Agar Kopi Karo Tetap Sedap dan Harum


Penulis: Thalatie K Yani - 24 June 2018, 03:20 WIB
img
DOK. STARBUCKS

MASUK gerbang warna hijau, mata langsung terpukau dengan pepohonan kopi setinggi 500 cm hingga 1 meter. Semuanya tertata rapi sesuai jenis varietasnya.

Setiap pot ada papan informasi yang menunjukkan jenis varietasnya, tanggal tanam, pola, dan jaraknya, pun populasi, dan tipe tumbuh. Ada andung sari, Gayo, sigarangutang, juga komasti, yang diklaim dilahirkan lewat proses budi daya selama 23 tahun.

Semua itu tertanam rapi di lahan sekitar 3.000 meter persegi di Farmer Support Center (FSC) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Memang saat ini kopi Karo belum terlalu dikenal. Pasalnya, kawasan yang memiliki suhu udara 17-29 derajat celsius terkenal sebagai penghasil jeruk.

FSC ini bisa dibilang sebagai fakultas kopi bagi para petani yang ada di kawasan ini. Tidak semata belajar pembibitan, tapi di lahan seluas 5.000 meter persegi ini juga tersedia pengolahan kopi dan berbagai fasilitas lainnya.

“Tahun ini diharapkan sertifi kat indikasi kopi karo sudah dapat dikeluarkan. Terbitnya sertifikat ini bertujuan untuk memakmurkan petani kopi,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Sarjana Purba. Siapapun petani, kata COO PT Sari Coffee Indonesia, Anthony Cottan, bebas bergabung dalam FSC untuk dibekali pengetahuan mengenai pertanian kopi, terlepas mereka akan menjual hasil panennya pada perusahaan pemilik lisensi Starbucks di Indonesia itu atau tidak.

FSC yang dibuat Starbucks Global ini merupakan proyek sosial yang mengusung misi melatih 200 ribu petani kopi di bawah program coffee and farming euity (CAFE).


Art in a cup

Pada Maret-April lalu, Starbucks Indonesia menghadirkan program Art in a Cup. Dari 10 gelas kopi yang dibeli masyarakat, akan disumbangkan 1 pohon bagi petani kopi di Sumatra. Selama program ini terkumpul donasi sebanyak Rp400 juta.

Awal Juni lalu, Starbucks Indonesia yang diwakili langsung Direktur Starbucks Indonesia, Anthony Cottan, menyerahkan bibit yang berhasil dikumpulkan. Tidak tanggung-tanggung total 300 ribu bibit pohon kopi diserahkan ke 19 kelompok tani. Satu kelompok tani terdiri dari 25 petani kopi.

“Membantu para petani kopi hanya permulaan saja, tetapi kami percaya bahwa peran serta masyarakat dan petani kopi yang memungkinkan keberhasilan tumbuhnya kopi tersebut,” ujar Anthony Cottan. Pria asal Inggris ini menilai Starbucks memiliki kewajiban untuk mengedukasi orang tentang kopi yang bagus. Menurutnya, kopi terbaik berasal dari Sumatra. Angka donasi itu diakui Kepala Agronomis Starbucks FSC, Surip Mawardi, melonjak tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Saat awal FSC dibuka baru 10 ribu bibit kopi yang bisa disalurkan.

Tahun berikutnya dari 30 ribu, hanya 20 ribu yang bisa disalurkan. Sisanya rusak akibat cuaca yang kurang mendukung. Salah satu kelompok tani yang sudah merasakan perbedaannya ialah Armin Giting. Ketua Kelompok Tani Sinergi Fajar Harapan ini belajar budi daya kopi secara partisipatif sehingga ia bisa belajar budi daya kopi yang benar. “Banyak perbaikan yang perlu dilakukan. Yang penting hulunya dulu,” ujar Armin.


Dari bibit ke pohon

Tahukah Anda untuk menghasilkan kopi butuh waktu yang cukup lama. Butuh waktu 6 minggu menghasilkan kecambah atau dalam tahap pentul korek. Daun pertama akan muncul saat bibit berusia 2-4 bulan.

Bahkan, di bulan keempat ini batang pertama akan muncul. Bisa dibilang, satu batang menunjukkan satu bulan pertumbuhan dari pohon ini. Dalam 1 sampai 3 tahun, tanaman ini akan menunjukkan warna hijau ketuaan. Meski sudah berbuah, belum bisa dinyatakan kopi ini berproduksi.

Pohon kopi baru dihitung berproduksi setelah 3 tahun. Saat proses pemetikan kopi, sebaik nya dilakukan tanpa mematangkan batangnya. Pemetikan yang bagus ialah hand pick dengan diputar sehingga bungga kopi yang baru akan keluar di batang yang sama. Untuk menghasilkan 1 gelas kecil (shot) espreso itu dibutuhkan 25 kopi ceri. (M-1)

BERITA TERKAIT