Jihad Politik Amien Rais


Penulis: Gantyo Koespradono, Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta - 13 June 2018, 10:14 WIB

"AMIEN Rais, kok, berubah jadi mengerikan begitu. Kenapa, ya?" tulis seorang ibu rumah tangga melalui WhatsApp (WA) kepada saya, Senin (11/6) lalu.

Saya tidak tahu apa yang berubah pada Amien Rais? Ibu tadi bertanya seperti itu, boleh jadi karena ia hanya ibu rumah tangga biasa yang tidak pernah mengikuti perkembangan politik.

Saya maklum, ia tentu tidak tahu track record Amien Rais. Oleh sebab itu, saya pun tidak punya niat untuk bertanya kepadanya apakah ia pernah tahu bahwa pada 2014 Amien pernah bernazar akan berjalan kaki dari Yogyakarta ke Jakarta jika Joko Widodo (Jokowi) terpilih menjadi presiden. Nazar itu tidak pernah ia bayar sampai pemerintahan Jokowi membangun tol berular-ular.

Amien Rais berubah jadi mengerikan? Menurut saya, kok, tidak. Sejak dulu hingga sekarang Amien Rais tidak berubah. Ia konsisten melakukan jihad politik. Ya, tentunya jihad politik ala Amien Rais.

Bahwa sang ibu tadi menyimpulkan Amien kini berubah menjadi sosok yang mengerikan mungkin setelah ia mengetahui hari-hari ini Amien yang sudah sepuh doyan banget menantang Presiden Jokowi dan kerap uring-uringan.

Di mata sang ibu, Amien mungkin mirip perempuan yang baru saja memasuki masa menopause. Gampang tersinggung dan bicara aneh-aneh jika kemauannya tidak dan belum dituruti.

Tapi, itulah gaya perjuangan Amien Rais sejak dulu hingga sekarang, tetap konsisten. Termasuk konsisten bicara ngelantur; pokoknya yang penting "njeplak".

Lalu apa yang berubah dari Amien Rais? Menurut saya tidak ada. Pada 1998, dialah tokoh politik sekaligus tokoh agama yang ikut-ikutan mendesak agar Soeharto turun dari singgasananya sebagai presiden.

Sejarah mencatat pada 21 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden. Amien Rais merasa berjasa ikut "menumbangkan" Soeharto yang nyaris terkukuhkan sebagai presiden seumur hidup setelah 32 tahun berkuasa.

Berusaha untuk terus konsisten, Amien Rais yang waktu itu menjabat sebagai ketua MPR juga berkasak-kusuk "menumbangkan" BJ Habibie yang saat itu ditunjuk Soeharto menggantikannya sebagai presiden.

Merekayasa untuk tidak menerima pertanggungjawaban Habibie dalam Sidang Istimewa MPR, Amien Rais "sukses" menjadikan Habibie sebagai presiden dengan masa jabatan paling singkat dalam sejarah Republik Indonesia, satu tahun lima bulan.

Masih berposisi sebagai ketua MPR, Amien Rais sukses mengantarkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden keempat.

Namun, di tengah perjalanan, Amien merongrong kedudukan Gus Dur selaku RI-1. Tidak sampai lima tahun, Gus Dur akhirnya tumbang dan digantikan Megawati Soekarnoputri.

Menapaki perjalanan jihad politiknya, Amien Rais merasa dirinya sebagai spesialis menumbangkan presiden sebelum masa baktinya berakhir.

Beralasan jika ada sekelompok orang yang menyematkan predikat "bapak reformasi" kepada Amien Rais, meskipun tidak sedikit yang nyinyir dan berkata "bapak reformasi gundulmu".

Di tahun politik 2018 dan menjelang Pemilu Serentak 2019 -- di dalamnya ada pilpres -- Amien rupanya kembali unjuk gigi palsu (siapa tahu dia sudah ompong karena usia).

