Pesta di Moskow, Petaka di Bangladesh


Penulis: Satria Sakti Utama - 13 June 2018, 17:04 WIB
AFP
AFP

MOSKOW bersiap menyambut Piala Dunia 2018 dengan gegap gempita. Namun, di belahan dunia lain, tepatnya di Bangladesh, ajang terbesar sepak bola ini disambut dengan petaka. Penggemar sepak bola dari Argentina dan Brasil ini terlibat bentrokan di jalanan.

Pekan lalu di pusat kota Bandar, para penggemar Lionel Messi dan Neymar terlibat perselisihan dengan senjata parang sebagai alatnya. Hasilnya seorang pria dan putranya mengalami kritis. Sementara itu, seorang bocah 12 tahun meninggal dunia setelah tersengat listrik saat memasang bendera Brazil di tiang pinggir jalan.

Terlepas dari aspek histori yang tak terhubung, masyarakat Bangladesh terbelah karena kecintaan mereka terhadap dua tim nasional dari Amerika Latin tersebut. Bahkan bendera Argentina dan Brasil telah mendominasi kota-kota di negara berpenduduk 160 juta selama berminggu-minggu jelang Piala Dunia 2018. Pawai dengan sepeda motor lazim terjadi.

"Mereka mengadakan pertemuan untuk merencanakan kegilaan lebih lanjut. Anda dapat merasakan ketegangan dan kegembiraan di seluruh kota," kata kepala polisi setempat Mohammad Rafique.

Tidak ingin friksi semakin menjadi-jadi, seorang pengacara mencoba mengajukan tuntutan agar pelarangan berkibarnya bendera-bendera asing dilakukan. Universitas Barisal di Bangladesh Selatan telah melarang tujuh ribu mahasiswanya untuk melakukan hal sama.

"Pemerintah harus benar-benar melarang menerbangkan bendera asing di seluruh Bangladesh," kata Rektor Universitas S.M. Imamul Haq.

Persaingan Argentina dan Brasil di Bangladesh dimulai pada 1986 ketika Diego Maradona mencuri perhatian dunia. Nama pemilik 'Gol si Tangan Tuhan'--julukan Maradona-- membuat jutaan orang Bangladesh jatuh cinta. Namun, bagi pecinta legenda Brasil Pele ialah segalanya.

"Pele merupakan legenda dan ada di rumah-rumah di sini. Ceritanya ada di buku pelajaran kami. Jadi ada basis dukungan tradisional untuk Brasil. Tapi Argentina mencuri hati orang Bangladesh setelah prestasi solo Maradona pada 1986. Saya pikir itulah saat persaingan di sini dimulai," ungkap Editor Portal olahraga, M.M. Kaiser.

Maqsud Elahi, 13 tahun, mengaku pendukung Argentina karena Messi. "Saya mendukung Argentina karena Messi. Aksinya sungguh luar biasa," tutur Elahi.

Sedangkan, Tanvir Haider, 29 tahun, memilih Brasil sebagai tim favoritnya. "Saya mencintai Brasil karena dia (Ronaldo). Permainan mereka sangat hebat dan mereka memiliki bintang di setiap Piala Dunia," kata Haider.

Akan tetapi, para sosiolog menilai fenomena ini sebagai suatu sikap rendah diri. "Banyak dari orang-orang ini tidak tahu dimana itu Brasil dan Argentina. Tidak ada hubungan darah atau bahasa, tapi tetap mereka bisa marah untuk mereka," jelas Profesor Sosiologi Universitas Dhaka, Nehal Karim. (AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT