Maknai Jihad secara Kontekstual


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 10 June 2018, 04:20 WIB
KH Cholil Nafis---Ist
KH Cholil Nafis---Ist

JIHAD sejatinya dilakukan  untuk menegakkan dan memperjuangkan suatu tujuan. Namun, pengertiannya kerap dipandang sebatas berperang dan membunuh. Oleh karena itu, umat Islam perlu memaknai jihad secara utuh dan kontekstual.

“Jihad itu tidak selalu artinya membunuh. Perang tidak harus membunuh. Ini yang banyak disalahpahami orang, bahwa jihad selalu artinya membunuh,” kata Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis dalam kajian Ramadan yang digelar di Masjid Nursiah Daud Paloh di kompleks Media Group, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, sebagian orang selalu mengasumsikan jihad dengan perang dan perang diasumsikan dengan membunuh. Padahal, makna jihad sebenarnya ialah melawan sesuatu yang menghambat tujuan yang hendak dicapai.

Makna perang pun tidak selalu harus dikaitkan dengan perang fisik. Misalnya, perang terhadap kemiskinan dan perang terhadap kebodohan. Dalam konteks kekinian, terang Cholil, jihad yang hakiki ialah jihad dalam hal pendidikan, ekonomi, dan politik. Sebabnya, pada konteks situasi saat ini, umat Islam ada dalam posisi aman, tidak lagi dizalimi atau diserang seperti era Nabi Muhammad SAW.

“Dalam kondisi aman seperti sekarang, tidak harus membunuh. Dalam konteks sekarang ialah jihad pendidikan, ekonomi, dan politik. Misalnya, bagaimana umat islam bersatu membangun kreativitas ekonomi,” jelasnya.

Pandangan mengenai jihad bersumber dari Surah Al Hajj khususnya ayat 39-40. Dalam ayat 39 dikatakan, ‘Diizinkan (berperang) kepada mereka yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar menolong mereka itu’.
Secara istilah, kata Cholil, jihad memiliki definisi mengeluarkan seluruh upaya dalam rangka menciptakan suasana lingkungan masyarakat yang islami, kemudian, untuk menegakkan, menjunjung, dan menerapkan syariat Allah di alam semesta ini.

“Pertama adalah menciptakan lingkungan islami dimulai dari diri sendiri. Kita jangan berharap orang lain bisa islami tanpa kita hidup islami. Jangan sampai orang mengerti Islam dan sementara kita tidak ngerti Islam.”


Empat tahapan

Yang dimaksud dengan syariat Allah, papar Cholil, ialah semua yang tertuang dalam Alquran dan hadis, antara lain salat dan puasa.

Menurutnya, syariat sudah diterapkan di Indonesia dalam arti tidak ada yang melarang dan mencegah umat Islam untuk melaksanakan syariat seperti salat dan puasa. “Bicara syariat sayangnya melulu soal hukum. Misalnya potong tangan bagi yang mencuri. Padahal itu wilayah fikih,” ujarnya.

Cholil menambahkan, soal jihad, para ulama menetapkan ada sejumlah tahapan. Yang pertama dan utama ialah jihad pada diri sendiri. Perang yang lebih besar ialah perang terhadap diri sendiri, yakni perang terhadap hawa nafsu.

Jihad kepada diri sendiri salah satunya ialah berjihad ilmu. Umat Islam perlu terus-menerus mengisi pikiran dengan ilmu yang berpegang pada Alquran dan hadis. “Kedua ialah jihad melawan setan, yakni setan yang ada pada orang lain maupun pada diri sendiri. Seperti melawan rasa malas atau pun melawan kejahatan seperti korupsi. Yang terakhir ialah jihad melawan orang, yakni orang kafir dan orang munafik,” jelasnya. (H-1)

BERITA TERKAIT