Begini Gambaran Koran Korut soal KTT Singapura,


Penulis: Irene Harty - 13 June 2018, 15:41 WIB
img
AFP

SEJUMLAH pihak optimistis mengenai proses denuklirisasi Korea Utara (Korut), pascapertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan pemimpin Korut Kim Jong Un di Singapura, kemarin.

Dalam pernyataan bersama setelah perundingan, Kim menyetujui denuklirisasi lengkap Semenanjung Korea. Sementara Trump, lewat Twitter pasca-KTT, menyatakan optimismenya.

Dia mengatakan pertemuan puncak pertama dengan Kim memberi arti, "Dunia telah mengambil langkah besar mundur dari potensi bencana nuklir!"

"Tidak ada lagi peluncuran roket, uji coba nuklir, atau penelitian! Para sandera kembali ke rumah dengan keluarga mereka. Terima kasih kepada Pemimpin Kim, hari kita bersama adalah bersejarah!"

Di Korut, kantor berita resmi, KCNA dalam laporan pertamanya tentang KTT yang penting, menyampaikan berita hangat tentang perundingan dengan menggambarkannya sebagai pertemuan penting yang akan membantu mendorong peralihan radikal dalam hubungan AS-Korut.

Laporan itu menyebut kedua pria itu sama-sama meminta satu sama lain untuk mengunjungi negara mereka. "Kedua pemimpin dengan senang hati menerima undangan satu sama lain," kata KCNA.

Hal itu menegaskan bahwa Trump telah menyatakan niatnya untuk mencabut sanksi terhadap Korut "Sekarang sanksi tetap ada," tambahnya.

Dengan judul, "Pertemuan abad ini membuka sejarah baru dalam hubungan DPRK-AS", harian yang dikelola pejabat Partai Pekerja yang berkuasa di Utara, Rodong Sinmun menampilkan sekitar 33 gambar di empat dari enam halamannya.

Salah satu gambar menunjukkan Kim yang tersenyum berjabat tangan dengan Penasihat Keamanan Nasional Trump, John Bolton, yang sebelumnya menganjurkan tindakan militer terhadap Korut.

Pyongyang memiliki alasan untuk merasa percaya diri setelah pertemuan tersebut karena telah lama mendambakan legitimasi internasional.

"Kim Jong Un mendapatkan apa yang diinginkannya di KTT Singapura: penghargaan internasional dan penghormatan pertemuan empat mata dengan presiden Amerika, legitimasi bendera Korut di sebelah bendera AS sebagai latar belakang," kata Paul Haenle, Direktur Pusat Carnegie-Tsinghua.. (AFP/OL)

BERITA TERKAIT