Peneliti kembali Bahas Bahaya Rokok di Forum Dunia, Ini Hasilnya


Penulis: Eni Kartinah - 19 June 2018, 08:05 WIB
img
Ilustrasi

SEJUMLAH peneliti dunia berkumpul di acara Global Forum on Nicotine 2018 di Warsawa, Polandia, untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh rokok. Para peneliti dari lebih 20 negara itu mengajak masyarakat untuk mengkaji kembali permasalahan ini dan mencari solusi bersama.

Dari sejumlah penelitian yang dikemukakan dalam ajang ilmiah internasional tersebut, peneliti sepakat bahwa metode pengurangan bahaya produk tembakau dinilai dapat menjadi salah satu solusi yang tepat untuk mengurangi jumlah perokok di dunia.

Peneliti di Pusat Bedah Jantung Onassis di Athena, Yunani, Konstantinos E Farsalinos, mengungkapkan bahwa penggunaan produk tembakau alternatif yang menerapkan konsep dipanaskan bukan dibakar dapat mengeleminasi komponen atau zat berbahaya yang biasanya dihasilkan dari pembakaran rokok, sehingga potensi risiko kesehatan dari produk ini jauh lebih rendah.

"Sayangnya, masih ada perbedaan yang cukup signifikan antara persepsi masyarakat dan bukti ilmiah. Hasil penelitian yang komprehensif mengenai produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dan rokok elektrik terkadang cenderung dinilai negatif oleh masyarakat, padahal produk ini memiliki potensi risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok," jelas Farsalinos.

Farsalinos merupakan salah satu pembicara di acara Global Forum on Nicotine 2018 yang pada tahun ini mengangkat tema 'Rethinking Nicotine'. Kajian utama pada acara ini menekankan pada kekeliruan persepsi mengenai nikotin, yang dianggap sebagai zat paling berbahaya pada rokok, di masyarakat. Padahal, nikotin bukan penyebab utama dalam penyakit yang disebabkan oleh rokok, melainkan tar.

Selain itu, forum ini juga membahas mengenai penggunaan sains dan teknologi yang diterapkan dalam produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar, yang membuktikan bahwa teknologi memiliki peranan penting dalam membantu pengurangan potensi risiko kesehatan dari rokok.

Senada dengan apa yang dibahas dalam forum itu, Dewan Penasihat Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo) yang juga merupakan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Dr Erman Aminullah MSc, di tempat terpisah, mengatakan bahwa meskipun inovasi produk tembakau alternatif mulai banyak bermunculan di Indonesia, pada akhirnya konsumen yang akan memilih produk tembakau alternatif paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

"Kembali lagi kepada tujuan mengapa teknologi itu diciptakan, yaitu untuk membantu dan memudahkan kita dalam melakukan atau menggunakan sesuatu," kata Prof Erman melalui keterangan tertulis yang diterima Senin (18/6).

"Untuk produk tembakau alternatif yang menggunakan teknologi dalam pemakaiannya serta telah didukung oleh penelitian yang kredibel sehingga hasilnya berpotensi lebih rendah risiko daripada rokok, maka hanya tinggal menunggu waktu para konsumen untuk memahami potensinya dan beralih ke produk tersebut," sambungnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia dan juga anggota Koalisi Indonesia Bebas Tar (Kabar), Prof Dr Achmad Syawqie Yazid, mengatakan bahwa selain ada peranan teknologi, produk tembakau alternatif juga menerapkan metode pengurangan bahaya.

"Produk tembakau alternatif ditujukan untuk membantu permasalahan merokok di Indonesia. Namun, membutuhkan kepercayaan dan regulasi yang tepat agar penggunaannya sesuai dengan tujuan utamanya, sehingga regulasi dibutuhkan bukan untuk menutup inovasi produk ini. Saya paham bahwa memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi sebagai langkah awal kita bisa mempelajari terlebih dahulu potensi yang dimiliki dan melakukan penelitian lebih lanjut untuk menguatkan hasilnya," tutup Prof Syawqie. (RO/OL-1)

 

BERITA TERKAIT