Tunjangan Hari Raya


Penulis: Adiyanto-Wartawan Media Indonesia - 13 June 2018, 13:36 WIB
Dok. Pribadi
Dok. Pribadi

LUSA Lebaran. Uang tunjangan hari raya (THR) Anda mungkin telah bersalin rupa menjadi baju koko, kerudung istri, sepatu anak, kue Lebaran, dan mungkin gawai baru. Berapa pun jumlahnya, uang di luar upah bulanan itu patutlah Anda syukuri. Hitung-hitung rezeki setahun sekali.

Mungkin kita sering mendengar orang mengeluh, THR cuma numpang lewat alias habis dalam sekejap. Untuk manusia jenis ini, mereka sesungguhnya tergolong orang-orang yang kurang pandai bersyukur.

Padahal, THR yang dia habiskan (berapa pun besarannya) tidak pernah sia-sia. Selain bermanfaat untuk dia dan keluarganya, uang yang dibelanjakan juga berguna bagi orang lain. Jika sebagian uang THR itu dibelikan kerudung di Tanah Abang, misalnya, mungkin dia telah membantu menghidupi dapur ibu-ibu penjahit di Tasikmalaya. Begitu juga jika uang tersebut dia belanjakan sepatu, kue, atau ketupat, manfaat turunannya bisa ke mana-mana.

Untuk memahami hal itu, Anda tidak perlu bersusah payah menjadi seorang begawan ekonomi. Logika sederhananya seperti Anda membeli sabun di warung, yang berarti Anda ikut melicinkan rezeki si pemilik kedai dan juga buruh di pabrik sabun tersebut. Konsumsi rumah tangga semacam inilah yang akan mendo-rong pergerakan ekonomi di sektor ritel, yang pada akhirnya bermuara ke perekonomian nasional.

Apalagi tahun ini, pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan telah menganggarkan Rp35 triliun untuk membayar gaji ke-13 dan THR pegawai negeri sipil (PNS) beserta pensiunan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara berpendapat, pembayaran THR untuk PNS aktif dan pensiunan diperkirakan bakal mendongkrak pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal II 2018. Bhima mengungkapkan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2018 sebesar 5,06%, sementara konsumsi rumah tangga di periode tersebut hanya mampu tumbuh 4,95% atau kurang dari 5%.

Menurut perhitungan dia, jumlah PNS plus pensiunan mencapai sekitar lebih dari 4 juta orang. Apabila setiap orang langsung membelanjakan uang THR itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh di kisaran 5,2%-5,3% di kuartal II. Dorongan ke konsumsi, menurut Bhima, cukup penting karena 56% ekonomi Indonesia digerakkan konsumsi masyarakat. Inilah yang pada gilirannya memutar roda perekonomian, terutama ritel.

Jadi, agak aneh jika ada yang mengatakan pemerintah menghambur-hamburkan anggaran untuk tradisi yang mulai dirintis sejak era Kabinet Soekiman (1951-1952) tersebut. Untuk orang-orang jenis ini, (maaf) terus terang saya tidak tahu menyebutnya apa. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. (OL-5)

BERITA TERKAIT