Jokowi-Megawati Kerucutkan Cawapres


Penulis: Rudy Polycarpus - 14 June 2018, 07:45 WIB
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto -- MI/MOHAMAD IRFAN
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto -- MI/MOHAMAD IRFAN

PERTEMUAN itu berlangsung 2 jam 10 menit, yakni mulai pukul 17.10 hingga 19.20 sembari diselingi dengan buka puasa dan santap malam bersama.

Menu buka puasa yang disajikan, antara lain, tumis bunga pepaya, udang saus padang, ikan sukang bakar, sayur asem, dan asem-asem iga.

Seusai berbuka dan hendak melakukan salat Magrib, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyiapkan sajadah untuk Presiden Joko Widodo.

Itulah suasana pertemuan hangat Jokowi dengan Megawati di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulis, kemarin, mengatakan pertemuan kedua tokoh itu merupakan lanjutan dari pertemuan sebelum Jokowi resmi diusung PDIP sebagai calon presiden di Pilpres 2019 dalam Rapat Kerja Nasional PDIP di Bali, Februari 2018.

Hasto menuturkan, ada sejumlah hal strategis yang mereka bicarakan, salah satunya calon wakil presiden yang akan mendampingi Jokowi di Pilpres 2019.

Mega, kata dia, memberikan masukan kepada Jokowi agar figur cawapres dipertimbangkan dengan matang supaya selaras dengan aspirasi rakyat sambil memohon petunjuk dari Tuhan.

"Presiden dan wakil presiden itu merupakan pemimpin rakyat, pemimpin bangsa dan negara. Siapa pun yang ditetapkan sebagai cawapres ke depan, Pak Jokowi dan calon wakilnya merupakan satu kesatuan. Momentumnya dilakukan pada saat yang tepat," terangnya.

Dalam pertemuan itu, Jokowi dan Megawati membahas kemajuan Indonesia, di antaranya soal pembangunan infrastruktur.

Sementara itu, Sekretaris Kabinet Pramono Anung memastikan Jokowi dan partai-partai pendukungnya mulai menemukan titik temu untuk kandidat cawapres. Namun, ia mengelak menyebutkannya. Siapa pun cawapres yang diusung, jelas Pramono, harus bisa mengangkat suara mantan Wali Kota Solo itu. "Bukan mengurangi elektabilitas Jokowi," tandasnya.

Belum ada yang kuat

Terkait cawapres Jokowi, Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan belum ada kandidat cawapres yang bisa mendongkrak elektabilitas Jokowi lebih tinggi. Pasalnya, hanya faktor tingkat kepuasan publik yang bisa mendongkrak elektabilitas Jokowi sebagai petahana.

"Nama yang muncul ialah Gatot, AHY, Anies, dan Mahfud MD. Ada Muhaimin dan di Jawa Barat, Susi Pudjiastuti. Namun, mereka pada tataran yang sama. Belum jadi sosok yang bisa mendongkrak Jokowi," kata Yunarto.

Namun, ia mengusulkan pendamping Jokowi ialah tokoh yang merepresentasikan Islam sebab Jokowi membutuhkan sosok yang bisa menangkalnya dari isu anti-Islam yang diusung oposan.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno menjelaskan, hingga saat ini partainya masih memegang keputusan rakernas tahun kemarin yang mencalonkan Zulkifli Hasan sebagai Capres 2019. "Keputusan itu masih mungkin berubah dengan akan dilaksanakannya Rakernas PAN pada Juli 2018," ujarnya. Hal itu terkait pernyataan Ketua Dewan Pertimbangan PAN Amien Rais yang siap dicapreskan.

Eddy menjelaskan, pada rakernas itu partainya akan menentukan capres dan cawapres sehingga hal itu otomatis akan menunjukkan ke koalisi mana PAN akan berlabuh.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengapresiasi Amien Rais yang ingin berkontestasi dalam pilpres. Namun, menurut Ketua Bidang Pemenangan Presiden Partai Bulan Bintang (PBB), Sukmo Harsono, niat Amien nyapres melenceng dari rekomendasi Persaudaran Alumni 212 dalam rakornas di Cibubur, Jaktim, Selasa (29/5). Bahkan, kata dia, Amien yang malah mengusulkan Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra sebagai Capres 2019. (Dro/X-4)

BERITA TERKAIT