Ini Kata Warga Korea di AS tentang KTT Singapura


Penulis: Irene Harty - 13 June 2018, 13:27 WIB
img
AFP/MARIO TAMA

SEBAGIAN besar warga Korea-Amerika Serikat (AS) di Los Angeles--daerah di AS yang memiliki populasi orang Korea terbesar di luar Asia, tampak optimis pada pertemuan bersejarah antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un. Tapi ada pula yang mewaspadai pada masa depan semenanjung Korea.

"Itu adalah pertemuan yang baik. Ini baru permulaan yang saya harapkan," kata Yuri Kim di luar konsulat Korea Selatan (Korsel) di Koreatown bersama putranya yang berumur dua tahun.

Kim yang berimigrasi ke AS empat tahun lalu itu, berharap pertemuan puncak keduanya akan mengarah pada denuklirisasi Korut.

"Saya tidak tahu banyak tentang dia. Tetapi dia tidak berkomitmen pada perusahaan besar karena dia kaya, dia tidak memiliki latar belakang politik, dia tidak perlu membujuk partainya," paparnya merujuk Trump.

Yuri Kim juga meyakini Kim Jong-un--sejak pertemuannya dengan Presiden Korsel Moon Jae-in, sebagai orang yang dapat dipercaya dan konsisten.

Kwang Yoon, insinyur berusia 59 tahun, mengatakan KTT itu menandai langkah pertama menuju perdamaian abadi, tetapi tetap mewaspadainya.

"Saya senang, tetapi Anda tidak bisa menyelesaikan semuanya dalam satu waktu. Jika kamu tidak (bicara), kamu akan mengalami banyak kesalahpahaman," imbuhnya.

Pertemuan antara Trump dan Kim Jong Un menghasilkan pernyataan bersama yakni kedua negara berjanji untuk mengejar denuklirisasi Semenanjung Korea.

Trump juga mengatakan AS akan menghentikan latihan militer dengan Seoul. Itu adalah hal yang sejak lama diharapkan Pyongyang, yang mengklaim bahwa latihan itu ialah persiapan untuk invasi.

Sean, 90, yang lahir di Korut, mengaku mendapat harapan baru setelah pertemuan kedua pemimpin itu.

"Saya dulu berharap. Sekarang saya berharap pada pemimpin Korut yang muda berusia pertengahan tiga puluhan dan tampaknya siap untuk mengubah posisinya," paparnya.

Tetap skeptis

Bagi Jeffrey Wang, juru masak di sebuah restoran di Koreatown, KTT Trump-Kim ialah perkembangan yang ia sambut baik, walau dia tetap skeptis untuk hasil akhir.

"Saya tidak mempercayai Kim Jong Un, kami tidak mempercayai orang Korut. Kami sedang berperang," imbuhnya.

Korut dan Korsel secara teknis tetap berperang setelah konflik 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata. Konflik juga telah memisahkan banyak keluarga yang tidak pernah bersatu kembali.

Roy Lee, 18, yang lahir di AS dari imigran Korea yang memiliki restoran, mengatakan merasa sedikit saja peduli dengan KTT itu meskipun dia peduli tentang keselamatan keluarga besarnya di Korsel.

"Menyatukan Korea akan menjadi hal yang baik tetapi saya tidak benar-benar mempercayai Kim Jong Un karena dia tidak pernah berbicara tentang menyatukan Korea sebelum Trump. Dan aku merasa bahwa setelah Trump mundur, hal yang sama akan terulang," tukasnya. (AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT