Aturan Baru THR Buat Bisnis Leisure Bergairah


Penulis: Erandhi Hutomo Saputra - 14 June 2018, 02:20 WIB
Ist
Ist

KEPUTUSAN pemerintah pada tahun ini untuk memberikan tunjangan hari raya (THR) secara take home pay yang terdiri dari gaji pokok, tunjangan keluarga, jabatan, dan kinerja membuat bisnis leisure khususnya penginapan dan hotel semakin bergairah.

“Kami benar-benar terdorong oleh gaji ke-13 dan THR, kalau tidak ada itu mungkin naiknya tidak signifikan, dan banyak juga perusahaan yang bayar gaji Juni sekaligus juga menambah (tingkat okupansi),” ujar Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani kepada Media Indonesia, kemarin.

Selain pemberian THR yang lebih besar, Hariyadi juga tidak menampik adanya pergeseran daya beli masyarakat ke leisure (liburan). “Tren pindah ke leisure memang ada dan kuat, ditambah THR dan gaji ke-13 itu tambah besar lagi (peningkatannya),” tukasnya.

Berdasarkan catatan PHRI, kenaikan okupansi hotel pada wilayah tujuan mudik seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur mencapai 90%. “Akan semakin meningkat (setiap hari), secara umum (tingkat okupansi) bisa sampai 85%-90%,” ucapnya.

Di sisi lain, lanjut Hariyadi, untuk hotel-hotel di Jakarta, tingkat okupansinya justru ‘terjun bebas’ menjadi sekitar 20%. Tingkat okupansi yang rendah itu hampir sama dengan libur lebaran tahun sebelumnya. “Kalau di Jakarta terjun bebas, karena semua orang keluar kota, mungkin kisarannya rata-rata sekitar 20%,” jelasnya.

Ia memprediksi tingkat okupansi hotel di Jakarta kembali normal setelah cuti bersama selesai yakni pada 21 Juni. “Biasanya ada acara halal bihalal, tapi perkiraan kami banyak kegiatan seperti Asian Games, Juli sudah mulai masuk delegasi pendukungnya,” pungkasnya.


Strategi promo

Tingkat okupansi yang turun dibenarkan Public Relation Manager Hotel Dafam Teraskita Jakarta, Imanuelia Kristi. Hotel yang berada di kawasan Cawang, Jakarta Timur, itu merasakan penurunan okupansi pada libur lebaran hingga 70% dibandingkan hari biasa.

“Kalau okupansi jelas lebih menurun karena customer dan klien mudik, jadi lebih berkurang dibandingkan hari biasa sampai 70%,” ujar Kristi saat ditemui Media Indonesia.
Menurut Kristi, penurunan okupansi saat libur lebaran itu merupakan hal biasa terjadi tiap tahunnya. “Kalau hotel (di Jakarta) setiap libur lebaran dan long weekend pasti turun.” 

Mesti begitu, lanjut dia, pihaknya memiliki strategi agar masyarakat yang tidak mudik masih tertarik untuk menginap di hotel dengan berbagai promo. “Untuk Lebaran kita biasanya di hari biasa hanya kamar dan breakfast, kita tambah benefit-nya misal ada menu tambahan barbeqeu atau brunch,” tukasnya.

Pihaknya juga memanfaatkan momen Piala Dunia Sepakbola dengan menggelar nonton bareng. Diharapkan hal itu bisa meningkatkan penjualan untuk food and beverage (F&B).
Kristi menambahkan okupansi hotel akan kembali normal pada awal Juli seiring banyaknya perusahaan dan ins­tansi pemerintah yang mengadakan halal bihalal. (E-3)

BERITA TERKAIT