Lupakan Messi dan Ronaldo


Penulis: Saur Hutabarat Ketua Dewan Redaksi Media Group - 14 June 2018, 11:39 WIB
AFP
AFP

SEBANYAK 32 negara mulai hari ini (14/6) berlaga di Rusia merebut Piala Dunia 2018. Seperti biasa, setelah acara pembukaan yang meriah dan menghibur, tuan rumah mendapat kehormatan bertarung di hari pertama.

Dari sudut pandang peringkat FIFA, pertandingan Rusia vs Arab Saudi kiranya boleh diharapkan berlangsung seru karena rangking mereka relatif 'berdekatan'. Rusia rangking 70 melawan Arab Saudi rangking 67.

Kendati peringkat Arab Saudi lebih baik, banyak yang meramalkan Rusia yang menang. Bahkan, ada yang menyebut skor 3-0. Rupanya masih hidup pandangan lama bermain di kandang sendiri bagaikan bermain dengan 12 orang karena didukung energi positif dan masif suporter tuan rumah.

Siapa pun yang menang, kedua negara itu jelas tidak diunggulkan menjadi juara dunia. Demi publik dalam negeri tentu saja tuan rumah boleh bermimpi terjadi keajaiban.

Sepak bola mungkin saja tersentuh keajaiban, seperti gol tangan ajaib Maradona. Namun, menang dengan ajaib kiranya di luar sudut pandang penulis.

Sepak bola kelas dunia urusan ketangguhan fisik, teknik tinggi, mental petarung, dan tentu kecerdasan meramu taktik dan strategi. Masih ada satu faktor lagi, apakah negara itu punya pesepak bola bernaluri seniman besar atau tidak.

Pada zamannya ada Pele. Zaman yang lain ada Franz Beckenbauer dan Johan Cruyff. Zaman yang lain lagi ada Zinedine Zidane. Dalam sejarah orang merujuk kepada seniman besar itu.

Di Rusia kini, siapakah gerangan seniman itu? Ada yang menganjurkan untuk melupakan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Sepertinya peta elite sepak bola dunia masih didominasi dua benua Eropa dan Amerika Latin. Benua lain punya pesepak bola kelas tinggi, Mohamed Salah (Liverpool), misalnya, tetapi negaranya Mesir belum sekelas sang bintang.

Ada enam negara dari dua benua itu yang diperkirakan bakal merajai. Dari Eropa ialah juara bertahan Jerman, Spanyol, Prancis, dan Belgia. Dari Amerika Latin ialah Brazil dan Argentina. Di manakah Uruguay? Terus terang, kepiawaian Edinson Cavani di Paris Saint-Germain serta Luis Suarez di Barcelona membuat berat hati saya untuk mengeliminasi Uruguay.

Sejak Piala Eropa 2016, di jajaran elite dunia itu saya tidak jemu untuk mengedepankan Belgia. Negara itu mampu menghasilkan cukup signifikan pesepak bola papan atas di berbagai posisi.

Mereka punya kiper Thibaut Courtois (Chelsea). Bek Thomas Vermaelen (Barcelona), Vincent Kompany (Manchester City), dan Jan Vertonghen (Tottenham Hotspur). Pemain tengah Marouane Fellaini (Manchester United) dan Kevin De Bruyne (Manchester City), serta penyerang Romelu Lukaku (Manchester United) dan Eden Hazard (Chelsea).

Tidak hanya itu. Kini Belgia dilatih Roberto Martinez yang berpengalaman menukangi klub Inggris, dibantu Thierry Henry, mantan penyerang andal sebagai asisten pelatih.

Saya suka dengan anjuran untuk melupakan Messi dan Ronaldo. Mereka telah sampai di babak akhir untuk mengukir sejarah.

Marilah kita mencermati Neymar (Brazil/Paris Saint-Germain), De Bruyne (Belgia), Isco (Spanyol/Real Madrid), Harry Kane (Inggris/Tottenham Hotspur), N'Golo Kante (Prancis/Chelsea) dan Paul Pogba (Prancis/Manchester United). Tentu penjaga gawang David de Gea (Spanyol/Manchester United). Hemat saya, merekalah bintang-bintang cemerlang Piala Dunia kali ini dan di antara merekalah bakal lahir seniman besar masa kini.

BERITA TERKAIT