Kota Pintar Libatkan Seluruh Masyarakat


Penulis: Ghani Nurcahyadi - 12 June 2018, 01:00 WIB
img
Ilustrasi

PENGEMBANGAN kota pintar (smart city) bukan hanya menjadi domain pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Peran seluruh lapisan masyarakat pun dituntut agar mereka bisa turut membangun ekosistem kota pintar. Salah satunya ialah dari aspek penataan dan pembangunan perkotaan.

Hal itu terungkap dalam diskusi bertajuk Perencanaan Kota di Era Digital yang digelar Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) DKI Jakarta di Jakarta, Rabu (6/6). Ketua IAP DKI Jakarta Dhani Muttaqin mengatakan, salah satu sarana pelibatan masyarakat tersebut ialah platform digital yang menampilkan perencanaan kota.

Di DKI Jakarta, platform tersebut terakomodasi dalam Jakarta City Planning Gallery (JCPG) yang menampilkan bentuk visual perencanaan Kota Jakarta dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, telah diluncurkan aplikasi BERiDE akhir Mei lalu untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan kota.

"Masyarakat biasanya lebih tahu dan paham mengenai kebutuhan daerahnya. Karena itu, mereka juga perlu dilibatkan dalam pembangunan kota. Namun, bukan berarti prosesnya tanpa seleksi. Kerja sama kami dengan BERiDE akan menyeleksi desain yang layak dan bisa dikembangkan dalam pembangunan kota," kata Dhani.

Meski tergolong baru, Dhani berharap platform BERiDE yang bisa diakses melalui internet maupun aplikasi selular bisa menjadi pionir dalam menampung ide kreatif masyarakat dalam pembangunan kota. Ide yang tertampung dalam BERiDE pun bukan hanya bisa dimanfaatkan pemerintah daerah, melainkan juga pihak swasta dan komunitas.

Pendiri BERiDE, M Arszandi Pratama, mengatakan platform tersebut dikembangkan secara mandiri dan sudah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia menambahkan, berbeda dengan Qlue yang lebih dulu muncul dan menampung keluhan masyarakat, BERiDE muncul sebagai wadah masyarakat menuangkan idenya untuk pembangunan kota. "Kami siap untuk memulai mengambil ide dari masyarakat, melakukan kurasi, dan memilih ide terbaik untuk kemudian diserahkan kepada Pemprov DKI dan beberapa pihak terkait lainnya dalam hal perencanaan kota. Tidak semua masyarakat memang bisa menggunakan ini karena dibutuhkan desain dan inovasi yang selaras dengan pembangunan kota," ujarnya.

Ke depan, BERiDE dan IAP juga akan terus mengembangkan aplikasi tersebut agar bisa dimanfaatkan kota lain di Indonesia supaya ekosistem kota pintar bisa menyebar ke seluruh Tanah Air, "Model pengembangannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah," tutur Arszandi.

Teknologi properti
Ekosistem kota pintar yang semakin berkembang, terutama di wilayah Asia Pasifik, mendorong konsultan properti Jones Lang Lasalle meluncurkan inisiatif pendanaan baru bagi usaha rintisan di bidang properti. Inisiatif bernama JLL Spark Global Venture Fund itu siap mengucurkan dana A$100 juta.

"Asia Pasifik adalah rumah bagi kota-kota pintar terkemuka di dunia, banyak di antaranya didukung oleh alat-alat realestat berteknologi tinggi. JLL berkomitmen mengembangkan generasi baru properti teknologi dan mempromosikan Asia-Pasifik sebagai pusat inovasi untuk realestat," kata Mihir Shah, Co-CEO JLL Spark dalam keterangan persnya.

Pendanaan JLL Spark akan fokus pada perusahaan yang memanfaatkan teknologi dalam bidang realestat dari aspek pengembangan, manajemen, penyewaan, investasi, dan pengalaman penghuni. Pendanaan ini bisa berbentuk pendanaan awal (Seri A) hingga pendanaan tingkat lanjut.

"Pendanaan ini memberi kami kesempatan untuk bekerja sama dengan wirausahawan lokal dan global yang dapat memanfaatkan sumber daya dari lini bisnis JLL untuk mengembangkan perusahaan mereka," tandas Shah. (S-1)

 

BERITA TERKAIT