Prajuru Adat Jadi Benteng Terakhir Budaya Bali


Penulis: . (OL/N-3) - 14 June 2018, 08:20 WIB
img
MI/Tosiani

PRAJURU adat yang ada di banjar-banjar tersebar di seluruh Bali menjadi benteng terakhir dalam pelestarian budaya Bali. Untuk itu, para prajuru adat harus diberdayakan dengan meningkatkan sumber daya manusia. Tujuannya agar mampu menyikapi perkembangan global saat ini.

Untuk mewujudkan hal itu, seluruh elemen masyarakat yang tergabung dalam paiketan Prajuru Banjhar Celagigendong, Pameregan, Alangkajeng Gede, Alangkajeng Menak, dan Glogor (Cemerlang) menggelar paruman di Pura Jambe Abiantimbul, Selasa (12/6) malam.

Sekda Kota Denpasar, AAN Rai Iswara, saat menghadiri acara tersebut menyambut baik kegiatan prajuru tersebut. “Dengan penguatan banjar melalui persamaan persepsi antarpengurus, dapat menghindarkan generasi muda dari perilaku negatif seperti penyalahgunaan narkoba, seks bebas dan radi­kalisme,” kata Iswara.

Dengan bersatunya masyarakat, lanjut Rai Iswara, baik secara tindakan maupun visi misi, diharapkan pengamalan para prajuru ini bisa diarahkan ke bidang pembangunan.

Pada kesempatan sama, Pengelingsir Puri Jambe Celagi Gendong, AAN Oka Wiranata, mengatakan bahwa keberadaan prajuru sebagai ujung tombak penguatan adat istiadat serta kebudayaan Bali yang adi luhung sehingga tatanan struktur organisasi adat harus tetap dipertahankan sebagai upaya menjaga kearif­an lokal. “Dalam pertemuan ini menjadi momentum bagi peng­urus adat dari masing- masing wilayah Cemerlang  sehingga dalam pelaksanaanya saling mendukung satu sama lainya, bermuara pada kukuhnya tradisi, adat istiadat, serta kebudayaan Bali itu sendiri,” pungkasnya. (OL/N-3)

BERITA TERKAIT