Konsisten dengan ambisinya, ia melakukan pemanasan saat Pilkada 2017 digelar di Jakarta. Menunggangi demo berjilid-jilid, Amien bersama gerombolannya sukses menumbangkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) setelah mengapitalisasi fitnah bahwa Ahok menistakan agama hingga masuk penjara.

Persekutuannya dengan pasukan sumbu pendek menjadikan Amien merasa sukses mengantarkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno masing-masing sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

"Jihad" politik Amien tampaknya mau diulang di saat Jokowi sukses membangun Indonesia dan menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya.

Sepanjang tahun ini, tak bosan-bosannya Amien membuat manuver dengan mengandalkan kekuatan mulutnya dan memanfaatkan media serta konco-konconya yang juga berhasrat menggoyang Jokowi dengan harapan kalau bisa pemerintahan Jokowi putus di tengah jalan.

Dalam rangka itu, Amien bersama Prabowo Subianto, bahkan merasa perlu "sowan" kepada sang imam besar Rizieq Shihab di Arab Saudi sekaligus melakukan ritual umrah politik.

Puluhan tahun lalu Amien dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah. Ia bahkan pernah menjabat sebagai ketua umum organisasi keagamaan terbesar nomor dua setelah Nahdlatul Ulama (NU).

Ini yang membuat saya salut dengan Amien Rais. Guna mewujudkan syahwat politiknya, ia rela "berjihad" dengan meninggalkan nilai-nilai Muhammadiyah-nya.

Dari pikiran, ucapan dan tindakannya, banyak orang menyimpulkan Amien sudah meninggalkan nilai luhur Muhammadiyah yang toleran. Lelaki tua (mudah-mudahan belum pikun) ini sepertinya sudah berganti aliran atau mazab yang dianut sang imam besar dan partai sapi.

Jika memang faktanya demikian, ini pun bukan masalah. Itu adalah hak asasi manusia. Ya, haknya Amien Rais. Setiap manusia punya kebebasan memilih.

Ingin mengulang "prestasi" turut menumbangkan Soeharto dan Gus Dur, Amien Rais tampaknya rela melepaskan baju Muhammadiyah-nya.
 
Baginya, Jokowi harus turun meski tanpa sebab yang jelas, karena sampai sekarang rakyat tidak menemukan apa "dosa konstitusi" Jokowi.

Namun, Amien tampaknya tidak peduli. Dalam berbagai kesempatan -- apalagi saat berceramah di rumah ibadah -- ia berteriak bahwa pemerintahan Jokowi proasing dan aseng meskipun teriakan seperti ini sering membuat anak-anak kemarin sore tertawa ngakak.

Sayang memang Amien Rais tidak lagi punya kedudukan di lembaga formal. Namun, demi jihad politiknya, Amien rela berpanas-panasan dan berhujan-hujan menjadi anggota parlemen jalanan.

Ia pun rela berkomplot dengan pasukan tagar "2019 Ganti Presiden" yang diinisiasi dedengkot PKS, Mardani Ali Sera. Luar biasa, Amien pun berlatih dan melatih pasukannya untuk menyanyi lagu kebangsaannya yang baru, "2019 Ganti Presiden".

Demi ambisinya, sebagai doktor politik lulusan Amerika, Amien pun menemukan teori baru yaitu partai Allah dan partai setan di Indonesia.

Definisinya, partai Allah adalah partai yang berjuang demi kemaslahatan umat yang tergabung dalam Gerindra, PAN dan PKS. Partai setan adalah partai di luar ketiga partai itu. Amien Rais dengan teorinya memang luar biasa.

Kehebatan lain yang dimiliki Ketua Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni 212 itu adalah imannya yang sangat luar biasa. Ia mengatakan Presiden Joko Widodo akan menjadi pemimpin yang dilengserkan Allah. Alasannya, Jokowi telah melakukan salah langkah hingga melakukan blunder.

