Sungai Hendegran


Penulis: Anas S Malo - 23 June 2018, 23:40 WIB

TAK ada kota di dunia ini yang semenarik kota Khayalan. Kota yang terbelah oleh Sungai Hendregan yang mampu mempertemukan perpaduan keindahan dan nilai filosofis. Sungai ini konon jika seorang yang menceburkan tubuhnya ke sungai, maka hilanglah kesedihannya. Sungai itu menciptakan peradaban. Bangsa-bangsa lahir dari sepanjang aliran sungai itu.

Pesona kecantikan setiap sudut kota mampu menepis cuaca menusuk pada awal musim. Kau mengatakan, jika kota ini pernah mempertemukan gadis dan pria yang menyimpan bara api cinta. Kau juga tahu nama gadis itu. Ya namanya Delina. Kau juga tahu pula nama lelaki yang mencintai gadis itu. Kalau ingatanku tidak berbohong namanya adalah Rush. Lelaki gagah, tampan, pemberani pula, panglima perang di kerajaan pesisir bernama Gundarsi.

Namun demikian kisah kedua sejoli itu, tidaklah sesempurna seperti cintanya yang picisan tingkat tinggi. Waktu itu, kerajaan tengah mengalami pembelotan. Adu domba sering dilakukan oleh satu dua oknum-oknum pejabat yang menyebabkan terjadinya kerusuhan dan kerusakan. Rush tetap membela tanah air dengan segenap darah untuk membela dan melindungi negerinya. Ia tidak terpengaruh dengan segala bentuk hasutan dan ajakan untuk mendukung pemberontakan terhadap kerajaan. Ia adalah lelaki yang teguh pada prinsip. Membela tanah air bagian dari sumpahnya.

Negeri yang indah berangsur-angsur menjadi negeri yang menakutkan. Penuh dengan genangan darah. Penuh dengan jeritan-jeritan kesakitan. Kau tak akan lagi melihat memandang arsitektur bangunan-bangunan yang elok. Yang ada hanyalah puing-puing reruntuhan. Keindahan kota hancur dan keperkasaan benteng Bastion tinggal sejarah. Ledakan demi ledakan beruntun sering terdengar. Suara prajurit beradu pedang menjadi melodi pengantar tidur.

Sebelum penyerang dilakukan oleh jenderal Orgado yang didukung oleh kerajaan-kerajaan bawahan. Rush pergi mengendarai kuda hitam dengan bagian leher sampai ke kaki depan putih. Ia terus memacu kudanya dengan kecepatan maksimal. Kuda terus meringkik, berlari melawati jalan yang dikelilingi pohon-pohon cemara dan pohon pinus. Daun jatuh terbawa angin menimpa pundak Rush.

Rush begitu tampak gagah memakai baju besi, terselip  di pinggangnya sebuah pedang. Pelindung kepala besi. Ia sudah memakai seragam perang lengkap. Ia memasuki sebuah perkampungan yang tak jauh dari pusat kota. Dari kejauhan ia melihat Delina yang mungkin sudah menunggunya.

Di halaman rumah sederhana Delina dan Rush bertemu. Rush turun dari kudanya, menghampiri Delina yang dari tadi sudah tersirat dari raut wajahnya menyimpan kecemasan. Ia mengangkat tangan Delina kemudian mencium dengan ciuman hangat terselip rasa cemas. “Berjanjilah kepadaku, jika perang usai, kau akan menikahiku. Dan, aku tak pernah lupa akan janji untuk membawaku ke Kota Khayalan. Kau pernah berkata, tidak ada kota yang membuat kebahagiaan jtu tumbuh subur dengan alami kecuali berada di kota Khayalan,” ucap gadis berambut hitam berombak itu. Delina menatap Rushdengan mata berkaca-kaca dengan penuh harap.

“Tentu saja Delina. Aku akan mengajakmu pergi ke kota dengan seribu pesona. Kau bisa lihat keindahan desain gedung-gedung menyerupai gedung-gedung surga. Kau bisa lihat sungai yang membelah kota. Airnya sangat jernih. Sangat sejuk. Kabut-kabut menutupi permukaan sungai. Di sebelah utara sungai terdapat gereja Mattias yang menjadi saksi bisu terciptanya kota kebahagiaan ini.
Di atasnya ada jembatan yang menghubungkan dua kota yakni kota Khayalan dan kota Obida di sisi utara. Aku akan mengajakmu untuk naik sampan menyusuri aliran sungai Hendregan seperti angsa putih yang memadu kasih.”

“Apa kau tidak ingin berpikir dulu sebelum bertindak? Mengapa kau tetap ingin melindungi raja yang rakus seperti itu?”

“Aku tidak membela raja yang tidak benar tetapi aku ingin mempertahankan tanah air sampai titik darah penghabisan. Aku hanya ingin teguh pada prinsip. Itulah cara kesatria untuk membela harga dirinya.” Sebelum pamit, ada rasa yang membuat keduanya tampak tak bisa menutupi kesedihan dan kecemasan.

“Berjanjilah untuk kembali untukku dan kota ini,” ucap Delina.

Pasukan pemberontak sudah siap untuk menggempur pasukan militer  istana. Bukan karena memiliki pasukan yang kuat. Bukan juga karena memiliki pasukan yang berjumlah besar atau memiliki senjata yang tangguh tetapi lebih kepada semangat untuk melakukan perubahan. Perubahan untuk mengakhiri dinasti yang lalim. Jenderal Orgado yang memimpin penyerang itu. Sebelum matahari terbit pasukan-pasukan Jenderal Orgado sudah akan mengepung seluruh penjuru istana.

Jenderal Orgado dikenal sebagai prajurit pilih tanding. Memiliki segudang pengalaman dalam olah keprajuritan. Dukungan-dukungan oleh beberapa kerajaan bawahan menjadi dan suku-suku pribumi ikut serta menyumbang tenaga bahkan nyawa sekalipun membuat dirinya mantap untuk memberontak.
Panji-panji bendera kerajaan Gundarsi terus mengelebat seiring dibawa pasukan-pasukan berkuda. Suara ringikan kuda terus terdengar bersama langkah-langkah menggema prajurit tang sudah siap mati untuk mempertahankan kedaulatan negeri. Rush memimpin pasukan diikuti oleh beberapa jenderal di samping kanan kirinya.

“Pantang untuk bersikap medua. Pantang bagi prajurit takut dengan musuh. Kalau ada yang takut atau ragu, aku persilakan untuk mundur sekarang juga. Kita tidak menerima prajurit yang penakut. Kalian boleh benci kepada siapa pun, tetapi belalah negerimu. Pertahankan negeri.” Demikian ucapan Rush untuk membakar semangat para pasukannya.

Matahari merangkak naik dari kandungan cakrawala. Suara trompet terdengar menggema. Kuda meringkik. Suara mortil membentak. Pedang saling beradu. Beberapa kali terlihat para prajurit meraung kesakitan setelah terkena tebasan pedang jenderal Orgado. Dalam perang hanya menyisakan dua pilihan, hidup atau mati.

Sekawanan burung Hering beterbangan berputar-putar menunggu mayat-mayat prajurit yang gugur. Burung-burung itu seperti sudah menjadi pertanda akan ada dinasti yang runtuh. Pasukan pemberontak menyerang dari berbagai arah sehingga pasukan istana terdesak. Ada satu dua burung Hering yang bertengger di salah satu pedang yang tertancap di tubuh prajurit. Sementara pasukan istana semakin terdesak. Semakin kewalahan mendapat serangan bergelombang dari pasukan kubu pemberontak.

Rush sebagai jenderal perang berusaha untuk tetap tenang meskipun banyak bala tentaranya yang gugur. Jenderal Orgadodan tentaranya sudah berhasil merangsek di jantung pertahanan lawan. Kedua jenderal bertemu. Pertarungan sengit terjadi ketika kedua jenderal perangandalan istana itu bertemu.
Sementara itu, keadaan semakin genting. Pasukan pemberontak berhasil masuk ke gerbang istana. Meskipun berbagai upaya pasukan penjaga istana untuk menghadang, tetapi tidak mampu untuk menahan ratusan pasukan pemberontakan untuk masuk ke dalam istana. Pasukan itu seperti air bah yang tidak bisa dihadang. Suara sangkakala dibunyikan, pertanda jenderal Rush telah gugur. Sementara raja Matthew sudah tertangkap, digiring keluar dan siap untuk dijebloskan ke penjara.

Setelah tahu kematian kekasihnya, Delina merasa langit telah runtuh. Pandangannya berkunang-kunang. Dalam sekejap tubuhnya lemas. Rubuh seketika. Mengerikan, lebih sakit ditinggalkan daripada meninggalkan. Hari demi hari ia lewati dengan jiwa yang hancur. Demikian pula dengan penduduk, semakin menderita dengan rezim yang otoriter. Mencekik rakyat dengan upeti yang semakin besar. Sementara kesejahteraan rakyat terpinggirkan oleh kepentingan pembesar-pembesar istana.

Kota Khayalan lusuh dan muram. Gerimis-gerimis kecil pemalu seperti gadis yang kehilangan kekasih. Seorang gadis duduk di kursi panjang. Menghadap ke barat, tangan terlipat. Mata sebam, berair. Tak ada yang bisu kecuali mulut yang terus bungkam. Tak tahu apa yang sedang dipikirkan seorang gadis yang menampilkan raut wajah bekas-bekas kesedihan dan kemalangan hidup. Sungai Hedegran melambai-lambai. Kabut menutup sebagian pemandangan kota Khayalan. Kota yang terkenal karena keindahannya tampak menyedihkan seiring mendung menggulung. Kau tahu gadis itu adalah Delina.
Delina bangkit dari duduknya, mengayunkan kakinya perlahan. Terus perlahan. Sampai ke dasar sungai. Betisnya basah oleh rendaman air. Terus melangkah. Dan kemudian lenyap.

Aku tidak bisa menyalahkan kau, karena tidak bisa menghentikan langkah Delina untuk menceburkan tubuhnya ke sungai Hedegran. Biarlah Delina bahagia dengan pilihannya. Kau hanya bisa menjadi saksi jika sungai Hedegran telah memusnahkan kesedihan seorang gadis. Beruntung sekali kau diciptakan sebagai pohon pinus dekat sungai Hedegran.

Anas S Malo, anggota Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY), ini telah menerbitkan karyanya di sejumlah media massa. Cerpennya terhimpun dalam antologi Doa Dalam Cinta, Sayembara Cerpen Nasional. Ia juga finalis National Community Investors Award 2018.

BERITA TERKAIT