Kondom Bukan sekadar Pencegah Kehamilan


Penulis:  (Nik/H-1 - 13 June 2018, 01:30 WIB
img
THINKSTOCK

PENGGUNAAN kondom sebagai alat kontrasepsi masih sedikit jika dibandingkan dengan alat kontrasepsi lainnya. Data BKKBN 2016 menunjukkan, di antara sejumlah metode kontrasepsi, metode suntikan paling banyak dipakai dengan persentase 47,54%. Disusul pil 23,58% dan IUD atau spiral 11,07%. Adapun pemakaian kondom hanya 3,15%.

Padahal, dari sisi kesehatan, kondom punya kelebihan. Terutama kemampuannya dalam mencegah penularan HIV/Aids dan sejumlah penyakit infeksi menular seksual (IMS) lainnya.

"Kondom merupakan alat kontrasepsi yang nonhormonal, sangat efektif dan efisien, paling mudah didapat dengan harga terjangkau daripada alat kontrasepsi lainnya. Lebih dari itu, lanjutnya, kondom juga efektif mencegah penyakit menular seksual termasuk HIV," ujar Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan, Firman Santoso, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Manfaat itu, lanjut Firman, karena kondom mampu berperan sebagai barrier (penghalang) antaralat kelamin yang bisa mencegah kontak dengan darah, cairan sperma (semen), dan cairan vagina saat berhubungan seksual. "Dengan begitu, penularan IMS bisa dicegah. Karena di cairan-cairan itulah kuman seperti HIV dan penyebab IMS lainnya hidup."  

Selain HIV, lanjut Firman, berbagai penyakit IMS yang bisa dicegah dengan kondom antara lain, herpes kelamin, gonorrhoe, sifilis, klamidia, kutil kelamin, dan hepatitis B.

Hal senada juga diungkapkan Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan, Miranty Firmansyah. Ia menjelaskan, dengan pemakaian kondom, tidak ada kontak langsung antaralat kelamin. Dengan demikian, penyakit IMS yang penularannya melalui kontak antarkelamin bisa dicegah. "Dengan catatan tidak ada kebocoran."

Kemampuan mencegah penularan IMS itu tidak terdapat pada alat kontrasepsi lainnya. Sebab, kontak langsung antaralat kelamin tetap terjadi. "Jadi, kondom sangat disarankan untuk mereka yang berisiko tinggi tertular IMS, mereka yang membutuhkan kontrasepsi sementara/jangka pendek, juga yang membutuhkan kontrasepsi nonhormonal," imbuh dokter dari RS Gading Pluit, Jakarta itu.

Gencarkan edukasi
Terkait dengan stigma yang kerap mengaitkan kondom dengan seks bebas, Dokter Firman Santoso menjelaskan pola pikir tersebut harus diubah. "Kita tidak dapat memaksa orang untuk tidak berhubungan seksual, tapi kita bisa memberikan edukasi dan informasi tentang konsekuensinya serta bagaimana mereka bisa mencegah tertular dan menularkan IMS dengan memakai kondom," tuturnya.

Dokter yang berpraktik di Brawijaya Hospital, Jakarta, mencontohkan kisah sukses Jerman dalam menekan penularan HIV dan penyakit IMS lainnya. Salah satu kuncinya ialah edukasi seks secara benar sejak usia dini.

"Saya tinggal di Jerman selama 14 tahun untuk studi dan berpraktik di rumah sakit. Mereka melakukan edukasi seks pada anak-anak, juga memudahkan akses terhadap kondom seperti menyediakan mesin penjual kondom di restoran-restoran dan bioskop-bioskop," terangnya.

Selain stigma, ada pula anggapan keliru yang membuat pasangan enggan menggunakan kondom, yakni alat kontrasepsi tersebut dapat mengurangi kualitas hubungan seksual.

"Anggapan tersebut perlu diluruskan karena kondom memiliki ketebalan antara 0,05 hingga 0,02 milimeter sehingga tidak akan memengaruhi kualitas hubungan seksual."

Dalam rumah tangga, lanjutnya, penggunaan kondom juga membiasakan para suami untuk berperan lebih dalam pengendalian kelahiran. "Karena selama ini, kesadaran penggunaan alat kontr

asepsi titik beratnya ada pada kaum wanita," imbuh Firman. (Nik/H-1)

 

BERITA TERKAIT