Saya yakin ia berbicara seperti itu adalah bagian dari "jihad" politiknya yang sudah berada di ubun-ubun kepalanya. Ia memastikan Allah akan melengserkan Jokowi.

Menurut dia, malaikat bakal membantu mewujudkannya. "Saya yakin sekali, memang ini (menunjuk foto Jokowi-JK) insyaallah tangan malaikat yang akan mengatur," ujar Amien.

Jangan tanya, salah langkah apa yang dilakukan Jokowi? Saya menduga, Jokowi sering melangkah ke daerah-daerah menemui rakyatnya dari Aceh hingga Papua.

Di mata Amien, Jokowi pasti salah langkah karena kakinya sering berlumpur-lumpur saat memantau proyek-proyek infrastruktur.

Masih menurut Amien (dugaan saya), Jokowi salah langkah karena kakinya sering menginjak masjid dan pesantren.

Salah langkah Jokowi seperti itulah yang membuat Amien Rais semakin percaya diri dan melakukan "jihad" politik.

Beberapa hari lalu, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional itu bahkan menyatakan siap menjadi pesaing Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019.

Dia mengaku banyak mendapat suntikan semangat dari berbagai pihak setelah Mahathir Mohammad menang dalam Pemilu Perdana Menteri Malaysia di usia 92 tahun.

Pada tahun 2019 nanti, usia Amien Rais baru 75 tahun. Jauh lebih muda daripada Mahathir. Amien dilahirkan di Surakarta pada 26 April 1944. Masih pantaslah kalau ia jadi presiden.

Semoga PAN nantinya mendapat dukungan dari Gerindra dan PKS. Ketiganya toh sama-sama kompak ikut bermain tagar "2019 Ganti Presiden". Kurang apa lagi?

Kembali ke ibu yang menyebut Amien Rais sekarang, kok, semakin menyeramkan. Apa sih yang menyeramkan?

Entah mengapa saya kok tiba-tiba jadi ingat saat saya berbincang-bincang dengan Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), Bagus Utomo, Februari lalu.

Skizofrenia, menurut Bagus, adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku.

Dalam hajatan politik seperti pilkada, pileg dan pilpres, menurut Bagus, banyak tokoh politik dan juga para pengikutnya yang mengalami halusinasi dan delusi.

Dalam pilkada DKI Jakarta tempo hari, masih menurut Bagus, banyak pendukung Ahok dan Anies yang mengalami gangguan kejiwaan, diawali dengan skizofrenia.

Lalu bagaimana skizofrenia di saat Pilpres 2019 digelar? Entahlah. Yang pasti saat Pilkada DKI digelar tahun lalu, Sandiaga Uno pernah mengatakan ada 20 persen warga Jakarta yang mengalami gangguan jiwa.

"Jadi di sini, di antara teman-teman kita, (misalnya) ada 10 orang, ada dua yang jiwanya terganggu, mungkin saya salah satunya," kata Sandi berkelakar di depan wartawan saat berada di Balai Kota DKI Jakarta.

Tolong, jangan kaitkan skizofrenia dan angka 20% yang diungkap Sandiaga dengan perilaku Amien Rais belakangan ini, sebab selain data tersebut belum tentu sahih, Amien Rais bukan warga Jakarta, tetapi Yogyakarta.

Saya sendiri, seperti halnya Presiden Jokowi, senang jika Amien mencalonkan diri jadi presiden.

"Saya kira sangat bagus untuk memberikan alternatif pilihan dalam rangka Pilpres ke depan. Saya kira ini sangat bagus," ujar Jokowi di Istana Presiden Bogor, Selasa (12/6).

Siapa tahu dalam kontestasi Pilpres 2019, Amien menang, sehingga ia tidak perlu menurunkan Jokowi di tengah jalan.

Impas sudah. Jika menang, ia tidak perlu memenuhi nazar yang tertunda berjalan kaki dari Yogyakarta ke Jakarta. Selamat berjuang, Mbah.(*)

BERITA TERKAIT