Memaknai Idul Fitri dengan Nilai-Nilai Pluralisme


Penulis: Yulianti Muthmainnah Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Sekolah Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan Jakarta Jaringan KUPI dan KAICIID Indonesia Fellow - 13 June 2018, 01:00 WIB
img

SEBENTAR lagi kita menyambut hari kemenangan atau Idul Fitri. Idul Fitri yang secara bahasa berarti kembali suci, bersih, identik dengan banyak hal seperti mudik, silaturahim, dan saling bermaaf-maafan. Meminta maaf dan mengakui kesalahan serta berjanji tak akan mengulanginya lagi ialah puncak dari Ramadan dan pembuka Syawal. Artinya setiap orang akan kembali fitrah tanpa dosa atau salah seperti bayi baru dilahirkan. Lantas, apakah Idul Fitri dapat menjadi petanda bahwa konflik atau permusuhan akan berhenti ataukah masih berlangsung?

Konflik memang tidak bisa lepas dari kehidupan kita sebagai manusia. Ketidaksetujuan pada pendapat mayoritas, perebutan SDA, ketidakmerataan akses, ataupun tidak bisa berbagi atas tempat, ruang, dan waktu ialah faktor-faktor yang bisa memicu lahirnya konflik atau permusuhan. Bila dibumbui dengan isu agama, kondisi akan semakin buruk, berpotensi menimbulkan korban harta bahkan jiwa.

Sejarah mencatat, Perang Salib, konflik di Irlandia Utara (1969-1998), perpecahan dan lahirnya negara India, Pakistan, dan Bangladesh. Lalu, gerakan People Temple di Guyana (1970-an), gerakan Aum Shinrikyo pimpinan Asahara Shoko di Jepang (1990-an), gerakan David Koresh di Texas (1990-an), dan kejadian 9/11 di AS, maupun gerakan 212 di Jakarta tak lepas dari isu agama di dalamnya.  

Agama sejatinya jalan menuju Tuhan dengan cara cinta kasih dan sayang. Perbedaan cara pandang mestinya bukan alasan untuk saling bermusuhan apalagi memunculkan konflik, bila setiap umat agama memahami hakikat beragama. Sebagaimana firman Allah SWT bilamana berbeda pendapat dalam hal penyembahan Tuhan YME hendaknya disampaikan dengan cara santun tanpa kekerasan (QS Al-Ankabut: 46).

Perbedaan suku, bangsa, dan agama merupakan sunatullah, sebuah keniscayaan. Allah SWT bisa saja menciptakan manusia secara tunggal (QS Al-Ma'idah: 48). Namun, ia tidak melakukannya, agar manusia saling mengenal dan saling bekerja sama (QS Al-Hujurat: 10 dan QS 49: 135). Sebagaimana bukti kemahabesaran Allah menciptakan langit dan bumi serta keragaman bahasa dan warna kulit antarmanusia sebagai sebuah pelajaran (QS Al-Ruum: 22).

Allah SWT juga berpesan agar perbedaan cara pandang bukanlah alasan untuk menciptakan perselisihan, memunculkan kebencian pada orang lain, atau enggan mewujudkan keadilan sesama manusia (QS Al-Ma'idah: 8). Apalagi saling mengolok-olok atau memanggil dengan panggilan buruk layaknya memakan bangkai saudaranya sendiri (QS Al-Hujurat: 11-12). Itu sebabnya, manusia dituntut saling berlomba-lomba dalam kebaikan atau ber-fashtabiqul khairot (QS Al-Ma'idah: 48).

KH Husein Muhammad dalam 'Mengaji Pluralisme Kepada Mahaguru Pencerahan', mengatakan nilai-nilai dasar universal seperti kesetaraan (al-musawah), kebebasan (al-hurriyyah), keadilan (al-'adalah), toleransi (al-tasamuh), persatuan (al-ittihad), persaudaraan (al-ukhuwwah) dan kepentingan publik (al-mashalih al-'ammah) penting menjadi indikator dari pemaknaan pluralisme seseorang.

Selain pesan pluralisme, Alquran juga sarat dengan kesetaraan gender seperti memperlakukan perempuan sejajar dengan laki-laki. Diawali dengan penegasan bahwa perempuan bukan dari tulang rusuk laki-laki, persamaan penciptaan asal-usul manusia (khalaqoqum min nafsin wa' hidah) (QS An-Nisa': 1). Persamaan beban dan tanggung jawab mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan thayyibab) dengan melakukan kerja-kerja positif (man 'amalan sholihan min dzakari wa unsa) (QS An-Nahl: 97).

Kesetaraan perempuan dan laki-laki di hadapan Allah kecuali takwa yang membedakannya (innakholaknakum min dzakari wa unsa...innna akrokum 'indallahi atqokum) (QS Al-Hujurat: 13). Dan, persamaan penghargaan di hadapan Allah (a'addallahu lahum magfirotun wa ajrun 'adziman) (QS Al-Ahzab: 35). Karena Allah SWT-lah yang berhak menentukan siapa yang dinilai saleh, takwa, dan beriman, bukan manusia yang menghakimi manusia lainnya.

Peran ulama perempuan
Begitu indah pesan-pesan Allah SWT dalam Alquran. Lalu, bagaimana pesan ini bisa diturunkan dan disebarluaskan? Itulah peran penting seorang ulama. Salah satunya ulama perempuan, mereka memiliki otoritas untuk menyebarluaskan pesan-pesan pluralisme dan kesetaraan gender Alquran pada semesta.

Ulama perempuan tersebut ialah Umi Hanisah, seorang ulama perempuan asal Meulaboh, provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Ummi, demikian panggilan baginya, seorang pemimpin dayah (pesantren) yang mengkhususkan untuk perlindungan bagi anak-anak miskin, anak-anak korban KDRT, ataupun kekerasan terhadap perempuan lainnya.

Pesan pluralisme dan kesetaraan gender dalam Islam, ia terjemahkan dengan memberikan perlindungan bagi perempuan dari golongan dan kelompok mana pun tanpa memandang suku agama. Ummi sering menolong istri korban KDRT beragama nonmuslim, memproses kasusnya, penggalang dana sebagai transportasi bila korban ingin pulang ke Medan, melindungi anak perempuan korban incest, ataupun anak-anak korban konflik Aceh dan Tsunami sejak 2000.

Di pesantrennya, anak-anak dayah mendapatkan ilmu pengetahuan agama dan pengetahuan umum lainnya. Agar kelak mereka bisa bangkit menjadi survivor. Beberapa di antaranya bahkan mendapat kesempatan beasiswa ke luar negeri atau melanjutkan kuliah di Banda Aceh. Baginya, Teungku (di Aceh, ulama disebut Teungku) sejati ialah Teungku (ulama) yang berada di garda depan membela dan menolong perempuan korban, bukanlah Teungku (ulama) namanya bila menyalahkan perempuan korban.

Berbeda dengan Ummi, karena saya tidak memiliki pesantren, sebagai Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), yang bisa saya lakukan ialah menyampaikan pesan pluralisme dan kesetaraan gender dalam Islam melalui pembelajaran di kampus, diskusi-diskusi, ataupun pengajian-pengajian di komunitas. Saya meyakini bahwa Islam ialah agama perdamaian. Islam untuk kelompok musthadafin, agama yang membela hak-hak kelompok yang tertindas, kelompok marginal, dan kelompok lemah. Inilah makna Idul Fitri yang sebenarnya.

 

BERITA TERKAIT