Mas Bro, Mari Murah


Penulis: Dony Tjiptonugroho Redaktur Bahasa Media Indonesia - 10 June 2018, 03:00 WIB
img
MI/Adam Dwi

LANGKAH saya menuju tempat istirahat setelah selesai salat Tarawih di Masjid Nabawi, Madinah, hampir saja terhenti karena ada sapaan kepada saya, familier, tetapi terasa asing. “Mas Bro, mari murah.”

Saya tersenyum karena kemudian menyadari bahwa yang menyapa saya ialah seorang pemuda Arab penjaga toko pakaian di ruko yang saya lewati. Maksudnya meng ajak saya mampir karena ada dagangan berharga murah. Saya tidak berhenti karena sedang tidak minat belanja baju. Namun, sapaan itu tetap berbekas dalam benak saya.

Sapaan itu mengingatkan saya bahwa di negeri yang asing bagi saya ini, bahasa negara saya, Indonesia, bukanlah bahasa yang sepenuhnya asing bagi sebagian warga negeri itu. Itu tentu dapat dimafhumi.  Arab dengan Mekah dan Madinah di dalamnya terhubung erat dengan Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim. Muslim akan menuju Mekah untuk berhaji dan berumrah.

Dalam rangkaian ibadah itu ada waktu berziarah ke Madinah tempat makam Rasulullah berada. Hubungan itu berpengaruh pada cara pandang sebagian penduduk kedua negara. Untuk orang Indonesia, mata uang riyal bukan hal asing, sedangkan buat orang Arab, bahasa Indonesia lumrah untuk diakrabi. Keakraban itu makin kental terlihat pada saudagar Arab.

Bagi para pedagang Arab, bahasa Indonesia ialah salah satu lingua franca yang harus diketahui agar bisnis berjalan lebih lancar. Dewasa ini dengan maraknya umrah yang mendatangkan banyak orang dengan frekuensi lebih tinggi, perdagangan yang terkait dengan buah tangan dan barang-barang untuk menunjang aktivitas sehari-hari kian intensif.

Di pihak pedagang Arab, itu jadi peluang yang sayang untuk dilewatkan. Karena itu, bukan cuma bahasa Indonesia, hal-hal yang terkait dengan konsumen Indonesia turut dilirik. Singkatnya, know your customer, kenali pelangganmu. Mereka mengetahui juga hiburan yang digemari di Indonesia.

Itu tampak ketika beberapa orang Indonesia memasuki sebuah toko, perempuan di toko itu menyambut dengan ujaran unik, “Indonesia! Ha, Ayu Tingting.” Respons pengunjung membuatnya lebih semangat. Pengunjung pun tidak malu-malu untuk menawar separuh harga, SRls50 ditawar SRls25. “Dua puluh lima riyal? Aduh! Sakitnya tuh di sini,” ujarnya sambil menunjuk dada kirinya, mengeks presikan keberatannya.

Namun, penerapan yang cenderung bergantung pada bentuk percakapan menimbulkan kekeliruan dalam hal lain. Bentuk tulis, misalnya. Di Jeddah saya melihat toko yang mencantumkan kalimat berbahasa Indonesia ‘Kami Terbuka’ di bawah kalimat berbahasa Inggris ‘We are Open’. Ada pula larangan tertempel di pintu kaca toko ‘Pintu -- Di Larang Duduk’. Kekeliruan berbahasa yang ditemui di Indonesia bisa juga dijumpai di Arab.

Penerapan kata depan di yang ditulis terpisah dari kata sesudahnya dan awalan di- yang membentuk verba pasif dan digabung dengan kata berikutnya masih tertukar. Perbaiki, Mas Bro!

BERITA TERKAIT