Cawapres Jokowi Mengerucut


Penulis: Rudy Polycarpus - 13 June 2018, 20:13 WIB
img
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

PRESIDEN Joko Widodo bertemu dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, Selasa (12/6). Pertemuan kedua tokoh itu merupakan lanjutan dari pertemuan sebelum Jokowi resmi diusung PDI-P sebagai calon presiden pada 2019 dalam Rapat Kerja Nasional PDI-P di Bali, Februari 2018.

Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulis, Rabu (13/6), mengatakan, ada sejumlah hal strategis yang mereka bicarakan, salah satunya calon wakil presiden yang akan mendampingi Jokowi di Pilpres 2019.

Mega, kata dia, memberikan masukan kepada Jokowi agar figur cawapres dipertimbangkan dengan matang supaya selaras dengan aspirasi rakyat, sambil memohon petunjuk dari Tuhan.

"Presiden dan wakil presiden itu merupakan pemimpin rakyat, pemimpin bangsa dan negara. Semua harus dipersiapkan dengan matang dan dengan pertimbangan nurani yang jernih. Siapa pun yang ditetapkan sebagai cawapres ke depan, Pak Jokowi dan calon wakilnya merupakan satu kesatuan. Momentumnya dilakukan pada saat yang tepat," terangnya.

Pertemuan berlangsung dua jam 10 menit, yakni mulai pukul 17.10 hingga 19.20 sembari diselingi dengan buka puasa dan santap malam bersama. Adapun menu buka puasa yang disajikan antara lain tumis bunga pepaya, udang saus padang, ikan sukang bakar, sayur asem, dan asem-asem iga.

Seusai berbuka dan hendak melakukan salat Maghrib, Megawati menyiapkan sajadah untuk Jokowi.

Dalam pertemuan itu, Megawati dan Jokowi membahas kemajuan Indonesia. "Ibu Megawati memberikan apresiasi kepada Bapak Jokowi bahwa mudik Lebaran berjalan lancar. Kerja, kerja, dan kerja terbukti menjadi jawaban paling tepat di tengah berbagai kritik. Hasilnya terbukti, infrastruktur untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi ke depan telah dibangun dengan baik," tandasnya.

Sementara, Sekretaris Kabinet Pramono Anung memastikan Jokowi dan partai-partai pendukungnya mulai menemui titik temu kandidat cawapres. Namun, ia mengelak menyebutkannya. "Cawapres Pak Jokowi yang tahu adalah Pak Jokowi dan partai pendukung. Dan sekarang tentunya beliau sudah punya ancer-ancer," tandasnya.

Siapapun cawapres yang diusung, jelas Pramono, harus bisa mengangkat suara mantan wali kota Solo itu. "Bukan mengurangi elektabilitas Jokowi."

Adapun Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, belum ada kandidat cawapres yang bisa mendongkrak elektabilitas Jokowi lebih tinggi. Pasalnya, hanya faktor tingkat kepuasan publik yang bisa mendongkrak elektabilitas Jokowi sebagai petahana.

"Nama yang muncul Gatot, AHY, Anies, dan Mahfud MD. Lalu Muhaimin dan di Jawa Barat, Susi Pudjiastuti. Tapi mereka pada tataran yang sama. Belum jadi sosok yang bisa dongkrak Jokowi," kata Yunarto.

Namun, ia menambahkan, ia mengusulkan pendamping Jokowi ialah tokoh yang merepresentasikan Islam. Sebab Jokowi membutuhkan sosok yang bisa menangkalnya dari isu anti-Islam yang diusung oposan. (OL-5)

BERITA TERKAIT