Politik Kalap


Penulis: Ono Sarwono - 10 June 2018, 02:40 WIB
MI
MI

TAMPAKNYA, di antara medan uji yang valid terhadap kesejatian diri seseorang bila mereka dipersentuhkan dengan kekuasaan, bukan ketika sedang berkuasa, melainkan baru pada saat bagaimana mereka berusaha mendapatkan kekuasaan, wajah asli mereka sudah dapat diketahui.

Lihatlah jagat politik di negeri ini kini. Tidak sedikit elite (tokoh) yang sebelumnya tampak jiwa kenegarawanannya serta integritasnya terhadap keindonesiaan, tapi langsung terungkap belangnya begitu kepincut kekuasaan. Mereka bahkan kalap bak monster.

Sekali lagi, ini baru pada tahap melangkah merebut kekuasaan. Jadi, bisa dibayangkan, bagaimana bila mereka sudah berkuasa. Bukanlah tidak mungkin, sepak terjangnya akan lebih ngawur daripada apa yang disabdakan Lord Acton yang melegenda, yakni power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely.


Pedepokan Sokalima

Dalam dunia wayang, perilaku kalap akibat bersentuhan dengan kekuasaan dicontohkan pada diri Suyudana alias Duryudana. Padahal, ia trah tokoh suci Abiyasa, manusia langka yang diidolakan seluruh penghuni jagat.

Namun, nyatanya itu bukan jaminan turunannya alim. Duryudana mabuk kepayang kekuasaan hingga sampai lupa diri dan tidak terkontrol ambisinya. Bahkan, ‘wataknya’ itu abadi hingga ajal konyol menjemputnya.

Sebenarnya sejak kecil Duryudana dan adik-adiknya, keluarga Kurawa, ialah anak-anak yang baik seperti halnya saudara sepupu mereka, keluarga Pandawa. Mereka lahir dan tumbuh bersama di lingkungan sama, Istana Astina. Dua keluarga itu pun hidup rukun dan saling menyayangi.

Kurawa yang berjumlah 100 orang ialah putra Drestarastra, anak sulung Raja Astina Prabu Kresnadwipayana (Abiyasa). Sementara itu, Pandawa yang berjumlah lima orang ialah putra Pandu Dewanata, adik Drestarastra. Mereka para generasi penerus Astina.

Resi Bhisma, ahli waris asli takhta Astina, yang peduli akan masa depan negara, berinisiatif mempersiapkan mereka (Kurawa dan Pandawa) menjadi kesatria-kesatria unggul. Di tangan para cucu-cucunya itu nanti diharapkan Astina lebih gemilang di masa depan.

Bhisma mencari dan menyeleksi sejumlah guru. Ia kemudian menjatuhkan pilihan kepada Bambang Kumbayana dari Negara Atasangin yang kelak kondang bernama Begawan Durna. Kepadanya, Bhisma memasrahkan Kurawa dan Pandawa agar di-gulawentah menjadi para kesatria mumpuni.

Untuk kepentingan itu, negara mengucurkan anggaran tak terbatas serta memberikan wilayah Sokalima kepada Durna untuk dijadikan pedepokan. Di sanalah, Kurawa dan Pandawa digembleng dengan berbagai ilmu. Bukan hanya kanuragan (kesaktian), melainkan juga kebatinan.

Namun, impian Bhisma berantakan. Ini gara-gara Sengkuni, paman Kurawa, yang ikut campur tangan. Setiap hari, secara diam-diam, Sengkuni meracuni Kurawa dengan membiuskan kekuasaan, khususnya kepada yang sulung, Duryudana. Ia hasut keponakannya itu bahwa Kurawa-lah yang berhak mutlak atas takhta Astina, bukan Pandawa.

Sengkuni, yang berkewargaan Plasajenar, mengabdi di Astina mengikuti kakaknya, Gendari (ibu Kurawa), yang dipersunting Drestarastra. Gendari-lah yang mendorong Sengkuni berkreasi agar Duryudana menjadi raja di Astina.


