Kesehatan Jiwa RSCM-FKUI menjelaskan, individu dapat dikatakan mengalami gangguan mental berupa kecanduan gim apabila sejumlah gejalanya terpenuhi.
Adapun gejala yang dideskripsikan oleh WHO di antaranya orang yang kecanduan bermain gim tidak bisa mengontrol kegiatan bermainnya. Frekuensi bermain, ujar dokter yang akrab disapa Siste itu, lebih meningkat.

"Misalnya, tadinya (bermain gim) seminggu hanya tiga kali, menjadi setiap hari. Atau dalam sehari semula hanya dua jam menjadi lima jam. Jadi, ada peningkatan frekuensi, lama waktu bermainnya, dan ada peningkatan intensitasnya," katanya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (21/6).

Selain itu, orang yang kecanduan bermain gim lebih memprioritaskan bermain gim daripada melakukan kegiatan sehari-hari. Ia mencontohkan, seorang pencandu gim akan mengutamakan main gim dibandingkan kuliah. Lalu, gejala lainnya, orang yang kecanduan tetap meneruskan bermain gim walaupun ada konsekuensi negatif yang menyertainya, misalnya menjadi drop out dari perkuliahan.

"Kita dapat mengatakan seseorang kecanduan gim apabila orang tersebut memiliki perilaku bermain gim yang terus-menerus dan menyebabkan gangguan yang bermakna pada kehidupan dan fungsi dia," tuturnya.

Menurutnya, sah saja seseorang bermain gim untuk kesenangan. Bahkan, pada orang lanjut usia bermain gim dapat melatih fungsi kognitif mereka.

Namun, ia mengingatkan, apabila aktivitas tersebut sudah sangat mengganggu fungsi seseorang secara personal, relasi, atau hubungan dengan keluarga, orang lain, fungsi sosial, edukasi, dan mengganggu pekerjaan, orang tersebut dapat dikatakan sudah kecanduan bermain gim.

"Ada hasil penelitian yang menyatakan, apabila bermain gim lebih dari tiga jam sehari, dapat menyebabkan kecanduan yang ebih tinggi," ucapnya.

Dapat dicegah
Siste mengatakan, kecanduan bermain gim pada anak-anak dapat dicegah. Salah satunya dengan membatasi anak-anak bermain dengan gawai melalui aturan tegas dan punya batas waktu. Ia lalu menjelaskan, tentang aturan penggunaan gawai untuk anak-anak.
Bagi anak berusia 18 bulan, ujarnya, mereka harus dihindarkan dari gawai. Sedangkan, untuk anak-anak berusia 18-24 bulan, jika ingin menggunakan gawai, harus ada pemantauan atau supervisi ketat dari orang tua.

Kemudian, untuk anak dengan usia 2 hingga 5 tahun, mereka boleh bermain gawai, tetapi waktunya maksimal satu jam dan harus ditemani atau disupervisi oleh orang tua sambil diberikan edukasi.

"Untuk anak berusia lebih dari enam tahun, orang tua harus mempunyai aturan yang jelas. Jam berapa saja anak diizinkan menggunakan internet dengan gawainya. Mereka tidak bisa diberikan secara bebas, tetapi harus dilakukan dengan tegas dan sesuai kesepakatan," tegasnya.

Terapi
Bagi seseorang yang telanjur kecanduan bermain gim dan ingin mereka terlepas dari kecanduan tersebut, kata Siste, tata laksananya dilakukan melalui psikoterapi atau penggunaan obat, jika dibutuhkan.

Pada individu dewasa muda, anak, dan remaja, lanjutnya, terapi bisa melibatkan orangtua. Misalnya, tidak lagi menggunakan internet di ruang privasi, melainkan di ruang keluarga atau ruang makan yang bisa dilihat oleh orangtuanya.

Kalau tingkat kecanduannya sudah tinggi, sambungnya, dokter dapat memberikan obat. Tetapi, ujar Siste, dokter juga akan melihat ada atau tidak kondisi kejiwaan yang menyertai individu tersebut, selain kecanduan bermain gim.
"Pada individu yang kecanduan gim, kebanyakan disertai depresi atau fobia sosial, rasa percaya diri yang rendah, atau gangguan perilaku hiperaktif," ujarnya.

Minta bantuan
Pada kesempatan terpisah, psikolog anak dari Lembaga Psikologi Terapan (LPT) UI Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan, ada berbagai dampak yang timbul jika anak kecanduan bermaim gim. Di antaranya, terganggunya aktivitas lain, seperti belajar, mengerjakan tugas sekolah, kehadiran di sekolah, olahraga, bahkan jam istirahat juga terganggu. Semua itu, ujarnya, dapat membuat menurunkan pencapaian belajar di sekolah.

"Ada beberapa kasus, anak sampai enggan datang ke sekolah. Sosialisasi juga terganggu, karena anak lebih memilih interaksi online via gim daripada sosialisasi aktif di dunia nyata," tutur Vera ketika dihubungi di Jakarta, Minggu (24/6).

Ia mengatakan, orangtua dapat mengenali beberapa perubahan pada anak yang mulai kecanduan bermaim gim. Antara lain, hilangnya minat terhadap aktivitas lain, gelisah, atau sulit sekali tanpa gawai, ketika tanpa gawai masih bicara terus tentang yang berhubungan dengan gawai, emosi berlebihan jika dijauhkan dari gawai, atau diajak bicara soal penggunaan gawai, bahkan berbohong tentang penggunaan gawai.

Menurut Vera, yang harus dilakukan orangtua jika anak sudah mengarah pada kecanduan bermain gim, pertama orangtua dapat mengajak anak bicara tentang dampaknya. "Jika anak cukup dewasa, paparkan dampak yang terjadi langsung pada anak dan juga hasil-hasil penelitian yang sekarang ini sudah banyak mengemukakan tentang dampak kecanduan gim. Buat anak paham mengapa ini menjadi masalah dan mengapa ini harus diatasi," tuturnya.

Kedua, orangtua dapat mengajak anak bekerja sama untuk secara bertahap mengurangi aktivitas gaming dan menyediakan aktivitas pengganti. Aktivitas pengganti penting untuk mengalihkan anak dari gim. "Jika tidak ada kegiatan, anak akan mudah kembali lagi (bermain gim)," ucapnya.

Ketiga, pesan Vera, orangtua jangan segan meminta bantuan guru dan sekolah untuk membantu anak mengurangi aktivitas bermain gim. Misalnya, membatasi penggunaan gawai di sekolah di luar kepentingan belajar. Jika diperlukan, minta bantuan psikolog. (H-1)

 

 

BERITA TERKAIT