Kemenperin Dorong Circular Economy Lewat Industri Hijau


Penulis: Erandhi Hutomo Saputra - 16 June 2018, 17:00 WIB
Ist
Ist

KEMENTERIAN Perindustrian mendorong industri nasional menerapkan konsep circular economy dalam proses produksi. Dengan konsep itu, material mentah dapat digunakan berkali-kali dalam berbagai daur hidup produk. Sehingga, ekstraksinya dari alam jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan linear economy.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara mengatakan prinsip utama dalam konsep circular economy ialah rethink, reduce, reuse, recycle, dan recovery/repair, atau yang lebih dikenal dengan 5R. Itu berbeda dengan linear economy yang menganut prinsip take-make-dispose.

“Prinsip 5R dapat dilakukan melalui pengurangan pemakaian material mentah dari alam (reduce) melalui optimasi penggunaan material yang dapat digunakan kembali (reuse) dan penggunaan material hasil dari proses daur ulang (recycle) maupun dari proses perolehan kembali (recovery) atau dengan melakukan perbaikan (repair)," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Media Indonesia di Jakarta, Sabtu (16/6).

“Selain itu limbah akibat proses dispose dapat dikurangi melalui upaya reuse, recycle dan recovery limbah yang masih memiliki nilai," imbuhnya.

Untuk itu, ia mendorong industri pengolahan menjadi leading sector dalam transformasi ekonomi nasional menuju circular economy. Sebab, peran industri pengolahan krusial dalam perekonomian nasional.

“Pada kuartal pertama tahun ini, industri pengolahan merupakan kontributor terbesar PDB dengan kontribusi mencapai 20,2% terhadap total PDB nasional," tukasnya.

Industri Hijau

Dorongan Kemenperin kepada circular economy itu dilakukan dengan melaksanakan program industri hijau--yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Dengan program itu, pembangunan industri diharapkan bisa selaras dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta bermanfaat bagi masyarakat.

“Penerapan industri hijau dapat dilakukan melalui efisiensi penggunaan sumber daya, penerapan teknologi rendah karbon, penerapan 3R hingga 5R, minimisasi limbah dan menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK)," jelasnya.

BPPI Kemenperin melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup (Puslitbang IHLH) terus mendorong industri manufaktur nasional untuk menerapkan industri hijau melalui beberapa program, salah satunya yakni Sertifikasi Industri Hijau.

Sertifikasi Industri Hijau ialah rangkaian kegiatan penerbitan sertifikat terhadap perusahaan industri dalam pemenuhan Standar Industri Hijau (SIH). SIH merupakan acuan para pelaku industri dalam melakukan proses industrinya sesuai dengan prinsip industri hijau.

“SIH memuat batasan mengenai aspek teknis dan aspek manajemen. Aspek teknis terdiri dari bahan baku, energi, air, proses produksi, produk, limbah, dan emisi GRK. Sedangkan aspek manajemen terdiri dari kebijakan dan organisasi, perencanaan strategis, pelaksanaan dan pemantauan program, tinjauan manajemen, tanggung jawab sosial perusahaan dan ketenagakerjaan yang bertujuan untuk mewujudkan industri yang berkelanjutan," paparnya.

SIH diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Industri Hijau (LSIH) baik yang berada di bawah Kemenperin maupun LSIH swasta. Hingga saat ini, Kemenperin telah menunjuk 14 LSIH. Perusahaan industri dapat langsung mengajukan permohonan kepada LSIH sesuai dengan ruang lingkupnya. 

Kemenperin juga telah meluncurkan program bantuan SIH sejak 2017 untuk memperkenalkan industri hijau. Program bantuan tersebut telah menyasar kepada kelompok industri semen portland, pupuk tunggal buatan hara makro primer, karet remah (crumb rubber), pengasapan karet (ribbed smoked sheet/RSS), dan pengolahan susu bubuk.

"Untuk penyelenggaraan kegiatan bantuan SIH pada tahun 2018, diproyeksi ada 16 perusahaan industri yang akan tersertifikasi sebagai industri hijau," ucapnya.

Selain mengembangkan skema SIH, Kemenperin juga memberikan penghargaan industri hijau bagi industri yang telah menerapkan pola penghematan sumber daya, termasuk penggunaan bahan baku dan energi yang ramah lingkungan serta terbarukan sejak 2010. Pada periode 2010-2017, sebanyak 614 perusahaan industri telah menerima penghargaan industri hijau. (OL-5)

BERITA TERKAIT