Membasmi Pandawa

Virus yang terus-menerus diinjeksikan Sengkuni itu membuat Kurawa tidak konsentrasi belajar, buyar. Mereka terpikat dengan kekuasaan hingga akhirnya muncul bibit-bibit kebencian kepada Pandawa. Puncaknya, mereka ingin segera mengenyahkan adik sepupunya itu dari muka bumi demi memuluskan nafsunya menggenggam kekuasaan.

Aksi kalap Kurawa yang diarsiteki Sengkuni dimulai ketika Durna menggelar ujian murid-muridnya yang dilabeli Pendadaran Siswa Sokalima. Panggung uji yang semula dijadikan sarana mengukur sejauh mana ilmu yang telah diajarkan terserap murid-muridnya, berubah menjadi ajang baku hantam serius Kurawa-Pandawa yang mengancam jiwa.

Gelanggang ujian itu diniatkan Kurawa untuk menghabisi Pandawa. Namun, ternyata Pandawa yang unggul. Malah, bila tidak dilerai Durna, Kurawa yang akan menjadi korban Pandawa yang pintar menggunakan senjata.

Memang, lewat kelicikan Sengkuni, Duryudana pada akhirnya menduduki singgasana Astina. Sengkuni memanfaatkan momentum ‘kekosongan’ kepemimpinan Astina ketika Prabu Pandu Dewanata--pengganti Kresnadwipayana--gugur.

Sengkuni memengaruhi Drestarastra--yang dititipi takhta oleh Pandu hingga Pandawa dewasa--dengan akal bulusnya. Maka, dengan gampang pula kakak iparnya itu memberikan takhta Astina, yang mestinya hak Pandawa, kepada putranya sendiri, Duryudana.

Kekuasaan yang digenggam itulah yang kemudian terus dipertahankan. Sengkuni yang mendampingi Duryudana senantiasa melakukan manuver kejam membasmi Pandawa demi kelanggengan kekuasaan. Namun, dewa masih melindungi Pandawa hingga selamat.

Setelah kasus di Sokalima, Kurawa berulang kali melakukan upaya pembunuhan terhadap Pandawa. Yang paling menggiriskan ialah ketika pembumihangusan pondokan Pandawa yang dikenal dengan lakon Bale Sigala-gala. Upaya keji itu gagal total.

Berikutnya, aksi pembasmian Pandawa lewat skenario permainan dadu yang penuh tipu muslihat. Akibat kalah, Pandawa harus menjalani hukuman pembuangan selama 12 tahun di Hutan Kamyaka. Setelah itu, Pandawa mesti melakukan hidup menyamar selama satu tahun.

Berdasarkan aturan yang dibuat sepihak oleh Kurawa, bila dalam penyamaran itu keberadaan Pandawa diketahui, mereka harus menjalani hukuman dari awal. Namun, Puntadewa dan keempat adiknya, Werkudara, Arjuna serta Nakula dan Sadewa, mulus melewati itu semua.
Duryudana juga berulang kali berkoalisi dengan para resi gadungan serta raja-raja dari negara lain untuk menyirnakan Pandawa dengan imbal balik. Tapi, upaya itu juga selalu kandas.


Jangan jadi Duryudana

Begitulah sosok Duryudana (Kurawa) setelah bersentuhan dengan kekuasaan. Ia menjadi kalap dan tega bertindak bengis kepada darah dagingnya sendiri, Pandawa. Kekuasaan telah membuat buta mata hatinya dan memandang Pandawa sebagai musuh yang harus dilenyapkan.

Duryudana benar-benar terbius kekuasaan. Ia merebut dengan segala cara dan kemudian mempertahankan dengan segala upaya pula, tidak peduli itu melanggar norma-norma kemanusiaan. Inilah yang pada akhirnya malah membuatnya mati konyol di Kurusetra dalam perang Bharatayuda.

Dalam konteks kebangsaan, janganlah di antara kita (elite) menjadi Duryudana-Duryudana. Kekuasaan jangan dijadikan segala-galanya sehingga harus dikejar hingga lupa diri alias kalap. Pengabdian pada bangsa dan negara bukan hanya kekuasaan gelanggangnya. Masih banyak tersedia panggung lain yang mulia dan luhur. (M-2)

BERITA TERKAIT